Tampilkan postingan dengan label report. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label report. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2015

Tiga Aksi Eksperimental Paling Menarik di Jogja Saat Ini

projek Raung Jagat milik Rully Shabara,
salah satu projek eksperimental high profile yang belum lama ini ditampilkan di Kedai Kebun Forum


Jika mendengar kata kunci “musik eksperimental” dan “Jogja”, mungkin kita akan langsung kepikiran Zoo, Senyawa, atau projek-projeknya Rully Shabara lainnya. Bisa juga kita langsung kepikiran Instrument Builders Project atau Jogja Noise Bombing sebagai kolektif yang mewadahi anak-anak yang suka bebunyian aneh dan alat-alat musik nggak umum di kota ini. Mungkin istimewanya skena musik Jogja adalah bahwa di sini kita bisa mendengarkan yang lebih aneh dari yang teraneh. Bahkan kategori eksperimental nominasi ICEMA 2014 didominasi oleh band-band Jogja, diantaranya Wirok, Sabarbar, Slarong, dan Zoo.

Musik eksperimental memang bukan musik “nuttella” yang bisa bikin semua orang seneng. Sejujurnya saya juga tidak terlalu suka musik eksperimental. Saya tidak pernah mendengarkan rilisan-rilisan eksperimental di rumah sambil mengerjakan PR, misalnya (salah satu fungsi utama musik buat saya adalah buat nemenin ngerjain PR). Ekstrimnya, ada juga anti-hipster yang menganggap karya-karya eksperimental sebagai “...a pathetic attempt to cut the edge by doing something un-understandable”. Bahkan kalau kita mengacu ke Urban Dictionary, arti kata “experimental” adalah “...another way of saying it sucks.”

Saya tidak sepakat dengan definisinya Urban Dictionary di atas, tapi tidak bisa dipungkiri gigs eksperimental dan noise sering kali membosankan. Performans yang terdiri dari satu dua orang memutar-mutar kenop efek pedal, atau bebunyian instrumen mutan,  tidak bisa membuat saya berkontemplasi. Tapi, namanya juga musik eksperimental. Setiap kali saya datang ke gigs seperti itu, pasti ada hasil eksperimen yang saya tonton sambil bengong saking kerennya.
Di bawah ini adalah tiga unit eksperimental Jogja yang penampilannya di line up membuat sebuah gig pantas didatangi.

1. Chika dan Pistol Air

Chika dan Pistol Air di Cellsbutton, Mei 2014


Ketika pertama kali mendengar ada band bernama Chika dan Pistol Air, saya langsung membayangkan band “female fronted melodic punk with sad boys” yang menyanyikan lagu-lagu tentang main skateboard dan bolos sekolah. Saya tidak tahu kalau Chika dan Pistol Air ternyata adalah duo elektronik mahasiswa seni rupa yang sudah bosan kuliah tapi masih senang menggambar.

Muhammad Chika dan Kahfi Eska Yusac memainkan lagu-lagu upbeat dengan lirik-lirik singkat tapi menghantam, seperti “PATIL MAUT! SEKALI PATIL LANGSUNG MANUT!”, “JANGAN KAU MENATAPKU, AKU TAK MEMBAWA MASA DEPANMU!”, “YANG DICARI SELALU HILANG, YANG DITUNGGU TAK PERNAH DATANG!”. Mungkin karena mereka mahasiswa DKV, mereka pintar memaksimalkan efektifitas fungsi kata-kata sehingga sebaris kalimat saja sudah bisa menjadi senjata branding yang ampuh. Lirik yang paling diingat masyarakat mungkin “KAMU JAHAT SAMA AKU SAMA DEDEK!” . Lirik itu begitu mengena, sampai-sampai ada orang yang belum pernah nonton Chika dan Pistol Air tapi sudah familiar dengan kalimat itu.

Akhir-akhir ini Chika dan Pistol Air mengawali pertunjukannya dengan sabda ini, “AKU DATANG DARI DIMENSI KELIMA. AKU ADALAH DIRIMU YANG MATI.... AKU KAN MENCARIMU DAN MEMBUNUHMU.” Menyanyikan lirik itu, salah satu dari mereka (seringnya Kahfi) akan berbaring di lantai panggung dan personel satunya (seringnya Chika) menginjak kepalanya. Setelah itu mereka akan berdiri dan melonjak-lonjak ke sekeliling ruangan. Pernah sekali Kahfi naik ke atas subwoofer lalu melakukan crowdsurfing sementara crowd itu sendiri tidak ada. Hasilnya dia jatuh ke lantai pavling block yang keras, tapi dia tidak mengaduh dan terus menyanyi sementara kita yang nonton bengong sambil terbelalak. “Gile,”pikir saya waktu itu, “Mau ngeband aja susah amat yak. Paitannya begini banget.”

Pertama kali menonton duo ini di Bingo DIY, mereka membuka pertunjukan dengan “Patil Maut”. Mereka naik panggung dengan serombongan anak-anak ISI lainnya yang menarikan tarian “Patil Maut” (sudah ada tutorialnya di youtube). Mereka berdua mengenakan topeng garong dan tampil sangat ekspresif. Sekarang topeng garong dan tarian “Patil Maut” itu sudah tidak pernah dikenakan lagi, tapi mereka tetap amat ekspresif dan meledak-ledak.

Chika dan Pistol Air sangat unik dibanding unit-unit elektronik “two dudes with a macbook” lainnya. Chika, menurut saya, sering bertanggung jawab di bagain melodinya. Dia mendesain musiknya, memainkan gitar dan keyboard, dan menyanyikan part-part yang melodius. Kahfi, sebaliknya, menjadi wajah yang garang dengan stage-act yang menohok. Nyanyiannya kerap kali berupa pekikan-pekikan galak yang mengajak kita memekik bersama.

Sayangnya Chika dan Pistol Air belum punya rilisan. Materi digital mereka yang bisa diakses di internet hanya satu track live di soundcloud dan video-video dokumentasi pertunjukan mereka yang seringnya pembukaan pameran teman-teman sendiri. Tapi untuk ukuran band yang belum punya rilisan, mereka cukup sukses membuat audiens hapal lagu-lagu mereka sehingga bisa diajak nyanyi bersama.


Kelas Tutorial Patil Maut (bagian yang menarik ada di bagian tengah sampai selesai):



Hasil dari Kelas Tutorial Patil Maut:





2. Sabarbar





Kalau kamu familiar dengan Kultivasi dan Asangata, pasti kamu kenal dengan Akbar Adi Wibowo. Dia adalah anak muda pendiam berambut panjang berkeriapan yang ekspresi wajahnya sukar ditebak. Seingat saya, saya belum pernah lihat Akbar tertawa lepas, marah-marah, atau menunjukkan ekspresi lainnya. Tapi dia punya jaket beremblem Multivision Plus, menunjukkan level selera humornya yang ternyata melebihi raut wajah. Akbar pernah tampil bersama Rabu, menaburi panggung dengan bunga sesajen sebelum Wednes dan Tempe naik pentas. Dia juga seorang Wota, sehingga tidak heran kalau akun instagramnya penuh foto-foto gadis kawaii yang ia akui sebagai “mamanya anak-anak”. Selama beberapa bulan, Akbar juga bekerja sebagai waiter di cafe pancake super imut di daerah Sagan. Saya pernah main ke cafe itu sambil berharap mendapat pengalaman ngafe cantik. Ternyata yang mengambil pesanan saya adalah pemuda gondrong bertampang tidak pedulian yang adalah Akbar. “Halo, Mbak Gisa,”sapanya tanpa tersenyum, “Mau pesen apa?”

Sabarbar adalah projek solonya Akbar yang dilabeli genre Freak-Folk/Blues (kadang-kadang Brutal Blues). Dengan Sabarbar, Akbar menyanyi dengan suaranya yang berat dan seram ditemani gitar elektrik, kadang-kadang dengan sepotong sikat gigi atau sebuah handphone.

Saya pertama kali menonton Sabarbar di gigs launchingnya Warning Magz di Fisipol UGM. Di situ saya puas tertawa ngakak gara-gara lirik lagu-lagunya yang wagu tapi lucu. Misalnya, “Hey nona-nona, kemarilah. Hey nona-nona, kemarilah. Aku tampan, dermawan, dan juga mapan, ayo kita kencan.” Ada juga trilogi lagu tentang tiga perempuan yang saling bersahabat, Loreta, Cynthia, dan Deborah. Selain itu ada juga lagu tentang fans Paramita Rusady, pesinetron idola di tahun 90-an.

Selain lagu-lagu dengan lirik keseharian yang dibikin ngeselin karena dinyanyikan dengan suara yang berat dan ekspresi yang datar, Sabarbar juga membuat lirik berbau metafisika seperti, “Menggunakan alat mandi sebagai alat komunikasi: sabun jadi handphone.” Lagu inilah yang membuat Sabarbar masuk nominasi ICEMA. Di gigsnya Warning Magz waktu itu, Akbar menyanyikan lagu ini sambil mengulum sikat gigi berbusa odol. Gimmicknya yang lain adalah karaokean dengan mp3 lagunya sendiri yang disimpan di dalam handphone. Trik ini digunakan di lagu pungkasan waktu Lelagu#13, di mana dia menyanyikan “Radio. Video. Berakhir dengan huruf ‘O’.” Alasannya, “Saya lupa sama kunci (gitar)nya, jadi saya karaokean aja ya.”

Sabarbar, menurut saya, adalah satu paket pertunjukan yang sangat unik. Lirik-lirik absurd, nada asal-asalan, gimmick-gimmick tidak terduga, raut wajah datar, dan kepribadian Akbar sendiri yang tidak biasa membuat Sabarbar layak ditonton di setiap penampilannya. Sayang, karena kekuatan Sabarbar paling besar ada di liriknya, Akbar harus dikasih sound yang oke supaya kata-katanya terdengar jelas. Hal-hal seperti ini seringkali luput di gigs-gigsnya Sabarbar yang kebanyakan berskala kecil.
Selain pertunjukannya, rekaman-rekaman Sabarbar juga layak didengarkan (asal jangan lama-lama dan di-repeat sering-sering, nanti gila). Tiga EPnya bisa diunduh gratis via Ear Alert Records, yaitu Gitu Apa Ya Aduh Kak Aku Jadi Pusing (2013), Do Re Mi(e Ayam) Fa Sol La Si Do (2013), dan Aku akan Bersabar & Trilogi Tiga Sekawan (2012). Album “Terror Seekor Naga Mengerikan!” dirilis secara fisik oleh A Room with a View.







 3. Palasick



Menurut cerita rakyat Minangkabau, ada orang-orang yang berilmu hitam tinggi dan bisa berubah wujud menjadi makhluk halus. Ketika bergentayangan, makhluk halus ini gemar makan balita, bayi, janin dalam kandungan, bahkan mayat bayi yang sudah dikubur. Makhluk ini berwujud kepala yang melayang-layang dengan usus terburai bergelantungan dari lehernya. Makhluk halus ini disebut pelesit, atau palasik dalam lafal yang berbeda.

Hilman Fathoni, mahasiswa Hukum UGM keturunan Pakistan yang menetap di Jogja, mengadaptasi cerita itu dan menjadikannya bungkus karya eksperimentalnya. Palasick adalah Hilman yang menggunakan berbagai macam properti; dari batang-batang besi, mikrofon, hingga tubuhnya sendiri, untuk membuat pertunjukan yang sakit, gila, dan emosional. Kekuatan bunyi Palasick, menurut saya, adalah di permainan vokalnya. Mungkin selain Rully Shabara, hanya Hilman di Jogja yang main eksperimentasi pakai vokal. Tapi tidak seperti Rully, Hilman masih pakai berbagai efek elektronik untuk membuat vokalnya mengeluarkan gerutuk-gerutuk seram dan ambiens embuh yang lumayan bikin stress. Palasick biasanya main di gigs noise, dan seperti unit noise kebanyakan, dia tidak main perlagu. Sesi pertunjukan Palasick biasanya bebunyian menyebalkan selama beberapa puluh menit, yang diproduksi dengan gestur tubuh yang mengerikan dan hampir memuakkan. Setiap pertunjukannya sukses membuat saya tercabik antara muak dan terpana, efek yang sama seperti kalau saya nonton film slasher.

Terakhir kali menonton Palasick adalah gigs noise beberapa hari lalu di Warkop Jocmart. Saat itu Hilman mengenakan kaos kuning cerah, celana pendek, dan sandal santai, asyik mengobrol sambil minum susu putih. Berbeda dengan Akbar, Hilman anaknya banyak senyum, sering ketawa, dan suka ngobrol. Biasa saja, seperti anak muda kebanyakan.

Namun ketika berada di wilayah panggung, dia menjadi pribadi yang berbeda. Malam itu dia berteriak-teriak, melolong-lolong, memukul-mukul dan membeliakkan mata. Puncaknya dia memasukkan mikrofon ke dalam mulutnya dan terus mengaduh-aduh sambil kejang-kejang. Hanya sedikit yang hadir di warung kopi kecil itu, tapi semuanya terpaku menonton Hilman dan tingkahnya yang tidak wajar.

Aksi Palasick yang menurut saya juga keren adalah waktu dia main di Yesnoklub awal tahun ini. Dia mengumandangkan ayat-ayat Al-Qur’an dan memukul-mukulkan mikrofon ke dahinya sendiri. Saat pertunjukannya selesai, dahi Hilman memar-memar parah dan baru sembuh setelah beberapa hari. “Wah gawat nih, Hilman ga boleh terkenal,”ujar Satya Prapanca waktu itu, “Kalau terkenal dan manggung terus, bisa bego dia.”

Selain punya Palasick, Hilman juga punya netlabel Ear AlertRecords yang sering merilis rekaman-rekaman noise dan eksperimental. Dia punya projek pengarsipan gigs dalam bentuk video bernama Bioskop Semut Gajah. Selain itu dia juga sedang menulis skripsi tentang undang-undang hak cipta dalam kaitannya dengan Creative Common Liscense dan netlabel.



NB: sangat sulit mencari video dokumentasi Palasick seperti yang dimainkan Hilman belakangan ini. Di atas ini adalah video-video Palasick beberapa tahun lalu. Memang berbeda, namun ini adalah cikal bakal apa yang ditampilkan Hilman di sekarang.

***


Ketiga unit eksperimental yang saya tulis di atas ini memang bukan mereka yang mewakili wajah skena eksperimental Jogja di mata dunia. Mereka main di gigs-gigs kecil di berbagai tempat aneh di kota yang miskin venue ini. Namun, untuk ukuran saya ketiganya sudah layak dikejar setiap pertunjukannya.


Jumat, 28 November 2014

Kisah Sang Penyusup: Perjalanan ke RRRecFest in the Valley

Panggung Rumpun Bambu, asap dari api unggun, dan penonton yang mengenakan mantol hujan warna-warni


Di awal November ini, saya jadi percaya bahwa kita tidak akan tahu di mana dan bersama siapa kita menghabiskan waktu. Sore itu saya sedang duduk di rerumputan Tanakita, Sukabumi. Di depan saya sedang bermain Backwood Sun, band keren yang saya belum pernah tonton sebelumnya. Di sebelah saya ada teman-teman saya, Wednes Mandra dan Judha Herdanta (sering dipanggil Tempe) dari Rabu yang baru saja selesai sound check, juga Adelina Maryam yang hadir untuk meliput. Kami sedang berada di RRRec Fest in the Valley!

Semua teman saya tahu bahwa saya ingin sekali nonton RRRec Fest 2014. Kemah 3 hari  di lereng Gunung Gde Pangrango sambil nonton band-band cutting edge terbaik di Indonesia! Sayang sekali harganya terlalu mahal buat saya yang pengangguran ini. Jadi sebenarnya saya sudah ikhlas dan menyetem hati untuk bersikap biasa saja setiap kali Komikazer bikin gambar lucu untuk iklan RRRec Fest di instagram, atau kalau Natasha Abigail mengetwit update-update terbaru tentang festival itu, atau kalau Rabu mengunggah panduan tali temali pramuka untuk persiapan kemah mereka nanti. 

Tanpa disangka, Wok the Rock menghibahkan tiket kereta dan free pass-nya sebagai pendamping Rabu di detik-detik terakhir. Pagi tanggal 31, saya, yang sedang santai nyuci baju sambil mikirin mau malem mingguan sama siapa, langsung panik dan jungkir balik setelah diwatsap bahwa saya bisa berangkat sore itu juga ke Jakarta. Benar saja, beberapa jam kemudian saya sudah berada di dalam kereta Gajah Wong bersama Wednes, Tempe, dan Ojie Adrianto dari Rabu. Bersama kami ada juga rombongan Seroja yang terdiri dari Rully Shabara, Sony Irawan, Satya Prapanca, dan Yoga Supeno; serta Adel yang mendapat kursi di gerbong lain. Kami akan bergabung dengan Haninditya, istri mas Sony, di Jakarta. Semua janjian saya untuk akhir minggu itu dibatalkan. Tidak pakai persiapan matang. Tidak pakai pikir panjang.

Kurang dari 24 jam kemudian, saya naik bus dari Ruru ke Tanakita bersama serombongan selebriti cutting edge yang selalu saya hadiri panggungnya kalau mereka tour ke Jogja. Ada yang aneh ketika tiba-tiba subjek-subjek mengagumkan menjadi begitu dekat, misalnya ketika saya dapat kesempatan naik bus bareng idola dan saya tidak peduli karena terlalu mengantuk, mereka menjadi sama seperti teman-teman sekelas yang berisik dalam bus studi wisata.

Memang hal teristimewa yang ditawarkan RRRec Fest adalah bahwa kamu bisa melakukan hal-hal remeh bareng orang-orang yang kamu kagumi. Twit Keke Tumbuan @melancholico "WOW! Gwe sarapan bareng @wsatcc sebelum mandi!" menjadi terlalu benar ketika kamu digodain Saleh Husein sambil antri nasi uduk di warung deket Ruru. Atau ketika kamu bikin kopi sama Popie Pandai Besi. Atau kamu mengintai tendanya Ramayana Soul supaya bisa mandi duluan di sebuah kamar mandi absurd di tengah hutan. Atau ketika kamu joget di panggungnya White Shoes bareng Monica Hapsari yang goyang-goyang sambil makan bakso. Atau ketika kamu berbagi alas duduk sama Yudhis Jirapah sambil nonton Pandai Besi. Atau ketika kamu tiduran di rumput, pura-pura nonton Liyana Fizi padahal kamu ngeliatin Natasha Abigail dan Dimas Ario pacaran dengan so sweet-nya.

Maka nonton Backwood Sun bersama Wednes, Tempe, dan Adel sambil minum kopi bandung dan kue pancong bertabur gula yang dijual warga lokal di sekitar lembah adalah salah satu momen menyenangkan yang patut diingat-ingat bersama kenangan-kenangan lainnya. Sayang Wednes dan Tempe harus kembali ke tenda kami di tengah hutan. Kurang tidur dan lelah setelah mengangkut gitar naik turun bukit, mereka mau istirahat dulu supaya tampil maksimal selepas maghrib nanti.

Bangkutaman naik panggung setelah Backwood Sun. Mas Acum, yang sejak dari Jakarta sudah ribut bawa-bawa sebuket bunga, dengan ceria mendekor ulang panggung di bawah rumpun bambu itu dengan bunga-bunga ungu dan kuning. Sisanya dilemparkan ke penonton. Hujan mulai rintik-rintik saat mereka menyanyikan lagu pembuka. Akhirnya manusia-manusia yang tadinya menonton dengan santai sambil gelesotan di rumput harus berdiri dan mendekati panggung supaya tidak kehujanan. Sebagian sudah memakai jas hujan warna-warni, berjoget sambil mengibas-ngibaskan bunga di tangan. Di tengah pertunjukan, hujan turun terlalu deras. Band berhenti. Semuanya berteduh di panggung. Tidak berapa lama, hujan berhenti, maka band main lagi.

Memang tidak salah pergi ke tempat terisolir untuk nonton band-band-an dengan santai. Kalau hujan ya berhenti, kalau hujan berhenti ya main lagi. Penonton yang membayar tiket tampaknya tidak terlalu banyak, namun sepertinya itu bukan ukuran keberhasilan festival seperti ini. Demografi penonton terdiri dari mereka yang membeli tiket, para artis pengisi acara dan kru-nya, serta para panitia. Lapangan Tanakita itu tidak padat disesaki manusia, tapi wajah-wajah gembira tersebar di mana-mana.

Setelah Bangkutaman, ada Ramayana Soul yang super, duper seksi disusul Ari Reda yang hampir terlampau manis sampai bisa bikin diabetes. Sore itu Ari Reda adalah duo bapak ibu yang menyanyikan syair-syair Sapardi Joko Damono di sebuah panggung yang berbentuk seperti dangau di bawah pohon jengkol. Panggung itu bertengger di pucuk lereng, membelakangi lembah hijau dan matahari tenggelam. Seperti itu lah yang namanya Perfect Situation!

Rabu juga mendapat tempat di Panggung Pohon Jengkol. Tampil selepas Pandai Besi mengakhiri penampilan mereka di Panggung Rumpun Bambu, Wednes dan Tempe membuka pertunjukan mereka dengan "Dru" disusul "Baung". Penonton yang bertebaran di atas rumput di depan mereka menikmati pertunjukan itu disela bau dupa samar-samar yang memang telah mereka tancapkan di area penonton. Entah mengapa saya ikut senang kalau penonton termakan gimmick-gimmick Rabu yang sudah sangat saya hafal. Misalnya, "Minum dulu ya. Haus e."-nya Wednes yang kalau nyanyi suaranya ngebass tapi kalau ngomong medhoknya ga bisa disembunyikan (dan sepertinya memang tidak pernah berusaha disembunyikan). Atau ketika dia mengantar lagu "Kereta Terakhir" dengan kalimat andalannya "Lagu ini tentang kewaspadaan berlalu lintas." lalu penonton pelan-pelan tergelak ketika Wednes dan Tempe mengawali komposisi instrumental yang sangat liris dengan bunyi bel palang kereta do-mi-re-sol-sol-re-mi-do yang familiar di seluruh Indonesia.

"Ah manis banget..." gumam seorang penonton yang gelesotan di depan saya saat mereka menyuguhkan "Telaga Kasih" sebagai lagu terakhir. "Dah," kata Wednes sambil melambaikan tangan saat mereka selesai. "Lagi! Lagi!"seru semua orang. "Udah, Nggak punya. Nggak ada."kata Wednes datar sambil melambaikan tangan dan memberesi gitarnya, "Maaf ya." Orang-orang ini pun tergelitik. Ada yang mengherankan dari Wednes dan Tempe, bukan sekedar karena keluguan mereka, namun juga karena anak-anak ini terlihat begitu tidak pedulian, tanpa ekspresi, tanpa keinginan untuk tampil kece seperti yang lain. Mereka tidak bisa diremehkan semata-mata karena mereka tidak mengejar kekerenan itu sendiri. Rabu satu-satunya band di RRRec Fest yang tidak memberikan encore walau penonton memintanya.

Maka pelan-pelan kami beranjak ke Panggung Rumpun Bambu yang terletak beberapa ratus meter ke kanan untuk menyaksikan Jirapah. Momen paling seru malam itu juga terjadi di Panggung Rumpun Bambu. Pure Saturday diplot sebagai pungkasan, namun apa daya hujan deras malah turun. "Semuanya ke atas panggung aja. Naik aja ke atas panggung."kata Iyok. Jadi kami, penonton, naik ke atas panggung dan menyaksikan Pure Saturday dari jarak yang amat sangat dekat. Seperti menonton teman latihan di studio dan sempit. Tidak berapa lama, hujan menjadi terlalu deras sehingga panggung harus dimatikan. Lampu juga dimatikan. Tapi tak apa, karena basis Pure Saturday mengambil gitar akustik dan kami semua menyanyikan "Kosong" bersama-sama, diiringi sebuah gitar bolong yang suaranya saja ditenggelamkan deru hujan.

Setelah hujan agak reda, saya kembali ke tenda kami di tengah hutan. Di dalam, Wednes dan Tempe sudah tidur berdempetan seperti anak kembar. Saya menggelar sleeping bag tebal yang sudah disiapkan panitia di pojok seberang mereka. Malam itu saya tidur di dalam sebuah tenda yang didera rintik gerimis, di tengah hutan, setelah lelah bermain dan puas menonton band-band kesukaan saya.

***
Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang hari kedua kecuali bahwa kami sama senangnya dengan ketika pertama kali menginjak Tanakita. Malah lebih santai karena Rabu sudah main, sehingga tinggal satu band lagi dari rombongan kami yang bertugas.

Paginya kami sarapan indomie di warung milik warga lokal di pinggir hutan karena letaknya lebih dekat daripada tenda sarapan di puncak bukit sebelah. Warung itu harganya fluktuatif, sebotol aqua bisa dihargai seribu perak kalau dibayar gabung dengan makanan lain, tapi empat ribu perak kalau dibeli sendiri. Tapi tetap enak karena orang Jawa Barat emang paling jago masak indomie buat sarapan.

Hari itu diawali dengan pertunjukan dari Seroja. Band ini sangat baru dan Panggung Pohon Jengkol RRRec Fest yang fantastis ini menjadi panggung pertama mereka. Tapi karena projek ini unik dan digawangi orang-orang ampuh, mereka pun lolos kurasi Indra Ameng. Seroja di RRRec Fest kemarin adalah Rully Shabara, Sony Irawan, Yoga Supeno, dan Satya Prapanca mengenakan pakaian muslim menyanyikan lagu-lagu Melayu eksperimental. Lucu sekali melihat mereka yang biasanya panas dan buka-buka baju di atas panggung, sekali ini manggung dengan baju rapi. Saya paling suka saat mereka menyanyikan lagu Melayu "Seroja" yang ternyata menjadi asal muasal nama meraka.

Setelah itu kami menyebar; belanja baju dan merchandise di Ruru Shop dan Kamengski, nonton Liyana Fizi dan Voyagers of Icarie (a super awesome band from Monica and Popie, my favorite Pandai Besi personels!), nonton White Shoes sambil hujan-hujan, lalu nonton Kazuhisa Uchihasi duet sama mas Rully. Rangkaian acara pun selesai dan kami harus pulang.

Senang sekali bisa menyusup ke RRRec Fest in the Valley. Mungkin ini salah satu acara paling keren yang pernah saya tonton. Makasih banyak mas Wowok untuk durian runtuhnya. Makasih mas Rully, mas Panca, mas Sony, mas Ojie, mas Yoga, mba Ditya, Tempe, Wednes, dan Adel untuk tiga hari yang super menyenangkan.


Di bawah ini adalah foto-foto yang diabadikan Dek Adel saat kami sedang di sana.



Tetangga Pak Gesang yang lucu. Sayang manggungnya di sela kami makan siang, jadi nontonnya sambil hectic makan ikan jambal dan sambel kecombrang.



Backwood Sun, nggerus kayak Fleet Foxes



tahukah kalian orang paling keren di Bangkutaman adalah keyboardisnya!





salah satu yang saya pelajari di RRRecfest adalah kamu ga perlu jadi front man supaya jadi awesome. Mas keyboardisnya Bangkutaman ini keren banget di atas panggung karena dia sangat percaya dengan apa yang dia nyanyikan.  

Ari Reda di Panggung Pohon Jengkol

Arie Dagink dan T Shirt official RRRecFest

Ramayana Soul. Sexy to the bone.

ada salah satu lagu Ramayana Souls yang berjudul Mawar Batu. Mungkin mereka sangat suka sama The Stone Roses. Lagu itu salah satu yang paling saya nikmati dari penampilan mereka.

Bang basis idola saya dari Pandai Besi

duo vokalis idola saya juga dari Pandai Besi

Rabu di Panggung Pohon Jengkol

begitu manggung aja macak cool. padalah pas cekson jerit-jerit gegara digigit semut, hahaha.

"Panggilan dari Gunung" oleh Iwan Fals adalah manuver kover mengkover yang efektif sekali, bosku


Wednes dan Tempe foto bareng penggemar berat

yang tengah itu Raka Ibrahim

Seroja

benar. itu bass eug.



di satu lagu, Seroja mengkaryakan beberapa penonton untuk ikut memainkan tetabuhan



Voyageurs of Icarie, my new LOVE!

Poppie Airil dan Monica Hapsari, dua personel favorit dari dua band favorit

Liyana Fizi, yang sudah memenuhi KKM cewe keren versi kurikulumnya Mas Rully Sabhara


haeee mas ale!

haeeee mba sari!




ditutup oleh Kazu, musisi eksperimental dari Jepang
foto-foto oleh Adelina Maryam

Sabtu, 30 Agustus 2014

Panggung Kleringan dan "The Postrock Show By the River Bank"


Individual Life
photo credit: Infofky.com


Seperti yang sudah diketahui teman-teman dekat saya, saya ini orangnya suka sekali nonton pertunjukan. Saya ini mungkin penonton sejati. Saya bisa berubah tabiatnya kalau nonton acara. Saya bisa bersikeras harus datang awal, harus dapat tempat duduk paling depan, dan pulang belakangan, jauh setelah acara selesai. Sepanjang acara saya bakalan duduk bertopang dagu atau menengadah dengan spaneng. Yang jelas saya akan menatap panggung hampir tanpa berkedip seperti sedang mengikuti kuliah yang sangat menarik, kadang sambil ikutan nyanyi teriak-teriak kalau yang sedang dimainkan adalah lagu favorit saya. Nggak semua orang bisa betah nonton acara sama saya.

Jadi di bulan Agustus 2014 ini, saya bener-bener tonjo karena ada buanyak acara menarik yang digelar di Yogyakarta. Dari sejak awal bulan, saya bener-bener wareg kabudayan, kenyang betul nonton hasil kebudayaan, yang digelar oleh berbagai badan kesenian baik yang disokong pemerintah maupun yang berswadaya. Mau nggak seneng gimana, dari Gamelan Festival, Pasar Kangen, German Cinema, sampai yang paling akbar, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), semuanya menyuguhkan tontonan yang menarik dan berkualitas tanpa dipungut biaya (paling cuma parkir sama jajan makanan lucu-lucu yang dijual di kios-kios festival).

Salah satu yang menurut saya paling menarik adalah Panggung Kleringan, semacam fringe event-nya FKY, yang dibangun ditepian Kali Code di wilayah Kampung Jogoyudan. Panggung ini nakal sekali. Panitia FKY meng-hack tebing-tebing sungai, membangun panggung yang tidak bisa dibilang sederhana, menampilkan unit-unit pertunjukan paling menarik di kota ini, sementara penonton yang dibuat penasaran dipersilakan mencari sendiri tempat yang enak untuk nonton. Ada yang berduselan dan ingak-inguk dari atas Jembatan Kleringan. Ada yang turun ke tebing sungai dan duduk di atas tembok batu yang dibangun beberapa tahun lalu setelah banjir lahar tahun 2010. Ada yang turun ke tepian dan menonton di atas rerumputan. Tidak ada kursi nyaman dengan jarak pandang yang sudah disesuaikan seperti yang bisa kamu dapatkan di venue-venue lain di kota ini. Yang ada adalah pinggiran jembatan dan tembok tebing batu.

Panggung ini dihidupkan dua hari, hari pertama 29 Agustus untuk tari-tarian sedangkan hari kedua, 30 Agustus, ada band yang sudah lama saya rindukan penampilannya, Individual Life. Saya datang di hari pertama untuk "cek ombak", tujuannya mencari tempat paling pewe untuk nonton Individual Life besok harinya. Di hari pertama itu, saya datang dengan Uniph, temen saya. Kami dapat tempat di atas jembatan. Kami duduk di lingiran jembatan, di suatu sela sempit selebar pantat. Di kanan kami ada pagar pembatas, trotoar, dan jalan raya dengan lalu lintasnya. Di kiri kami jurang tembok beton setinggi kira-kira sepuluh meter. Kalau kami oleng sedikit ke kiri, kami akan jatuh dan berceceran di atas jalan setapak kampung Jogoyudan. Kalau kami menengok sedikit ke kanan atas, kami bisa melihat Jembatan Kewek yang sesekali dilewati kereta api yang melaju ke / dari Stasiun Tugu. Di situ kami duduk memeluk lutut, merokok sambil menggigil disapu angin yang melalui lembah sungai, dikelilingi banyak sekali penonton lain yang merapat di trotoar, bersandar pada pagar pengaman jembatan. Kami menonton tari-tarian dan video mapping yang dengan cerdik meretas deretan tembok belakang toko-toko bunga di seberang sungai menjadi latar belakang panggung yang cukup playful.

Setelah tahu situasi lapangan (yaelah kek mau menyerbu markas mafia aja), saya jadi bisa memutuskan beberapa hal. Misalnya, batal pakai dress lucu, doc mart, dan tote bag imut. Akhirnya pakai celana panjang biasa, sneakers, dan ransel karena kondisi venue yang mengharuskan sedikit kelincahan ala ala pramuka. Saya dan Uniph datang sangat (((sangatttt))) awal, yaitu jam 18.30 untuk mengokupasi VIP seat sebelum direbut penonton lain. Kami turun ke bantaran sungai, menyusuri kampung sedikit, lalu dibolehkan duduk di atas tembok batu di tepi sungai, tepat di hadapan panggung, tepat di depan mixer FOH.

Selain mixer FOH, di belakang kami ada Mas Gufi yang mondar mandir memberikan instruksi lewat HT, Anto Lele yang pewe nongkrong di tembok sebelah sana sambil mengirim live twit, serta meja kerja dadakan tempat dinas mas-mas Jogja Video Mapping Project dan Pamityangyangan. Di bawah kami ada sungai Code yang gemericiknya tetap terdengar di sela-sela theme song dolanannya FKY. Dari tempat itu juga sayup-sayup masih terdengar suara kereta lewat dan angin lembah juga masih terasa sangat dingin.

Terasa masih sangat lama sebelum acara mulai. Untuk mengisi waktu, panitia malah memutar theme song launching event-nya Rabu, ambience super gloomy dan sedikit klenik yang memang cocok didengarkan di pinggir sungai. Ketika acara dimulai dengan unit gamelan Sekar Jindra, baru terasa penonton memadati sekitar kami. Sepanjang tembok di sebelah kiri kami penuh orang, sedangkan orang-orang yang duduk di sebelah kanan kami selalu diusir karena itu daerah untuk akses panitia. Tapi kalau kamu mau turun dan nonton dari bantaran sungai, malah dibolehkan. Ada sekitar sepuluh orang yang turun dan nonton di atas batu-batu kali di bawah kami saat itu. Tapi secara keseluruhan, bisa dibilang tempat saya dan Uniph duduk kemarin adalah tempat terbaik untuk melihat panggung.

Yang ditunggu-tunggu manggung giliran kedua. Ketika Sekar Jindra selesai, saya menegakkan punggung dan berhenti mengetik suatu pesan di handphone. Delapan orang naik ke atas panggung, pemain bass, drum, tiga biola, satu cello, satu gitar, dan seorang pemain piano. Saat mereka membuka pertunjukan dengan Lalulalang dan Paripurna, tiba-tiba saya menyadari sedikit ketegangan yang aneh di deretan panitia di belakang saya. Baru saat lagu ketiga, Metropolis, saya paham. Ada Mas Gufi yang memberi komando pada tim lighting lewat HT. Ada video mapping yang sesuai dengan dinamika lagu. Ada permainan lighting spektakuler yang ikut melebur bersama lagu. Di bagian-bagian tertentu lagu, kedelapan personel disorot satu persatu dengan cahaya-cahaya yang berbeda, membuat mereka terlihat begitu wangun. Pada saat lagu hampir mencapai puncaknya, Mas Gufi mulai berteriak-teriak ke HT "Yo, saiki yo, SAIKI YO!" sehingga saya ikutan tegang mengawasi terjadinya klimaks musik dan cahaya. Dengan bantuan panitia yang sadar skena, lagu tersebut dibawakan dengan sangat megah. Sekitar sepuluh menit yang nyaris divine dengan perpaduan musik favorit yang telah lama ditunggu penampilan langsungnya, permainan cahaya yang sangat baik, penonton yang antusias, sungai, angin lembah, lalu lintas, kereta api yang lewat....

Setelah Metropolis, Mas Gufi bisa duduk mengaso di atas sebuah peti kemas sambil memberikan instruksi yang lerem-lerem saja pada tim lighting. Individual Life melanjutkan permainan dengan Ferry Saputro dan Momentum yang klimaks, juga ditingkahi video mapping dan lighting yang megah. Benar-benar bagus. Setengah jam menonton Individual Life di Panggung Kleringan dengan suasana demikian sungguh memuaskan saya yang sempat memimpikan suatu "Postrock Show By the River Bank". Mungkin anak-anak lain yang datang khusus untuk nonton Individual Life juga merasa demikian.

Mas Gufi dan para personel panitia inti yang kebanyakan anak-anak scene mungkin sudah terlalu sering menggarap acara-acara indie dengan budget yang harus pandai-pandai diakali. Mungkin ketika kali ini mereka dipasrahi acara berdana masif dari pemerintah, impian mereka membuat pertunjukan musik independen yang spektakuler akhirnya terwujud. Rancangan pertunjukkan bisa didasarkan dari ide-ide paling liar. Panggung-panggung yang tidak masuk akal bisa dibangun. Teman-teman musisi indie bisa dapat tempat istimewa bersama kesenian-kesenian lain yang kerap kali dianggap lebih adiluhung. Yang ikut kegirangan adalah anak-anak seperti saya, penonton sejati, yang menikmati senangnya ditraktir nonton acara bagus oleh kota sendiri.

Setelah Individual Life turun panggung, saya dan Uniph berani mempertaruhkan VIP seat kami dan turun ke tepian sungai untuk melanjutkan menonton dari atas batu-batu kali. Di situ kami duduk dengan Mas Aripp (Lampukota), Rangga, dan Afif yang sudah duduk menonton di sana sejak tadi, hanya beberapa jengkal dari garis air. Cahaya warna-warni dari panggung jatuh ke permukaan air dan membuat bias yang cantik dengan aliran sungai yang gelap. Kalau kami melihat ke kiri atas ada barisan kaki penonton yang berderet rapat tergantung di atas tembok tebing. Kalau menengok ke kanan atas ada mereka yang berdesakan ingak-inguk dari atas jembatan. Sedangkan kami yang duduk-duduk selo di atas batu kali bisa menonton Acapella Mataraman dan Vertigong dengan santai. Si Rangga malah bisa tidur-tiduran di atas rumput sampai di-twitpic sama Pamityangyangan.

Istimewanya Panggung Kleringan adalah bahwa tempat duduk ternyamannya berupa sudut-sudut terkumuh sebuah kampung. Teman nonton gigsmu adalah simbah-simbah, balita, dan anjing-anjing peliharaan warga yang terjaga lebih malam karena sedang ada hingar bingar akbar di halaman rumahnya. Untuk mengakses panggung, kamu harus melewati labirin jalan kampung sempit tempat local youth nongkrong. Demi kesopanan, supaya bisa lewat kamu harus berjalan pekewuh setengah membungkuk sambil bergumam "Kula nuwun, Mas, Mbak, Pak, Mbah..." ala ala Jogja. Sebuah acara yang membuat para penonton mau tidak mau harus mengalami ke-Jogja-an itu sendiri. Selain itu, pertunjukan yang memanjakan mata dan telinga juga terwujud bukan hanya dari performa mereka yang menawan di atas panggung, tapi juga tangan-tangan tidak kelihatan yang sudah lama gatal ingin menampilkan teman-teman skena ke atas panggung yang mewah. Lucunya, kemewahan Panggung Kleringan kemarin juga terjadi berkat kepandaian mereka menyelaraskan uba rampe venue yang canggih dengan keadaan sekitar yang sederhana: perumahan padat penduduk menengah ke bawah dan sungai yang sesekali dilewati kresek sampah. Kalau sudah begini, siapa yang masih bisa menampik istimewanya Jogja!






video kredit: Lovely Indonesia

Senin, 30 Juni 2014

Konser "Renjana" Rabu



Tentang konser peluncuran album perdana duo neo-folk Rabu, “Renjana”, IFI/LIP, 26 Juni 2014.
 
“Jogja panas yah ga kyk pleret.” kicau @pleretian di twitter, Rabu 25 Juni 2014. Siapa sangka twit yang ganjen itu pertanda kedua personel neo-folk Rabu sudah tuntas melaksanakan turnya ke 6 kota di Jawa dan telah mendarat di kota asal dengan selamat. Si pemilik akun tidak lain adalah Wednes Mandra yang bersama Judha Herdanta telah menambahkan genre “balada gelap terang atmosferik” ke khazanah musik independen Indonesia. Sejak 19 Juni, mereka “gentayangan” di Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Semarang dan Solo. Hanya ditemani Adi Adriandi yang bergantian dengan Indra Menus, mereka memperkenalkan album perdana, “Renjana” ke khalayak yang sudah penasaran sejak versi digitalnya dirilis oleh Yes No Wave beberapa bulan lalu.

Konser di Jogja dirancang istimewa karena selain menjadi pungkasan rangkaian tur mereka, konser ini juga menjadi pesta “selamatan” untuk album perdana yang akan dirilis. Maka, pada 26 Juni 2014, para gig-goers di Jogja mendapatkan pengalaman nonton band yang berbeda: acara musik sebagai ritual selamatan. Entah karena memang ingin memanjatkan syukur kepada Tuhan dengan cara sedemikian rupa, atau karena memang menyesuaikan dengan konsep Rabu yang mengambil kesan gelap dari spiritualitas Jawa, malam itu Kongsi Jahat Syndicate menyediakan tumpeng nasi kuning dan ayam ingkung di atas talam bambu berlapis daun pisang, disajikan di tengah aroma pekat dupa yang telah dinyalakan di sudut-sudut tersembunyi Lembaga Indonesia Perancis.

Seratus lima puluh orang yang membeli tiket dan sejumlah besar undangan berkerumun di halaman depan LIP ketika Agung “Leak” Kurniawan memimpin doa secara “Nasional”. “Kepada apapun yang ada di atas. Semoga albumnya laris. Semoga bandnya bisa berumur panjang.” ujarnya sebelum memotong pucuk gunungan nasi kuning yang diberi lauk pauk dan diserahkan pada Wednes.

Saat Wednes menerima piring itu secara seremonial dan mencicipinya sedikit bersama Judha, saya teringat bahwa hampir setahun yang lalu Rabu membuka konser Frau yang fenomenal itu di tempat ini juga. Beberapa bulan sebelumnya, saya menonton salah satu penampilan paling awal Rabu di JNM, juga di peluncuran album temannya yaitu MDAE. Saat itu Rabu baru terdiri dari Wednes seorang diri, memainkan untuk pertama kalinya bagi sebagian besar orang, “Lingkar”, “Dalam Tidur”, dan “Kemarau, Bunda, dan Iblis”. Wednes hanya menggunakan gitar akustik boncel-boncel yang harus distem lagi setiap kali berganti lagu. Namun keantengannya yang aneh serta suara vokalnya yang berat dan tidak biasa membuat musik sekaligus penampilan Rabu dengan mudah tertambat di kepala saya. Kini, setahun sejak pertama kali menonton Rabu dan mengikuti sepak terjangnya, saya yakin memang sudah saatnya mereka dirayakan dalam sebuah pesta peluncuran album mereka sendiri.

Pilihan band pengiringnya juga unik: Pribumi dan Sulfur. Keduanya adalah proyek sampingan band-band yang lebih “senior” daripada Rabu. Pribumi terdiri dari Soni Irawan, Handoyo Purwowijoyo, dan Aan Dwirima yang jika ditambahi beberapa nama lagi akan menjadi Seek Six Sick generasi awal. Sulfur adalah Krisna Widiathama dari Sodadosa yang memainkan noise bersama Woro. Kedua band tersebut memainkan setnya di atas panggung LIP yang ditata hitam sambil ditembak slideshow dari proyektor, sementara para penonton dihujani tata lampu merah pekat yang misterius.

Ketika tiba giliran Rabu, panggung ditiadakan. Semua lampu dimatikan. Penerangan remang-remang hanya dari proyektor yang stand by menembak cahaya hitam ke layar di seberang. Kru Kongsi Jahat menata dua kursi di tengah penonton, masing-masing ditumpangi sebuah gitar dan dikelilingi rangkaian efek untuk menghasilkan sound menggaung yang menjadi ciri khas mereka itu. Sebuah stand mic dengan mikrofon yang telah siap digunakan diberdirikan di depan kursi sebelah barat. Kemudian lantai di sekitar kedua kursi tersebut ditaburi bebungaan. Barisan penonton diarahkan ulang untuk mengelilingi tatanan tersebut. Gelap dan diam sesaat.

Kemudian Wednes dan Judha memasuki tatanan panggung tersebut dan tanpa berkata-kata memangku kedua gitar mereka. Keduanya seakan seketika menjelma dua pandita yang telah mengangkat rangkaian nada dari berbagai kantong kesedihan di sudut-sudut semesta dan siap mempersembahkannya pada siapa saja di ruangan itu. Dua lampu titik lampu sorot menyala temaram di atas kepala mereka. Penonton bertepuk tangan. Pertunjukan dimulai.

Selama entah berapa puluh menit yang intens, barisan-barisan lagu dalam album “Renjana” dikumandangkan diiringi tata lampu dramatis. Favorit saya masih lagu-lagu yang sudah disebutkan di atas. Namun saya juga tetap terkesima menyaksikan “Baung”, “Dru”, “Telaga Kasih”, dan “Semayam”. Penonton sedikit tertawa ketika komposisi “Kereta Terakhir” dibawakan, terutama ketika tanpa diduga suara narator imbauan masyarakat untuk berhati-hati di jalur kereta api ikut diputar di akhir lagu. Mereka juga membawakan “Doa Renjana” dan “Penyusup” yang hanya ada di album versi fisik mereka. Ketika mereka selesai, saya mengerjap dan tersadar dari buaian keseraman yang syahdu, kenyang disuguhi sajian estetis dari segala yang singup dan gelap. Sungguh puas, tidak kurang, tidak berlebihan.



Menurut KKBI, “Renjana” berarti “perasaan hati yang kuat”.
Mungkin itu lah yang
“…bersemayam dalam belantara / hati setiap insan yang dilahirkan…”


Gisela Swaragita