Tampilkan postingan dengan label wsatcc. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wsatcc. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 November 2014

Kisah Sang Penyusup: Perjalanan ke RRRecFest in the Valley

Panggung Rumpun Bambu, asap dari api unggun, dan penonton yang mengenakan mantol hujan warna-warni


Di awal November ini, saya jadi percaya bahwa kita tidak akan tahu di mana dan bersama siapa kita menghabiskan waktu. Sore itu saya sedang duduk di rerumputan Tanakita, Sukabumi. Di depan saya sedang bermain Backwood Sun, band keren yang saya belum pernah tonton sebelumnya. Di sebelah saya ada teman-teman saya, Wednes Mandra dan Judha Herdanta (sering dipanggil Tempe) dari Rabu yang baru saja selesai sound check, juga Adelina Maryam yang hadir untuk meliput. Kami sedang berada di RRRec Fest in the Valley!

Semua teman saya tahu bahwa saya ingin sekali nonton RRRec Fest 2014. Kemah 3 hari  di lereng Gunung Gde Pangrango sambil nonton band-band cutting edge terbaik di Indonesia! Sayang sekali harganya terlalu mahal buat saya yang pengangguran ini. Jadi sebenarnya saya sudah ikhlas dan menyetem hati untuk bersikap biasa saja setiap kali Komikazer bikin gambar lucu untuk iklan RRRec Fest di instagram, atau kalau Natasha Abigail mengetwit update-update terbaru tentang festival itu, atau kalau Rabu mengunggah panduan tali temali pramuka untuk persiapan kemah mereka nanti. 

Tanpa disangka, Wok the Rock menghibahkan tiket kereta dan free pass-nya sebagai pendamping Rabu di detik-detik terakhir. Pagi tanggal 31, saya, yang sedang santai nyuci baju sambil mikirin mau malem mingguan sama siapa, langsung panik dan jungkir balik setelah diwatsap bahwa saya bisa berangkat sore itu juga ke Jakarta. Benar saja, beberapa jam kemudian saya sudah berada di dalam kereta Gajah Wong bersama Wednes, Tempe, dan Ojie Adrianto dari Rabu. Bersama kami ada juga rombongan Seroja yang terdiri dari Rully Shabara, Sony Irawan, Satya Prapanca, dan Yoga Supeno; serta Adel yang mendapat kursi di gerbong lain. Kami akan bergabung dengan Haninditya, istri mas Sony, di Jakarta. Semua janjian saya untuk akhir minggu itu dibatalkan. Tidak pakai persiapan matang. Tidak pakai pikir panjang.

Kurang dari 24 jam kemudian, saya naik bus dari Ruru ke Tanakita bersama serombongan selebriti cutting edge yang selalu saya hadiri panggungnya kalau mereka tour ke Jogja. Ada yang aneh ketika tiba-tiba subjek-subjek mengagumkan menjadi begitu dekat, misalnya ketika saya dapat kesempatan naik bus bareng idola dan saya tidak peduli karena terlalu mengantuk, mereka menjadi sama seperti teman-teman sekelas yang berisik dalam bus studi wisata.

Memang hal teristimewa yang ditawarkan RRRec Fest adalah bahwa kamu bisa melakukan hal-hal remeh bareng orang-orang yang kamu kagumi. Twit Keke Tumbuan @melancholico "WOW! Gwe sarapan bareng @wsatcc sebelum mandi!" menjadi terlalu benar ketika kamu digodain Saleh Husein sambil antri nasi uduk di warung deket Ruru. Atau ketika kamu bikin kopi sama Popie Pandai Besi. Atau kamu mengintai tendanya Ramayana Soul supaya bisa mandi duluan di sebuah kamar mandi absurd di tengah hutan. Atau ketika kamu joget di panggungnya White Shoes bareng Monica Hapsari yang goyang-goyang sambil makan bakso. Atau ketika kamu berbagi alas duduk sama Yudhis Jirapah sambil nonton Pandai Besi. Atau ketika kamu tiduran di rumput, pura-pura nonton Liyana Fizi padahal kamu ngeliatin Natasha Abigail dan Dimas Ario pacaran dengan so sweet-nya.

Maka nonton Backwood Sun bersama Wednes, Tempe, dan Adel sambil minum kopi bandung dan kue pancong bertabur gula yang dijual warga lokal di sekitar lembah adalah salah satu momen menyenangkan yang patut diingat-ingat bersama kenangan-kenangan lainnya. Sayang Wednes dan Tempe harus kembali ke tenda kami di tengah hutan. Kurang tidur dan lelah setelah mengangkut gitar naik turun bukit, mereka mau istirahat dulu supaya tampil maksimal selepas maghrib nanti.

Bangkutaman naik panggung setelah Backwood Sun. Mas Acum, yang sejak dari Jakarta sudah ribut bawa-bawa sebuket bunga, dengan ceria mendekor ulang panggung di bawah rumpun bambu itu dengan bunga-bunga ungu dan kuning. Sisanya dilemparkan ke penonton. Hujan mulai rintik-rintik saat mereka menyanyikan lagu pembuka. Akhirnya manusia-manusia yang tadinya menonton dengan santai sambil gelesotan di rumput harus berdiri dan mendekati panggung supaya tidak kehujanan. Sebagian sudah memakai jas hujan warna-warni, berjoget sambil mengibas-ngibaskan bunga di tangan. Di tengah pertunjukan, hujan turun terlalu deras. Band berhenti. Semuanya berteduh di panggung. Tidak berapa lama, hujan berhenti, maka band main lagi.

Memang tidak salah pergi ke tempat terisolir untuk nonton band-band-an dengan santai. Kalau hujan ya berhenti, kalau hujan berhenti ya main lagi. Penonton yang membayar tiket tampaknya tidak terlalu banyak, namun sepertinya itu bukan ukuran keberhasilan festival seperti ini. Demografi penonton terdiri dari mereka yang membeli tiket, para artis pengisi acara dan kru-nya, serta para panitia. Lapangan Tanakita itu tidak padat disesaki manusia, tapi wajah-wajah gembira tersebar di mana-mana.

Setelah Bangkutaman, ada Ramayana Soul yang super, duper seksi disusul Ari Reda yang hampir terlampau manis sampai bisa bikin diabetes. Sore itu Ari Reda adalah duo bapak ibu yang menyanyikan syair-syair Sapardi Joko Damono di sebuah panggung yang berbentuk seperti dangau di bawah pohon jengkol. Panggung itu bertengger di pucuk lereng, membelakangi lembah hijau dan matahari tenggelam. Seperti itu lah yang namanya Perfect Situation!

Rabu juga mendapat tempat di Panggung Pohon Jengkol. Tampil selepas Pandai Besi mengakhiri penampilan mereka di Panggung Rumpun Bambu, Wednes dan Tempe membuka pertunjukan mereka dengan "Dru" disusul "Baung". Penonton yang bertebaran di atas rumput di depan mereka menikmati pertunjukan itu disela bau dupa samar-samar yang memang telah mereka tancapkan di area penonton. Entah mengapa saya ikut senang kalau penonton termakan gimmick-gimmick Rabu yang sudah sangat saya hafal. Misalnya, "Minum dulu ya. Haus e."-nya Wednes yang kalau nyanyi suaranya ngebass tapi kalau ngomong medhoknya ga bisa disembunyikan (dan sepertinya memang tidak pernah berusaha disembunyikan). Atau ketika dia mengantar lagu "Kereta Terakhir" dengan kalimat andalannya "Lagu ini tentang kewaspadaan berlalu lintas." lalu penonton pelan-pelan tergelak ketika Wednes dan Tempe mengawali komposisi instrumental yang sangat liris dengan bunyi bel palang kereta do-mi-re-sol-sol-re-mi-do yang familiar di seluruh Indonesia.

"Ah manis banget..." gumam seorang penonton yang gelesotan di depan saya saat mereka menyuguhkan "Telaga Kasih" sebagai lagu terakhir. "Dah," kata Wednes sambil melambaikan tangan saat mereka selesai. "Lagi! Lagi!"seru semua orang. "Udah, Nggak punya. Nggak ada."kata Wednes datar sambil melambaikan tangan dan memberesi gitarnya, "Maaf ya." Orang-orang ini pun tergelitik. Ada yang mengherankan dari Wednes dan Tempe, bukan sekedar karena keluguan mereka, namun juga karena anak-anak ini terlihat begitu tidak pedulian, tanpa ekspresi, tanpa keinginan untuk tampil kece seperti yang lain. Mereka tidak bisa diremehkan semata-mata karena mereka tidak mengejar kekerenan itu sendiri. Rabu satu-satunya band di RRRec Fest yang tidak memberikan encore walau penonton memintanya.

Maka pelan-pelan kami beranjak ke Panggung Rumpun Bambu yang terletak beberapa ratus meter ke kanan untuk menyaksikan Jirapah. Momen paling seru malam itu juga terjadi di Panggung Rumpun Bambu. Pure Saturday diplot sebagai pungkasan, namun apa daya hujan deras malah turun. "Semuanya ke atas panggung aja. Naik aja ke atas panggung."kata Iyok. Jadi kami, penonton, naik ke atas panggung dan menyaksikan Pure Saturday dari jarak yang amat sangat dekat. Seperti menonton teman latihan di studio dan sempit. Tidak berapa lama, hujan menjadi terlalu deras sehingga panggung harus dimatikan. Lampu juga dimatikan. Tapi tak apa, karena basis Pure Saturday mengambil gitar akustik dan kami semua menyanyikan "Kosong" bersama-sama, diiringi sebuah gitar bolong yang suaranya saja ditenggelamkan deru hujan.

Setelah hujan agak reda, saya kembali ke tenda kami di tengah hutan. Di dalam, Wednes dan Tempe sudah tidur berdempetan seperti anak kembar. Saya menggelar sleeping bag tebal yang sudah disiapkan panitia di pojok seberang mereka. Malam itu saya tidur di dalam sebuah tenda yang didera rintik gerimis, di tengah hutan, setelah lelah bermain dan puas menonton band-band kesukaan saya.

***
Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang hari kedua kecuali bahwa kami sama senangnya dengan ketika pertama kali menginjak Tanakita. Malah lebih santai karena Rabu sudah main, sehingga tinggal satu band lagi dari rombongan kami yang bertugas.

Paginya kami sarapan indomie di warung milik warga lokal di pinggir hutan karena letaknya lebih dekat daripada tenda sarapan di puncak bukit sebelah. Warung itu harganya fluktuatif, sebotol aqua bisa dihargai seribu perak kalau dibayar gabung dengan makanan lain, tapi empat ribu perak kalau dibeli sendiri. Tapi tetap enak karena orang Jawa Barat emang paling jago masak indomie buat sarapan.

Hari itu diawali dengan pertunjukan dari Seroja. Band ini sangat baru dan Panggung Pohon Jengkol RRRec Fest yang fantastis ini menjadi panggung pertama mereka. Tapi karena projek ini unik dan digawangi orang-orang ampuh, mereka pun lolos kurasi Indra Ameng. Seroja di RRRec Fest kemarin adalah Rully Shabara, Sony Irawan, Yoga Supeno, dan Satya Prapanca mengenakan pakaian muslim menyanyikan lagu-lagu Melayu eksperimental. Lucu sekali melihat mereka yang biasanya panas dan buka-buka baju di atas panggung, sekali ini manggung dengan baju rapi. Saya paling suka saat mereka menyanyikan lagu Melayu "Seroja" yang ternyata menjadi asal muasal nama meraka.

Setelah itu kami menyebar; belanja baju dan merchandise di Ruru Shop dan Kamengski, nonton Liyana Fizi dan Voyagers of Icarie (a super awesome band from Monica and Popie, my favorite Pandai Besi personels!), nonton White Shoes sambil hujan-hujan, lalu nonton Kazuhisa Uchihasi duet sama mas Rully. Rangkaian acara pun selesai dan kami harus pulang.

Senang sekali bisa menyusup ke RRRec Fest in the Valley. Mungkin ini salah satu acara paling keren yang pernah saya tonton. Makasih banyak mas Wowok untuk durian runtuhnya. Makasih mas Rully, mas Panca, mas Sony, mas Ojie, mas Yoga, mba Ditya, Tempe, Wednes, dan Adel untuk tiga hari yang super menyenangkan.


Di bawah ini adalah foto-foto yang diabadikan Dek Adel saat kami sedang di sana.



Tetangga Pak Gesang yang lucu. Sayang manggungnya di sela kami makan siang, jadi nontonnya sambil hectic makan ikan jambal dan sambel kecombrang.



Backwood Sun, nggerus kayak Fleet Foxes



tahukah kalian orang paling keren di Bangkutaman adalah keyboardisnya!





salah satu yang saya pelajari di RRRecfest adalah kamu ga perlu jadi front man supaya jadi awesome. Mas keyboardisnya Bangkutaman ini keren banget di atas panggung karena dia sangat percaya dengan apa yang dia nyanyikan.  

Ari Reda di Panggung Pohon Jengkol

Arie Dagink dan T Shirt official RRRecFest

Ramayana Soul. Sexy to the bone.

ada salah satu lagu Ramayana Souls yang berjudul Mawar Batu. Mungkin mereka sangat suka sama The Stone Roses. Lagu itu salah satu yang paling saya nikmati dari penampilan mereka.

Bang basis idola saya dari Pandai Besi

duo vokalis idola saya juga dari Pandai Besi

Rabu di Panggung Pohon Jengkol

begitu manggung aja macak cool. padalah pas cekson jerit-jerit gegara digigit semut, hahaha.

"Panggilan dari Gunung" oleh Iwan Fals adalah manuver kover mengkover yang efektif sekali, bosku


Wednes dan Tempe foto bareng penggemar berat

yang tengah itu Raka Ibrahim

Seroja

benar. itu bass eug.



di satu lagu, Seroja mengkaryakan beberapa penonton untuk ikut memainkan tetabuhan



Voyageurs of Icarie, my new LOVE!

Poppie Airil dan Monica Hapsari, dua personel favorit dari dua band favorit

Liyana Fizi, yang sudah memenuhi KKM cewe keren versi kurikulumnya Mas Rully Sabhara


haeee mas ale!

haeeee mba sari!




ditutup oleh Kazu, musisi eksperimental dari Jepang
foto-foto oleh Adelina Maryam

Kamis, 15 Agustus 2013

MENGOBROL KESANA-KEMARI DENGAN WSATCC: LAGU-LAGU DAERAH, LOKANANTA, TUR EROPA, PAK PRESIDEN, DAN NASIONALISME


DSC_1927
Selepas pertunjukkan mendadak yang mereka adakan di Momento Café dan dibantu oleh media KANALTIGAPULUH, AreaXYZ dan Alldint, Minggu sore (16/6) kemarin, para personel White Shoes and the Couples Company terlihat bersantai sambil mengobrol dengan sahabat-sahabat mereka dari Jogja. Masih mengenakan kostum panggungnya, Saleh bin Husein, Yusmario Farabi, dan Aprilia Apsari dengan ramah menerima kami bergabung dan menjawab beberapa pertanyaan dari Komang Adhyatma dan Gisela Swaragita.
Pertama-tama mereka menceritakan tentang kenapa mereka tiba-tiba ingin manggung di Jogja. Kata Husein mereka baru saja pentas di sebuah pensi di Semarang. “Karena Semarang dan Jogja deket, jadi kita pengen sekalian. Kita dibantu sama temen-temen Jogja, ada Risky (Summerbee), ada Domi juga… mas Erwin, Doni dari RSTH juga. Karena mendadak jadi alatnya seadanya. Tapi bisa seneng-seneng bareng dan ngumpul. Itu aja sih yang penting.”ungkap Husein.
Ketika ditanya tentang penonton yang baru saja menyaksikan mereka, mereka menjawab “Penontonnya agak diem sih. Mungkin karena… tempatnya lebih ke café gitu kali ya.” kata Sari. Penonton pertunjukkan tersebut memang tidak banyak walau tiketnya sold out karena kapasitas venue yang tidak luas. Tetap saja mereka antusias ketika mengomentari band-band Jogja yang baru saja manggung. Secara khusus mereka memuji Aurette and the Polska Seeking Carnival yang menurut mereka “… Menarik, seru, banyak instrumennya dan (personelnya) bisa ganti-gantian (instrumen). Beda dari biasanya.” Ujar Husein.
Kebetulan gigs ini adalah gigs kedua setelah mereka pulang dari tur Eropa di mana mereka diundang untuk bermain di World Village Festival di Finlandia. Mereka menjelaskan bahwa mereka diundang bersama band-band yang sedang happening dari seluruh dunia. Di sana mereka bermain bersama band-band papan atas dari Afrika, Mongolia, Portugal, Korea, China, dan banyak lagi. Tak ingin pergi ke Eropa hanya untuk satu acara, mereka sekalian mencari promotor-promotor acara di beberapa kota di Eropa sehingga mereka bisa manggung di Copenhagen, Stockholm, dan Berlin.
Yang menarik adalah ketika sedang di Stockholm, Swedia, mereka bertemu dan bersalaman dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Peristiwa itu sempat membuat ramai dunia maya karena disebutkan dalam akun twitter resmi SBY. Mereka menjelaskan bahwa saat itu kebetulan hotel yang mereka inapi bersebelahan dengan hotel rombongan kepresidenan. “Kebetulan kita lewat dan pas ada rame orang Indonesia di jalan. Ternyata ada SBY. Lalu kita penasaran, di Indonesia belum pernah ketemu sama Presiden.”kata Husein. Ternyata staff presiden sendiri yang mendatangi rombongan WSATCC dan mengundang mereka bersalaman dengan orang nomor satu di RI itu. “Yang lebih penting itu ketemu Ibu Ani, men!” kata Rio dan Husein berkelakar.
Rio, Husein, dan Sari juga bercerita tentang mini album “Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah” yang mereka luncurkan tepat sebelum tur Eropa tersebut. Menurut mereka, konsep unik mini album ini didasari keinginan mereka untuk mempopulerkan lagu-lagu daerah. “Dulu semua musisi pasti punya lagu daerah di album mereka. Lagu daerah dulu banyak banget direkam. Tapi sekarang udah enggak ada yang kayak gitu. Kalau ada pun jarang. Akhirnya kita coba bawakan lagu-lagu daerah yang jarang didengar orang, tapi yang kita suka. Lagu daerah kan penting. Anak-anak sekarang kan taunya cuma lagu-lagu yang ada di TV. Alangkah baiknya kalau band-band yang ada di TV itu juga membawakan lagu-lagu daerah. Semoga kita bisa jadi triggernya. Inginnya lagu-lagu daerah bisa mendapat tempat yang sama dengan lagu-lagu lain.”kata Husein. Tentang royalti lagu, WSATCC tetap meminta izin kepada pencipta lagu yang mereka mainkan. Namun ada juga lagu-lagu yang sudah menjadi public domain, sudah menjadi milik rakyat tanpa diketahui siapa penciptanya sehingga bisa langsung mereka bawakan tanpa harus repot dengan birokrasi.
Tentang pelafalan lagu-lagu berlirik bahasa daerah, mereka mengatakan bahwa lidah orang Indonesia itu paling pandai menyerap bahasa dan menyesuaikan lafal. Sari tinggal mendengarkan lagu-lagu tersebut dan menirukan lafalnya, jadi tidak ada banyak kendala dalam hal itu. Dalam proses pembuatan mini album tersebut mereka menggarap kurang lebih 10 lagu daerah sebelum disaring dan dikemas dalalam mini album berisi lima track. “Ada dua lagu Maluku di sini. Bukan karena Maluku-nya, tapi ya karena kita suka sama lagunya dan senang mengaransemennya.” Kata Rio dan Husein.
Kenapa tidak ada lagu berbahasa Jawa? Kan bahasa Jawa adalah bahasa daerah yang akrab dengan banyak orang Indonesia?
“Kami udah coba bawain lagu berbahasa Jawa, tapi masih kurang sreg. Belum nyaman kita bawain.”kata Rio. “Iya kemaren jadinya malah kayak ngelawak. Ntar malah dikira ngeledek. ”kata Husein. “Udah, biar orang-orangnya aja yang Jawa. Lagunya gak usah.”tambahnya sambil tertawa.
Husein, Sari, dan Rio juga mengatakan bahwa 1000 keping mini album yang beredar saat ini adalah edisi khusus yang tidak akan dicetak ulang. Yang membuatnya unik adalah bonus poster dan kartu pos dengan foto-foto karya Anggun Priambodo yang memotret mereka saat rekaman di Lokananta. Walau demikian, kelima lagu dalam mini album tersebut akan dikemas ulang dalam paket ’reguler’ yang bisa dicetak tanpa batasan jumlah, namun tanpa bonus kartu pos dan poster.
Ketika ditanya tentang kesan mereka rekaman di Lokananta, mereka dengan bersemangat bercerita tentang studio musik bersejarah itu. Menurut mereka, rekaman di Lokananta adalah cita-cita pribadi yang yang baru terwujud setelah ada ide untuk merekam lagu-lagu daerah. “Merupakan kebanggaan tersendiri bagi WSATCC bisa rekaman di studio musik bersejarah di Indonesia. Keinginan untuk rekaman di Lokananta muncul sebelum kita punya ide untuk rekaman lagu-lagu daerah. Pokoknya kita mesti rekaman di Lokananta, men. Diusahakanlah gimana caranya harus rekaman di sini.”kata Husein.
“Dulu di Lokananta kan banyak juga lagu-lagu daerah direkam,”timpal Rio, “Ada banyak musisi yang rekaman di Lokananta juga. Dari lagu pop, keroncong, gamelan segala macem… semuanya rekaman di Lokananta. Kita juga harus rekamanan di situ. Dan sedihnya sekarang udah banyak yang lupa juga sama Lokananta. Orang Solo aja taunya itu tempat futsal, bukan tempat rekaman. Subsidi dari pemerintah juga sudah diputus. Terlepas dari gerakan ‘Save Lokananta’ ya ini, kita harus tau bahwa Lokananta itu aset. Dia punya nilai sejarah yang oke di ranah musik Indonesia. Sayangnya anak muda di Indonesia sekarang udah gak tau sejarah musik Indonesia. Udah gak peduli.”
Rio mengajak kita untuk melihat pengarsipan sejarah musik di luar negeri yang jauh lebih baik daripada di Indonesia. “Kalau di luar negeri kamu cari tahu tentang musik mereka di tahun 60an, misalnya, pasti ada (datanya).”
Husein berpendapat bahwa gerakan ‘Save Lokananta’ yang sedang ramai itu harus menggapai lebih jauh daripada sekedar mempopulerkan kembali studio musik lawas itu. Gerakan itu harus fokus pada sistem di dalam pengarsipan sejarah musik dan di dalam badan usaha Lokananta sendiri. “Yang harus diberesin tuh bukan populernya. Kalo udah populer, habis itu apa? Yang lebih penting sekarang itu seperti bikin workshop untuk pegawainya, gimana caranya biar lebih menarik anak-anak mudanya… misalnya bikin website, promo, bikin acara… itu yang lebih penting.” Menurut Husein, memperbaiki sistem di dalam lebih penting daripada bergantung pada bantuan dari luar. Menurutnya, bantuan dari luar tidak akan berlangsung selamanya. Panjangnya umur Lokananta tergantung dari beres tidaknya sistem di dalam studio itu sendiri.
Keriaan mereka dalam merekam lagu-lagu daerah dan keinginan mereka untuk ikut melestarikan studio musik epik di Indonesia tersebut membuat mereka lekat dengan ide nasionalisme. Apalagi mereka mulai merekam album tersebut pada tanggal 28 Oktober, di hari Sumpah Pemuda, dan merilis album tersebut pada tanggal 20 Mei, tepat di hari Kebangkitan Nasional. Ketika ditanya perihal tanggal-tanggal tersebut, Husein malah terkejut. “Saya malah baru tahu dari kamu kalau kita ngerilisnya pas hari Kebangkitan Nasional,”ujarnya sambil terbahak, “Kita itu nggak ada yang ngerti tanggal. Kamu tanya saya hari ini hari apa pun saya ga tau,”katanya yang diamini Rio dan Sari. Menurut mereka tanggal tersebut murni kebetulan. “Waktu itu kita rencana rilis hari Minggu tanggal 19. Tapi malam minggunya kita habis manggung di Puncak, dan pulang Minggu pagi. Kalau Minggu langsung rilis bisa tipes kita!”ujar Rio. Akhirnya release party tersebut diundur jadi Senin, 20 Mei yang bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional tersebut. “Dan kita buru-buru ngerilis soalnya Rabu-nya kita berangkat (ke Eropa). Kita ingin bawa materi yang baru di sana.”
“Jadi tanggal itu murni kebetulan, kita gak ada intensi apa-apa. Kita gak demen yang gitu-gitu, ngepasin tanggal segala macam. Nasionalis itu bukan kayak gitu caranya. Semu itu mah! ‘I Love RI’ apalah… segala macem, itu cuma sekedar jargon. Mau jelek, mau bagus, tetep aja jadi orang Indonesia.” kata Husein. “Nasionalis itu apa yang kamu lakuin, apa yang kamu seneng. Ya itu nasionalis.”
Di akhir sesi wawancara tersebut, Rio sempat meminta CD demo Summer in Vienna, band yang juga menjadi pembuka di acara sore itu, pada personelnya yang ikut mengobrol. “Walau udah ada soundcloud, segala macem, kamu harus punya rilisan fisik. Ada duit, langsung rilis. Rilisan fisik itu penting banget.”pesannya pada band-band yang baru merintis petualangan bermusik mereka. (Gis)
Photo: Komang Adhyatma
Diterbitkan oleh KANALTIGAPULUH, 17 Juni 2013