Tampilkan postingan dengan label Rabu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rabu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 November 2014

Kisah Sang Penyusup: Perjalanan ke RRRecFest in the Valley

Panggung Rumpun Bambu, asap dari api unggun, dan penonton yang mengenakan mantol hujan warna-warni


Di awal November ini, saya jadi percaya bahwa kita tidak akan tahu di mana dan bersama siapa kita menghabiskan waktu. Sore itu saya sedang duduk di rerumputan Tanakita, Sukabumi. Di depan saya sedang bermain Backwood Sun, band keren yang saya belum pernah tonton sebelumnya. Di sebelah saya ada teman-teman saya, Wednes Mandra dan Judha Herdanta (sering dipanggil Tempe) dari Rabu yang baru saja selesai sound check, juga Adelina Maryam yang hadir untuk meliput. Kami sedang berada di RRRec Fest in the Valley!

Semua teman saya tahu bahwa saya ingin sekali nonton RRRec Fest 2014. Kemah 3 hari  di lereng Gunung Gde Pangrango sambil nonton band-band cutting edge terbaik di Indonesia! Sayang sekali harganya terlalu mahal buat saya yang pengangguran ini. Jadi sebenarnya saya sudah ikhlas dan menyetem hati untuk bersikap biasa saja setiap kali Komikazer bikin gambar lucu untuk iklan RRRec Fest di instagram, atau kalau Natasha Abigail mengetwit update-update terbaru tentang festival itu, atau kalau Rabu mengunggah panduan tali temali pramuka untuk persiapan kemah mereka nanti. 

Tanpa disangka, Wok the Rock menghibahkan tiket kereta dan free pass-nya sebagai pendamping Rabu di detik-detik terakhir. Pagi tanggal 31, saya, yang sedang santai nyuci baju sambil mikirin mau malem mingguan sama siapa, langsung panik dan jungkir balik setelah diwatsap bahwa saya bisa berangkat sore itu juga ke Jakarta. Benar saja, beberapa jam kemudian saya sudah berada di dalam kereta Gajah Wong bersama Wednes, Tempe, dan Ojie Adrianto dari Rabu. Bersama kami ada juga rombongan Seroja yang terdiri dari Rully Shabara, Sony Irawan, Satya Prapanca, dan Yoga Supeno; serta Adel yang mendapat kursi di gerbong lain. Kami akan bergabung dengan Haninditya, istri mas Sony, di Jakarta. Semua janjian saya untuk akhir minggu itu dibatalkan. Tidak pakai persiapan matang. Tidak pakai pikir panjang.

Kurang dari 24 jam kemudian, saya naik bus dari Ruru ke Tanakita bersama serombongan selebriti cutting edge yang selalu saya hadiri panggungnya kalau mereka tour ke Jogja. Ada yang aneh ketika tiba-tiba subjek-subjek mengagumkan menjadi begitu dekat, misalnya ketika saya dapat kesempatan naik bus bareng idola dan saya tidak peduli karena terlalu mengantuk, mereka menjadi sama seperti teman-teman sekelas yang berisik dalam bus studi wisata.

Memang hal teristimewa yang ditawarkan RRRec Fest adalah bahwa kamu bisa melakukan hal-hal remeh bareng orang-orang yang kamu kagumi. Twit Keke Tumbuan @melancholico "WOW! Gwe sarapan bareng @wsatcc sebelum mandi!" menjadi terlalu benar ketika kamu digodain Saleh Husein sambil antri nasi uduk di warung deket Ruru. Atau ketika kamu bikin kopi sama Popie Pandai Besi. Atau kamu mengintai tendanya Ramayana Soul supaya bisa mandi duluan di sebuah kamar mandi absurd di tengah hutan. Atau ketika kamu joget di panggungnya White Shoes bareng Monica Hapsari yang goyang-goyang sambil makan bakso. Atau ketika kamu berbagi alas duduk sama Yudhis Jirapah sambil nonton Pandai Besi. Atau ketika kamu tiduran di rumput, pura-pura nonton Liyana Fizi padahal kamu ngeliatin Natasha Abigail dan Dimas Ario pacaran dengan so sweet-nya.

Maka nonton Backwood Sun bersama Wednes, Tempe, dan Adel sambil minum kopi bandung dan kue pancong bertabur gula yang dijual warga lokal di sekitar lembah adalah salah satu momen menyenangkan yang patut diingat-ingat bersama kenangan-kenangan lainnya. Sayang Wednes dan Tempe harus kembali ke tenda kami di tengah hutan. Kurang tidur dan lelah setelah mengangkut gitar naik turun bukit, mereka mau istirahat dulu supaya tampil maksimal selepas maghrib nanti.

Bangkutaman naik panggung setelah Backwood Sun. Mas Acum, yang sejak dari Jakarta sudah ribut bawa-bawa sebuket bunga, dengan ceria mendekor ulang panggung di bawah rumpun bambu itu dengan bunga-bunga ungu dan kuning. Sisanya dilemparkan ke penonton. Hujan mulai rintik-rintik saat mereka menyanyikan lagu pembuka. Akhirnya manusia-manusia yang tadinya menonton dengan santai sambil gelesotan di rumput harus berdiri dan mendekati panggung supaya tidak kehujanan. Sebagian sudah memakai jas hujan warna-warni, berjoget sambil mengibas-ngibaskan bunga di tangan. Di tengah pertunjukan, hujan turun terlalu deras. Band berhenti. Semuanya berteduh di panggung. Tidak berapa lama, hujan berhenti, maka band main lagi.

Memang tidak salah pergi ke tempat terisolir untuk nonton band-band-an dengan santai. Kalau hujan ya berhenti, kalau hujan berhenti ya main lagi. Penonton yang membayar tiket tampaknya tidak terlalu banyak, namun sepertinya itu bukan ukuran keberhasilan festival seperti ini. Demografi penonton terdiri dari mereka yang membeli tiket, para artis pengisi acara dan kru-nya, serta para panitia. Lapangan Tanakita itu tidak padat disesaki manusia, tapi wajah-wajah gembira tersebar di mana-mana.

Setelah Bangkutaman, ada Ramayana Soul yang super, duper seksi disusul Ari Reda yang hampir terlampau manis sampai bisa bikin diabetes. Sore itu Ari Reda adalah duo bapak ibu yang menyanyikan syair-syair Sapardi Joko Damono di sebuah panggung yang berbentuk seperti dangau di bawah pohon jengkol. Panggung itu bertengger di pucuk lereng, membelakangi lembah hijau dan matahari tenggelam. Seperti itu lah yang namanya Perfect Situation!

Rabu juga mendapat tempat di Panggung Pohon Jengkol. Tampil selepas Pandai Besi mengakhiri penampilan mereka di Panggung Rumpun Bambu, Wednes dan Tempe membuka pertunjukan mereka dengan "Dru" disusul "Baung". Penonton yang bertebaran di atas rumput di depan mereka menikmati pertunjukan itu disela bau dupa samar-samar yang memang telah mereka tancapkan di area penonton. Entah mengapa saya ikut senang kalau penonton termakan gimmick-gimmick Rabu yang sudah sangat saya hafal. Misalnya, "Minum dulu ya. Haus e."-nya Wednes yang kalau nyanyi suaranya ngebass tapi kalau ngomong medhoknya ga bisa disembunyikan (dan sepertinya memang tidak pernah berusaha disembunyikan). Atau ketika dia mengantar lagu "Kereta Terakhir" dengan kalimat andalannya "Lagu ini tentang kewaspadaan berlalu lintas." lalu penonton pelan-pelan tergelak ketika Wednes dan Tempe mengawali komposisi instrumental yang sangat liris dengan bunyi bel palang kereta do-mi-re-sol-sol-re-mi-do yang familiar di seluruh Indonesia.

"Ah manis banget..." gumam seorang penonton yang gelesotan di depan saya saat mereka menyuguhkan "Telaga Kasih" sebagai lagu terakhir. "Dah," kata Wednes sambil melambaikan tangan saat mereka selesai. "Lagi! Lagi!"seru semua orang. "Udah, Nggak punya. Nggak ada."kata Wednes datar sambil melambaikan tangan dan memberesi gitarnya, "Maaf ya." Orang-orang ini pun tergelitik. Ada yang mengherankan dari Wednes dan Tempe, bukan sekedar karena keluguan mereka, namun juga karena anak-anak ini terlihat begitu tidak pedulian, tanpa ekspresi, tanpa keinginan untuk tampil kece seperti yang lain. Mereka tidak bisa diremehkan semata-mata karena mereka tidak mengejar kekerenan itu sendiri. Rabu satu-satunya band di RRRec Fest yang tidak memberikan encore walau penonton memintanya.

Maka pelan-pelan kami beranjak ke Panggung Rumpun Bambu yang terletak beberapa ratus meter ke kanan untuk menyaksikan Jirapah. Momen paling seru malam itu juga terjadi di Panggung Rumpun Bambu. Pure Saturday diplot sebagai pungkasan, namun apa daya hujan deras malah turun. "Semuanya ke atas panggung aja. Naik aja ke atas panggung."kata Iyok. Jadi kami, penonton, naik ke atas panggung dan menyaksikan Pure Saturday dari jarak yang amat sangat dekat. Seperti menonton teman latihan di studio dan sempit. Tidak berapa lama, hujan menjadi terlalu deras sehingga panggung harus dimatikan. Lampu juga dimatikan. Tapi tak apa, karena basis Pure Saturday mengambil gitar akustik dan kami semua menyanyikan "Kosong" bersama-sama, diiringi sebuah gitar bolong yang suaranya saja ditenggelamkan deru hujan.

Setelah hujan agak reda, saya kembali ke tenda kami di tengah hutan. Di dalam, Wednes dan Tempe sudah tidur berdempetan seperti anak kembar. Saya menggelar sleeping bag tebal yang sudah disiapkan panitia di pojok seberang mereka. Malam itu saya tidur di dalam sebuah tenda yang didera rintik gerimis, di tengah hutan, setelah lelah bermain dan puas menonton band-band kesukaan saya.

***
Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang hari kedua kecuali bahwa kami sama senangnya dengan ketika pertama kali menginjak Tanakita. Malah lebih santai karena Rabu sudah main, sehingga tinggal satu band lagi dari rombongan kami yang bertugas.

Paginya kami sarapan indomie di warung milik warga lokal di pinggir hutan karena letaknya lebih dekat daripada tenda sarapan di puncak bukit sebelah. Warung itu harganya fluktuatif, sebotol aqua bisa dihargai seribu perak kalau dibayar gabung dengan makanan lain, tapi empat ribu perak kalau dibeli sendiri. Tapi tetap enak karena orang Jawa Barat emang paling jago masak indomie buat sarapan.

Hari itu diawali dengan pertunjukan dari Seroja. Band ini sangat baru dan Panggung Pohon Jengkol RRRec Fest yang fantastis ini menjadi panggung pertama mereka. Tapi karena projek ini unik dan digawangi orang-orang ampuh, mereka pun lolos kurasi Indra Ameng. Seroja di RRRec Fest kemarin adalah Rully Shabara, Sony Irawan, Yoga Supeno, dan Satya Prapanca mengenakan pakaian muslim menyanyikan lagu-lagu Melayu eksperimental. Lucu sekali melihat mereka yang biasanya panas dan buka-buka baju di atas panggung, sekali ini manggung dengan baju rapi. Saya paling suka saat mereka menyanyikan lagu Melayu "Seroja" yang ternyata menjadi asal muasal nama meraka.

Setelah itu kami menyebar; belanja baju dan merchandise di Ruru Shop dan Kamengski, nonton Liyana Fizi dan Voyagers of Icarie (a super awesome band from Monica and Popie, my favorite Pandai Besi personels!), nonton White Shoes sambil hujan-hujan, lalu nonton Kazuhisa Uchihasi duet sama mas Rully. Rangkaian acara pun selesai dan kami harus pulang.

Senang sekali bisa menyusup ke RRRec Fest in the Valley. Mungkin ini salah satu acara paling keren yang pernah saya tonton. Makasih banyak mas Wowok untuk durian runtuhnya. Makasih mas Rully, mas Panca, mas Sony, mas Ojie, mas Yoga, mba Ditya, Tempe, Wednes, dan Adel untuk tiga hari yang super menyenangkan.


Di bawah ini adalah foto-foto yang diabadikan Dek Adel saat kami sedang di sana.



Tetangga Pak Gesang yang lucu. Sayang manggungnya di sela kami makan siang, jadi nontonnya sambil hectic makan ikan jambal dan sambel kecombrang.



Backwood Sun, nggerus kayak Fleet Foxes



tahukah kalian orang paling keren di Bangkutaman adalah keyboardisnya!





salah satu yang saya pelajari di RRRecfest adalah kamu ga perlu jadi front man supaya jadi awesome. Mas keyboardisnya Bangkutaman ini keren banget di atas panggung karena dia sangat percaya dengan apa yang dia nyanyikan.  

Ari Reda di Panggung Pohon Jengkol

Arie Dagink dan T Shirt official RRRecFest

Ramayana Soul. Sexy to the bone.

ada salah satu lagu Ramayana Souls yang berjudul Mawar Batu. Mungkin mereka sangat suka sama The Stone Roses. Lagu itu salah satu yang paling saya nikmati dari penampilan mereka.

Bang basis idola saya dari Pandai Besi

duo vokalis idola saya juga dari Pandai Besi

Rabu di Panggung Pohon Jengkol

begitu manggung aja macak cool. padalah pas cekson jerit-jerit gegara digigit semut, hahaha.

"Panggilan dari Gunung" oleh Iwan Fals adalah manuver kover mengkover yang efektif sekali, bosku


Wednes dan Tempe foto bareng penggemar berat

yang tengah itu Raka Ibrahim

Seroja

benar. itu bass eug.



di satu lagu, Seroja mengkaryakan beberapa penonton untuk ikut memainkan tetabuhan



Voyageurs of Icarie, my new LOVE!

Poppie Airil dan Monica Hapsari, dua personel favorit dari dua band favorit

Liyana Fizi, yang sudah memenuhi KKM cewe keren versi kurikulumnya Mas Rully Sabhara


haeee mas ale!

haeeee mba sari!




ditutup oleh Kazu, musisi eksperimental dari Jepang
foto-foto oleh Adelina Maryam

Rabu, 30 Juli 2014

Songs for Wanderers


Karena belum bisa move on dari perjalanan ke Semeru minggu lalu, di hari Lebaran yang selo ini saya bikin mixtape dari 9 lagu yang menurut saya bakalan pas banget kalau didengerin di tepi Ranu Kumbolo sambil ngeliatin galaksi bima sakti dan pijit-pijitan kaki.




1. Jono Terbakar - Tualang

"...Pernah kau berlari mengejar mimpi malam tadi? Berlalu sangat cepat, terasa sangat singkat tak terulang lagi. Pernah kau mendaki terasa lama berhari-hari? Puncak jadi tujuan mencari jati diri yang penuh dengan misteri... Pernah kau panjati tebing cadas batuan keras? Kiloan harga diri melawan gravitasi, coba capai luar galaksi. Pernah kau selami lautan bermandikan cairan? Semua terasa ringan, seperti tanpa beban, hanya tersisa pikiran. Ini bukan tentang piala. Bukan juga tentang lencana. Ini bukan tentang jadi juara. Aku hanya seseorang ingin bertualang memandang dunia dari sudut yang berbeda...."




2. Jono Terbakar - Ranu Kumbolo

"...Andai saja aku bisa menjadikan diriku menjadi kabut....
Seandainya... andai saja aku bisa menjadikan diriku menjadi air....
Seandainya... andai saja aku bisa menjadikan diriku menjadi angin...
Seandainya... andai saja aku bisa menjadikan diriku menjadi dingin...
Hidupku di danau, di atas, di awan... danau di atas awan 
yang terbentang sejauh mata memandang...
Tempat ku yakini hidup ini tak cuma hanya sekali. Mati juga kehidupan."


3. Rabu - Telaga Kasih



4. Sigur Ros - Ara Batur



 5. Hammock - Blankets of Nights


6. Mogwai - May Nothing but Happiness Come Through Your Door


7. Arcade Fire - Dimensions



8. Fleet Foxes - Tiger Mountain Peasant Song

"...wanderers this morning came by. Where did they go, graceful in the morning light? To banner fair, to follow you softly in the cold mountain air. Through the forest, down to your grave where the birds wait and the tall grasses wave...."



9. American Football - The Summer Ends

"...for an embrace.... for a kiss on the cheek..."

foto-foto oleh Sholekhatu dan Brojjol.

Senin, 30 Juni 2014

Konser "Renjana" Rabu



Tentang konser peluncuran album perdana duo neo-folk Rabu, “Renjana”, IFI/LIP, 26 Juni 2014.
 
“Jogja panas yah ga kyk pleret.” kicau @pleretian di twitter, Rabu 25 Juni 2014. Siapa sangka twit yang ganjen itu pertanda kedua personel neo-folk Rabu sudah tuntas melaksanakan turnya ke 6 kota di Jawa dan telah mendarat di kota asal dengan selamat. Si pemilik akun tidak lain adalah Wednes Mandra yang bersama Judha Herdanta telah menambahkan genre “balada gelap terang atmosferik” ke khazanah musik independen Indonesia. Sejak 19 Juni, mereka “gentayangan” di Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Semarang dan Solo. Hanya ditemani Adi Adriandi yang bergantian dengan Indra Menus, mereka memperkenalkan album perdana, “Renjana” ke khalayak yang sudah penasaran sejak versi digitalnya dirilis oleh Yes No Wave beberapa bulan lalu.

Konser di Jogja dirancang istimewa karena selain menjadi pungkasan rangkaian tur mereka, konser ini juga menjadi pesta “selamatan” untuk album perdana yang akan dirilis. Maka, pada 26 Juni 2014, para gig-goers di Jogja mendapatkan pengalaman nonton band yang berbeda: acara musik sebagai ritual selamatan. Entah karena memang ingin memanjatkan syukur kepada Tuhan dengan cara sedemikian rupa, atau karena memang menyesuaikan dengan konsep Rabu yang mengambil kesan gelap dari spiritualitas Jawa, malam itu Kongsi Jahat Syndicate menyediakan tumpeng nasi kuning dan ayam ingkung di atas talam bambu berlapis daun pisang, disajikan di tengah aroma pekat dupa yang telah dinyalakan di sudut-sudut tersembunyi Lembaga Indonesia Perancis.

Seratus lima puluh orang yang membeli tiket dan sejumlah besar undangan berkerumun di halaman depan LIP ketika Agung “Leak” Kurniawan memimpin doa secara “Nasional”. “Kepada apapun yang ada di atas. Semoga albumnya laris. Semoga bandnya bisa berumur panjang.” ujarnya sebelum memotong pucuk gunungan nasi kuning yang diberi lauk pauk dan diserahkan pada Wednes.

Saat Wednes menerima piring itu secara seremonial dan mencicipinya sedikit bersama Judha, saya teringat bahwa hampir setahun yang lalu Rabu membuka konser Frau yang fenomenal itu di tempat ini juga. Beberapa bulan sebelumnya, saya menonton salah satu penampilan paling awal Rabu di JNM, juga di peluncuran album temannya yaitu MDAE. Saat itu Rabu baru terdiri dari Wednes seorang diri, memainkan untuk pertama kalinya bagi sebagian besar orang, “Lingkar”, “Dalam Tidur”, dan “Kemarau, Bunda, dan Iblis”. Wednes hanya menggunakan gitar akustik boncel-boncel yang harus distem lagi setiap kali berganti lagu. Namun keantengannya yang aneh serta suara vokalnya yang berat dan tidak biasa membuat musik sekaligus penampilan Rabu dengan mudah tertambat di kepala saya. Kini, setahun sejak pertama kali menonton Rabu dan mengikuti sepak terjangnya, saya yakin memang sudah saatnya mereka dirayakan dalam sebuah pesta peluncuran album mereka sendiri.

Pilihan band pengiringnya juga unik: Pribumi dan Sulfur. Keduanya adalah proyek sampingan band-band yang lebih “senior” daripada Rabu. Pribumi terdiri dari Soni Irawan, Handoyo Purwowijoyo, dan Aan Dwirima yang jika ditambahi beberapa nama lagi akan menjadi Seek Six Sick generasi awal. Sulfur adalah Krisna Widiathama dari Sodadosa yang memainkan noise bersama Woro. Kedua band tersebut memainkan setnya di atas panggung LIP yang ditata hitam sambil ditembak slideshow dari proyektor, sementara para penonton dihujani tata lampu merah pekat yang misterius.

Ketika tiba giliran Rabu, panggung ditiadakan. Semua lampu dimatikan. Penerangan remang-remang hanya dari proyektor yang stand by menembak cahaya hitam ke layar di seberang. Kru Kongsi Jahat menata dua kursi di tengah penonton, masing-masing ditumpangi sebuah gitar dan dikelilingi rangkaian efek untuk menghasilkan sound menggaung yang menjadi ciri khas mereka itu. Sebuah stand mic dengan mikrofon yang telah siap digunakan diberdirikan di depan kursi sebelah barat. Kemudian lantai di sekitar kedua kursi tersebut ditaburi bebungaan. Barisan penonton diarahkan ulang untuk mengelilingi tatanan tersebut. Gelap dan diam sesaat.

Kemudian Wednes dan Judha memasuki tatanan panggung tersebut dan tanpa berkata-kata memangku kedua gitar mereka. Keduanya seakan seketika menjelma dua pandita yang telah mengangkat rangkaian nada dari berbagai kantong kesedihan di sudut-sudut semesta dan siap mempersembahkannya pada siapa saja di ruangan itu. Dua lampu titik lampu sorot menyala temaram di atas kepala mereka. Penonton bertepuk tangan. Pertunjukan dimulai.

Selama entah berapa puluh menit yang intens, barisan-barisan lagu dalam album “Renjana” dikumandangkan diiringi tata lampu dramatis. Favorit saya masih lagu-lagu yang sudah disebutkan di atas. Namun saya juga tetap terkesima menyaksikan “Baung”, “Dru”, “Telaga Kasih”, dan “Semayam”. Penonton sedikit tertawa ketika komposisi “Kereta Terakhir” dibawakan, terutama ketika tanpa diduga suara narator imbauan masyarakat untuk berhati-hati di jalur kereta api ikut diputar di akhir lagu. Mereka juga membawakan “Doa Renjana” dan “Penyusup” yang hanya ada di album versi fisik mereka. Ketika mereka selesai, saya mengerjap dan tersadar dari buaian keseraman yang syahdu, kenyang disuguhi sajian estetis dari segala yang singup dan gelap. Sungguh puas, tidak kurang, tidak berlebihan.



Menurut KKBI, “Renjana” berarti “perasaan hati yang kuat”.
Mungkin itu lah yang
“…bersemayam dalam belantara / hati setiap insan yang dilahirkan…”


Gisela Swaragita


Kamis, 19 September 2013

Jogja's Favorite Duo Folk

Kesenangan paling sederhana dalam bermusik adalah bernyanyi sambil gitaran. Di bawah ini adalah teman-teman dari Jogja yang bisa bermain mempesona hanya dengan mengemban semangat genjrengan.

1. Jono Terbakar
Nihan A. Lanisy yang memainkan gitarlele dan temannya, Nur, yang memainkan perkusi lucu. Di atas panggung mereka memperkenalkan diri sebagai Si Jono dan Si Terbakar, memainkan lagu-lagu jenaka sambil bercanda satu sama lain dengan kocak pula. Lagu-lagunya seperti "Tualang" dan "Ranu Kumbolo" sebenarnya punya lirik puitis yang sangat mengesankan, tapi lagu hitsnya "Atos" adalah lagu berlirik super lucu tentang anak yang kagol beli es teh murahan di pantai, dan akhirnya curhat di twitter.
Di bawah ini adalah "Ranu Kumbolo", lagu berlirik sangat kuat tentang danau di puncak Semeru itu. Mendengarkan lagu ini sambil membaca liriknya, saya jadi membayangkan seorang pemikir yang merenung di tepiannya setelah lelah mendaki.
Saya kangen sekali ingin nonton Jono lagi setelah terakhir nonton pertunjukan kocak mereka di Lelagu#2 Juni lalu bersama perupa Mahaputra Vito yang mencorat-coret tubuh si Jono yang sedang nyanyi.



"Andai saja aku bisa menjadikan diriku menjadi kabut. Seandainya... Andai saja aku bisa menjadikan diriku menjadi air. Seandainya... Andai saja aku bisa menjadikan diriku menjadi angin. Seandainya...Andai saja aku bisa menjadikan diriku menjadi dingin... 
Tidurku di danau, di atas, di awan, danau di atas awan yang terbentang sejauh mata memandang. tempatku yang kini... hidup ini tak cuma hanya sekali. Mati juga kehidupan.
Andai saja aku bisa menjadikan diriku menjadi kamu. Seandainya... Andai saja aku bisa menjadikan diriku menjadi dia. Seandainya... Andai saja aku bisa menjadikan diriku jadi kalian. Seandainya... Andai saja aku bisa menjadikan diriku tetaplah aku."


2. Rabu
Balada gelap terang atmosperik, begitu Rabu mendefinisikan diri di laman soundcloudnya. Dalam kesederhanaannya, Rabu menjadi unit musik yang paling menyeramkan di antara proyek-proyek paguyuban noise Wednes yang lain misalnya Kultivasi, Slarong, dan Asangata. Saya pertama kali menonton dia manggung sebagai Rabu di acara launching albumnya M.D.A.E di JNM beberapa bulan lalu. Rabu masih terdiri dari Wednes seorang dan gitar bolong teramat butut yang susah distem. Dengan suara gitar menggaung dan vokal bariton yang seram, Wednes menyanyikan lagu-lagu kelam yang membuat kita serasa dibawa ke kastil Transylvania untuk bertemu Count Dracula.
Dalam perkembangannya, Wednes menggunakan gitar yang bagusan dan menggandeng temannya si Tempe untuk membackup gitar. Mereka tampil sangat mempesona di Lelagu #2 bulan Juni lalu, dan mendapat kehormatan membuka konser Frau tanggal 29 Agustus.



"Dalam tidur aku melihat wajah murung penuh isyarat. Dalam tidur dalam dengkur. Sekat-sekat kaca dibuka. Dalam tidur aku mendengar suara-suara makhluk tersesat. dalam tidur dalam dengkur sisa-sisa berwujud nyata."

3. Indigo Moon
Akhirnya Putro mendapatkan partner yang sepadan untuk membuat lagu bagus. Seperti Wednes, Putro sudah bekerja sama dengan banyak orang dan akhirnya punya paguyuban punk. Setelah The Frankenstone yang saya dirikan bersamanya di tahun 2007, dia punya Putro and The Money Making Machine yang menfasilitasi kegemarannya akan Social Distortion, juga Berantak! di mana dia menjadi vokalis penuh menggantikan Imok. Namun di antara band-band berisik ini, dia memutuskan membuat lagu-lagu sedih bersama Gogor Seta Dewa, teman sebangkunya di sekolah paska sarjana, dan menamai proyeknya Indigo Moon.
Dua lagu yang sudah diunggah di soundcloud mereka mengusung tema-temanya Putro yang biasa, tentang ketakutan menjadi dewasa, teman-teman yang datang dan pergi, juga hubungan yang rumit dengan orang lain. Vokal Gogor yang berada lebih di depan, membuat proyek ini terasa seperti versi akustikannya Lifehouse.




"...Somewhere in the bottom, there's an end this void. I've been floating like a paperplane while your face is haunting me.
Remember all the silence words and falling birds. All the useless plans I made, all the debts you never paid..."

4. Stars and Rabbit
Dulu waktu saya masih SMA, saya pernah tertegun di depan televisi menonton Elda menyanyikan "High and Dry" dari Radiohead dengan sangat mengesankan. Waktu itu saya belum tahu apa-apa soal band-band-an, belum tahu suara yang bagus dan skill yang mumpuni itu seperti apa, tapi saya tahu rasanya terkesan.
Setahun yang lalu, saya menonton perempuan yang saya kenali lewat kontes vokal itu di sebuah secret gig di Lir. Dia mengenakan dress hippies dan mahkota bunga-bunga, menjelma menjadi penyanyi dengan attitude yang sangat berbeda, namun bernyanyi dengan sama mempesonanya hanya diiringi temannya yang memainkan gitar akustik. Duo itu ternyata bernama Stars and Rabbit.
Saya langsung jatuh hati lagi mendengarkan "Worth It", yang nuansanya sangat awal 2000an. Selain "Worth It", ada beberapa track lagi yang pantas untuk scene seekor kelinci putih yang berlari-lari di atas bukit hijau mengejar bintang. "Man Upon the Hill" dan "You were The Universe" adalah dua favorit saya untuk didengarkan sebelum tidur.





"...It tastes like reality. You turn aside and walk away to another sound of laughter.
Left me out with nothing. With nothing but my pens and papers... The universe, you were...."

5. Answer Sheet
Saat SMA, Wafiq Giotama dan Mas Gilang Karebet mulai membuat lagu lalu memainkannya dengan format duo ukulele yang sangat unik. Beberapa tahun kemudian, duo yang bernama Answer Sheet ini menarik beberapa teman yang lain untuk memainkan bass, melodi gitar, dan perkusi sehingga mereka tidak menjadi duo ukulele lagi. Answer Sheet menjadi salah satu band terbaik di Jogja, bermain di acara-acara besar seperti Soundrenaline, konser Happy Coda Frau, dan bahkan Hello Asean di Bali.
Di bawah ini adalah genjrengan duo ukulele formasi awal untuk lagu mereka yang paling saya suka, Stay Leave.



"...Hundred hours of no direction, it will end as an elation. You may stay you may leave. They probably go and they probably win, and I choose to stay in here..."

Senin, 15 April 2013

My Dear Are Enemy

Di awal tahun 2008 dulu, ketika saya baru saja tau yang namanya ben-ben-an, masih lugu, dan masih maba di sastra Inggris, saya dapet sebuah stiker band berjudul My Dear Are Enemy. Kalau tidak salah saya bertemu mereka di depan Vox, sebuah ruang cutting-edge yang menjual merch dan rilisan band-band indie.

Yang jadi pikiran saya dari dulu sampai sekarang tentang band ini bukan tentang musik post-punk ekspresif-depresif yang mereka mainkan, bukan lagu-lagu berjudul 'Provocation' dan 'Son of a Gun', atau koor meriah "Kami! Adalah! Pelacur!" yang dikumandangkan penonton mereka setiap mereka memainkan "Pelacur", tapi nama band mereka yang grammatically incorrect.

Waktu mendapatkan stiker itu, saya sempat gojak-gajek sama pacar saya waktu itu, mau ngasih tau enggak kalo grammar nama mereka salah. Tapi akhirnya karena kurang kenal, malu, dan takut dikira sok tau, kami diam saja.

Nama 'My Dear Are Enemy' menjadi besar dan dikenal di Jogja. Lama-lama mereka lebih dikenal dengan nama M.D.A.E. Saya tidak bermain akrab dengan mereka jadi nama itu sliwar-sliwer saja buat saya selama saya bermain-main di ben-ben-an. Tetap saja yang membuat mereka memorable buat saya adalah nama mereka.

Saya bersyukur waktu itu nggak sok teu dan sok ngasih tau kalau nama mereka itu grammarnya salah. Siapa tau mereka memang tau dan memang pengennya begitu. Siapa tau mereka bisa bahasa Inggris lebih pinter dari saya (yang cuma bisa bahasa Enggres). Siapa tau mereka memang me'miring'kan penggunaan kata-kata bahasa Inggris itu. Karena hanya mereka yang benar-benar menguasai bahasa yang bisa membelokkan dan membengkokkan kata-katanya. Siapa tau mereka tidak seperti saya yang grammar-nazi. Siapa tau mereka menghargai karya lebih daripada bahasa dan kata-kata?

Menonton gig launching album mereka Jumat lalu sangat menyenangkan. Kelima band yang bermain menyuarakan ekspresi depresif kehidupan, yang membuat saya heran karena melemparkan diri saya pada negativitasnya, menonton anak-anak cowok itu saling menaiki satu sama lain dalam mosh-pit, malah mambuat saya terbuai dan gembira. Dan tetap saja saya belum berani tanya sama mereka perihal nama mereka yang miring. Lagipula menurut saya, sekarang, My Dear Are Enemy adalah gabungan kata-kata yang enak diucapkan.

Kami! Adalah! Pelacur!
review saya tentang gigs launching M.D.A.E bisa dibaca di sini.

ketika Akbar dan Hilman ngeband, mereka memainkan gitar menggunakan pipa besi
I'm Gonna Wild! teriak Untitled Joy
πέντε
Agung. Dia salah satu perkusionis dengan suara vokal yang keren. Menjadi puitis dan pop di Jalan Pulang.
Hengga
Bili Borgali
Rizki Baruna
ketika Wednes menjelma Rabu
dan Rabu adalah yang dia yang mampu mendepresifkan seluruh hadirin secara intim
rangga! the most epic gig-goer. dengan kaos-kaos band 90-an nya (aku pernah ketemu rangga pake kaos Hanson dan Backstreet Boys), celana pendek, dan sendal jepitnya. rangga adalah satu dari sedikit mereka yang berani moshing bahkan ketika mosh pit itu tidak ada

hilman! selalu menyenangkan ketika dia ikut bernyanyi saat kita manggung
apa yang kita cari dari mosh-pit? apa yang membuatmu berteriak bersama? kesenangan kolektif dalam keringat dan sebaris kata-kata?

hilman, akbar, yogi, dan ekspresi urat leher
"...you feel true and beautiful passion. And you, for at least that moment, lose your fear of death..." - Hemingway, as rendered by Woody Allen

nico okada. endi babi bajangnyaaaa???

bersama bili, rizki, pengok, dan wipti. ada rendenk juga yang motret

maaak beliin aku kaos to die maaak... biar aku kece maaak




Foto-foto oleh Randy Surya Mukti