Tampilkan postingan dengan label KANALTIGAPULUH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KANALTIGAPULUH. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2014

Konser "Renjana" Rabu



Tentang konser peluncuran album perdana duo neo-folk Rabu, “Renjana”, IFI/LIP, 26 Juni 2014.
 
“Jogja panas yah ga kyk pleret.” kicau @pleretian di twitter, Rabu 25 Juni 2014. Siapa sangka twit yang ganjen itu pertanda kedua personel neo-folk Rabu sudah tuntas melaksanakan turnya ke 6 kota di Jawa dan telah mendarat di kota asal dengan selamat. Si pemilik akun tidak lain adalah Wednes Mandra yang bersama Judha Herdanta telah menambahkan genre “balada gelap terang atmosferik” ke khazanah musik independen Indonesia. Sejak 19 Juni, mereka “gentayangan” di Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Semarang dan Solo. Hanya ditemani Adi Adriandi yang bergantian dengan Indra Menus, mereka memperkenalkan album perdana, “Renjana” ke khalayak yang sudah penasaran sejak versi digitalnya dirilis oleh Yes No Wave beberapa bulan lalu.

Konser di Jogja dirancang istimewa karena selain menjadi pungkasan rangkaian tur mereka, konser ini juga menjadi pesta “selamatan” untuk album perdana yang akan dirilis. Maka, pada 26 Juni 2014, para gig-goers di Jogja mendapatkan pengalaman nonton band yang berbeda: acara musik sebagai ritual selamatan. Entah karena memang ingin memanjatkan syukur kepada Tuhan dengan cara sedemikian rupa, atau karena memang menyesuaikan dengan konsep Rabu yang mengambil kesan gelap dari spiritualitas Jawa, malam itu Kongsi Jahat Syndicate menyediakan tumpeng nasi kuning dan ayam ingkung di atas talam bambu berlapis daun pisang, disajikan di tengah aroma pekat dupa yang telah dinyalakan di sudut-sudut tersembunyi Lembaga Indonesia Perancis.

Seratus lima puluh orang yang membeli tiket dan sejumlah besar undangan berkerumun di halaman depan LIP ketika Agung “Leak” Kurniawan memimpin doa secara “Nasional”. “Kepada apapun yang ada di atas. Semoga albumnya laris. Semoga bandnya bisa berumur panjang.” ujarnya sebelum memotong pucuk gunungan nasi kuning yang diberi lauk pauk dan diserahkan pada Wednes.

Saat Wednes menerima piring itu secara seremonial dan mencicipinya sedikit bersama Judha, saya teringat bahwa hampir setahun yang lalu Rabu membuka konser Frau yang fenomenal itu di tempat ini juga. Beberapa bulan sebelumnya, saya menonton salah satu penampilan paling awal Rabu di JNM, juga di peluncuran album temannya yaitu MDAE. Saat itu Rabu baru terdiri dari Wednes seorang diri, memainkan untuk pertama kalinya bagi sebagian besar orang, “Lingkar”, “Dalam Tidur”, dan “Kemarau, Bunda, dan Iblis”. Wednes hanya menggunakan gitar akustik boncel-boncel yang harus distem lagi setiap kali berganti lagu. Namun keantengannya yang aneh serta suara vokalnya yang berat dan tidak biasa membuat musik sekaligus penampilan Rabu dengan mudah tertambat di kepala saya. Kini, setahun sejak pertama kali menonton Rabu dan mengikuti sepak terjangnya, saya yakin memang sudah saatnya mereka dirayakan dalam sebuah pesta peluncuran album mereka sendiri.

Pilihan band pengiringnya juga unik: Pribumi dan Sulfur. Keduanya adalah proyek sampingan band-band yang lebih “senior” daripada Rabu. Pribumi terdiri dari Soni Irawan, Handoyo Purwowijoyo, dan Aan Dwirima yang jika ditambahi beberapa nama lagi akan menjadi Seek Six Sick generasi awal. Sulfur adalah Krisna Widiathama dari Sodadosa yang memainkan noise bersama Woro. Kedua band tersebut memainkan setnya di atas panggung LIP yang ditata hitam sambil ditembak slideshow dari proyektor, sementara para penonton dihujani tata lampu merah pekat yang misterius.

Ketika tiba giliran Rabu, panggung ditiadakan. Semua lampu dimatikan. Penerangan remang-remang hanya dari proyektor yang stand by menembak cahaya hitam ke layar di seberang. Kru Kongsi Jahat menata dua kursi di tengah penonton, masing-masing ditumpangi sebuah gitar dan dikelilingi rangkaian efek untuk menghasilkan sound menggaung yang menjadi ciri khas mereka itu. Sebuah stand mic dengan mikrofon yang telah siap digunakan diberdirikan di depan kursi sebelah barat. Kemudian lantai di sekitar kedua kursi tersebut ditaburi bebungaan. Barisan penonton diarahkan ulang untuk mengelilingi tatanan tersebut. Gelap dan diam sesaat.

Kemudian Wednes dan Judha memasuki tatanan panggung tersebut dan tanpa berkata-kata memangku kedua gitar mereka. Keduanya seakan seketika menjelma dua pandita yang telah mengangkat rangkaian nada dari berbagai kantong kesedihan di sudut-sudut semesta dan siap mempersembahkannya pada siapa saja di ruangan itu. Dua lampu titik lampu sorot menyala temaram di atas kepala mereka. Penonton bertepuk tangan. Pertunjukan dimulai.

Selama entah berapa puluh menit yang intens, barisan-barisan lagu dalam album “Renjana” dikumandangkan diiringi tata lampu dramatis. Favorit saya masih lagu-lagu yang sudah disebutkan di atas. Namun saya juga tetap terkesima menyaksikan “Baung”, “Dru”, “Telaga Kasih”, dan “Semayam”. Penonton sedikit tertawa ketika komposisi “Kereta Terakhir” dibawakan, terutama ketika tanpa diduga suara narator imbauan masyarakat untuk berhati-hati di jalur kereta api ikut diputar di akhir lagu. Mereka juga membawakan “Doa Renjana” dan “Penyusup” yang hanya ada di album versi fisik mereka. Ketika mereka selesai, saya mengerjap dan tersadar dari buaian keseraman yang syahdu, kenyang disuguhi sajian estetis dari segala yang singup dan gelap. Sungguh puas, tidak kurang, tidak berlebihan.



Menurut KKBI, “Renjana” berarti “perasaan hati yang kuat”.
Mungkin itu lah yang
“…bersemayam dalam belantara / hati setiap insan yang dilahirkan…”


Gisela Swaragita


Minggu, 19 Januari 2014

Membaca Penanda dalam “Tetenger”, Film Dokumentasi Tour “Prasasti” Zoo



Awal tahun 2013 band eksperimental jagoan Jogja, Zoo, melakukan tour ke beberapa kota di Jawa, Malaysia, dan Singapura. Tour tersebut didokumentasikan dalam bentuk film dan dirilis dalam bentuk paket DVD oleh Kebun Binatang Film tepat di akhir tahun 2013. Film ini diberi judul “Tetenger”.
Paket ini terdiri dari dua keping DVD berjudul “Sajian Utama” dan “Suplemen”. Keping “Sajian Utama” menampilkan 11 gigs di 10 kota yang disajikan selama hampir 100 menit. Sedangkan dalam “Suplemen”, ada video klip “Pemuja Hari”, cuplikan pertunjukan akustik dan konser peluncuran album, serta beberapa adegan “dibuang sayang” yang tidak dimasukkan dalam narasi “Sajian Utama”.
“Di sini kamu bisa puas nonton cowok-cowok Zoo berkeringat dan bertelanjang dada!”ujar Satya Prapanca, produser Kebun Binatang Film, saat menyerahkan DVD itu pada saya. Ketika menonton, memang, kita disuguhi adegan-adegan Rully, Dimex, Obet, dan Bhakti berkelejatan di atas panggung, memperlihatkan torso-torso bertato bersimbah peluh sambil terus berhentakan sesuai ketukan nada liar lagu-lagu Zoo yang progresif. Namun bukan itu daya tarik terbesar film dokumenter ini. Saya sendiri lebih menikmati menonton adegan-adegan mereka ketika turun panggung, menjadi mas-mas lucu yang merespons hal-hal asing yang mereka temui sebagai anak band dalam perjalanan.
Rombongan Zoo terdiri dari keempat personel, ditambah Satya Prapanca di belakang kamera dan Wok the Rock yang mengiringi perjalanan mereka ke Jawa Barat. Selayaknya promo tour setelah melepas album baru, mereka membawa edisi fisik album itu ke berbagai kota yang mereka sambangi. Yang lucu, boxset album “Prasasti” itu terbuat dari batu granit seberat 1,7 kg sehingga menimbulkan masalah sendiri: setiap personel harus menenteng 5 boxset di koper mereka, menambah beban masing-masing lebih dari 8 kilo. Terlebih lagi di bandara Yogyakarta, kantor imigrasi hampir menyita boxset-boxset tersebut. “Pelajaran. Lain kali kalau bikin album jangan dari batu!”ujar Rully kepada kamera.
Kompleksitas tour juga diwarnai beragamnya gigs yang ditawarkan kesepuluh kota itu pada Zoo. Yang paling hebat menurut saya adalah sebuah festival di hutan, di dekat kebun binatang Kuala Lumpur. Film ini mendokumentasikan bagaimana Zoo bermain berpanggungkan sepetak tanah di udara terbuka, disaksikan anak-anak muda di alam liar, dan setelahnya bermalam di pondok kemah di tengah hutan. Ditambah lagi mereka bermain setelah sebuah band legendaris asal Amerika. “Malam ini band pembuka kami adalah Tragedy!”seru mereka sambil terkekeh. Namun tidak hanya panggung keren yang ditampilkan di film. Kamera juga menampilkan wajah-wajah pasrah mereka ketika manggung di Rainhouse, sebuah studio musik amat sederhana di Ipoh, Perak. Band pembukanya memainkan Coldplay dan hanya sedikit penonton yang datang.
Kebanyakan gigs mereka memang studio gigs. Dengan tepatnya film ini menyuguhkan keriaan liar yang terjadi ketika energi musik meledak di depan mata dalam sebuah venue sempit yang penuh sesak. Mencekam seperti ancaman todongan pistol di pelipis. Wajah-wajah penonton yang berkerumun padat di depan setiap panggung selalu terlihat terbius energi yang Zoo semburkan di depan mereka. Kebanyakan terdiam menekun saat lagu berlangsung, lalu bersamaan bertepuk tangan meriah ketika lagu berakhir. Kekaguman yang membuat geming. Elemen-elemen pertunjukan live seperti ini yang membuat film dokumenter menjadi sarana tepat untuk menikmati band seperti Zoo sampai titik maksimal.
Karakter-karakter unik masing-masing personil seperti apa adanya di dunia nyata juga jadi terpapar. Misalnya kita bisa melihat machonya Rully, begonya Dimex, cerianya Obet, dan anehnya Bhakti sepanjang film ini. Semua itu terlihat dalam adegan-adegan seperti perayaan ulang tahun Bhakti yang sederhana tapi hangat, tandatangan Dimex yang konyol, sedihnya tidak bisa menghubungi pacar karena roaming, senangnya jamming dengan orang-orang yang nongkrong di pinggir jalan di Penang, sampai penggunakan bahasa Jawa kotor untuk menyumpahi sopir taksi absurd di Singapura.
Menonton dokumentasi ini, saya jadi teringat tour saya dan The Frankenstone ke Singapura dan Malaysia di awal tahun 2012. Bahkan di Tampin dan Ipoh kami bermain di venue yang sama. Itu adalah kali pertama kami keluar negeri sehingga persiapannya cukup heboh. Salah satunya adalah menonton DVD tour NOFX Backstage Passport untuk melihat apa saja yang bisa terjadi di negeri asing dalam sebuah tour musik independen. Saya yakin film dokumenter yang menarasikan perjalanan tour band banyak gunanya bagi skena musik lokal, dari sekedar bikin iri sampai menjadi pelajaran bagi band-band lain yang akan melakukan tour. Mungkin akan ada anak band generasi mendatang yang menekuni “Tetenger” sebelum melakukan perjalanan tour mereka sendiri.
Secara keseluruhan, “Tetenger” adalah karya yang bagus untuk memulai dialog dengan para personel Zoo. Ada beberapa detail penting yang tidak disuguhkan di sini sehingga kita jadi gatal ingin mendatangi mereka dan ngobrol. Di dalam film tidak ditampilkan tanggal-tanggal tour, juga nama dan peran orang-orang penting yang ikut berbicara di film. Selain itu, sayang sekali kemasan DVDnya tidak istimewa. Case plastik ini terlihat begitu biasa setelah kotak kayu “Trilogi Peradaban” dan lempengan batu “Prasasti”.
“Kemasan kan hanya gimmick. Untuk album yang konseptual bentuk kemasan memang penting. Tapi untuk film dokumentasi ini tidak perlu.”jawab Satya Prapanca dan Rully Shabara yang akhirnya saya datangi saking penasarannya.
Mereka juga menjawab keberatan saya akan adegan-adegan “Dibuang Sayang” yang ditempatkan secara mentah di keping “Suplemen”. Adegan-adegan itu menurut saya esensial dan bercerita banyak sehingga layak ditempatkan di film utama. “Kami tidak ingin menyajikan narasi. Kami cuma ingin memperlihatkan apa saja yang terjadi, secara jujur, dalam tour yang sepenuhnya swadaya.”ujar mereka.
Menonton film ini membuat kita sadar bahwa dalam sebuah tour ada banyak hal yang menantang kualitas anak-anak band selain kemampuan mereka dalam bermusik: mengangkut instrumen dan peralatan pribadi dari satu kota ke kota lain, mengatur penjualan merch dalam mata uang asing dan membelanjakannya dengan bijaksana, bertahan di jalan dengan orang-orang yang punya ego masing-masing, berhari-hari makan makanan yang tidak biasa, bergantung pada orang yang baru saja dikenal, menjalin komunikasi dengan bahasa asing terus-terusan, sampai bermasalah dengan kantor imigrasi karena dandanan yang nyeleneh dan bagasi yang penuh instrumen aneh. Ada banyak band yang kemudian memutuskan vakum setelah tour yang melelahkan, tapi banyak juga mereka yang kembali ke kampung halaman membawa kisah-kisah yang pantas dikenang. Bagi Zoo, “Tetenger” menyajikan semua hal itu dengan jujur.
“Tetenger”, berarti “prasasti” atau “penanda” dalam Bahasa Jawa Kuna, dirasa pas menjadi tajuk rangkaian cuplikan peristiwa-peristiwa dalam tour “Prasasti” tersebut. Film ini menunjukkan bahwa menaklukkan negeri asing dalam sebuah tour musik bisa menjadi penanda bahwa sebuah band sudah pantas naik kelas.
Tentang Kebun Binatang Film
Terdiri dari Rully Shabara dan Satya Prapanca, dua sahabat yang karya terjemahannya mungkin telah membantumu menonton episode-episode serial TV kegemaran. Keduanya tertarik dengan perfilman dan musik etnis. Rully adalah vokalis Zoo dan Senyawa, sedangkan Panca punya keinginan terpendam dari dulu untuk membuat film sendiri.
“Tetenger” adalah film panjang pertama yang mereka garap. Proses pengerjaan film ini mengharuskan mereka mengejar banyak hal, misalnya membiasakan diri dengan berbagai software baru dan belajar editing film dari berbagai sumber.
Ide untuk membuat “Tetenger” (dan akhirnya membentuk Kebun Binatang Film) datang saat Zoo bermain di Rossi Musik, Jakarta. Akhirnya Panca memutuskan untuk mengikuti sisa tour “Prasasti” sampai ke Singapura dan Malaysia. Penggarapan film ini menyita waktu Panca mulai dari Mei 2013 sampai rilisnya di tanggal 31 Desember 2013. Dirilisnya “Tetenger” menandai keberadaan Kebun Binatang Film sebagai unit dokumentasi musik pilihan di Jogja.
Memang, walau awalnya hadir sebagai perpanjangan tangan Zoo di divisi dokumentasi, Kebun Binatang Film bertekad merekam hal-hal menarik lain di skena musik Jogja. Selama penggarapan “Tetenger”, mereka sempat merekam berbagai konser musik yang menurut mereka layak disimak di kota ini. Dengan rajinnya mereka telah merilis empat lagi dokumentasi musik di minggu kedua tahun 2014 via Youtube. Menurut keduanya, skena musik Jogja sangat unik dan karya-karyanya tidak kalah keren dengan karya skena kota besar lainnya. Karenanya dinamika musik kota ini tidak hanya layak direkam sebagai arsip, namun juga layak dituturkan dalam karya film dokumenter. 





Dimuat di KANALTIGAPULUH 

Kamis, 28 November 2013

Menengadah pada Bintang-Bintang dengan Stars and Rabbit




Akhir-akhir ini ada banyak duo folk yang menarik di skena independen Indonesia, dan salah satunya adalah Stars and Rabbit. Terdiri dari Elda Suryani dan Adi Widodo, musik mereka membuat kita membayangkan seekor kelinci yang berdiri pada kedua kaki belakangnya di puncak bukit berumput hijau, menengadah pada bintang-bintang. Warna vokal yang kekanak-kanakan tapi kuat, permainan gitar yang sederhana namun mumpuni, serta curahan perasaan yang menghanyutkan pada jalinan liriknya menjadi ciri khas lagu-lagu Stars and Rabbit. Yang membuat mereka unik juga adalah bahwa mereka selalu menyuguhkan keindahan yang terpancar dari suatu bentuk kenaifan.

Mahkota bunga-bunga kuning masih bertengger di puncak kepala Elda ketika ia ditemui di ruang artis selepas pertunjukan yang meriah di “Sound of Aphrodite”, Sabtu (23/11). Keramahan dan gayanya yang lucu di atas pentas juga tidak hilang walau sudah turun panggung. Beberapa saat sebelumnya ia baru saja mempesona sekerumun penggemar, memainkan 45 menit musik yang ia nyanyikan dengan penuh perasaan. Ia menyanyi sambil mendekap erat tamborin dan memejamkan mata, sesekali memainkan maracas dan terus-terusan menari mengikuti perasaannya. Musik Stars and Rabbit, tarian tangannya yang mungil, dan lirik lagunya yang sedih, mengalun mengikuti gelombang hati seorang Elda yang mungil ini.

Dengan polos dan jujur berbagi suasana hati, mungkin itu salah satu kenikmatan yang dialami Elda dan Adi dalam bermusik. “Ketika kamu mendengarkan lagu itu dan kamu merasakan sesuatu, for me my mission accomplished.”kata Elda, sang penyanyi dan penulis lirik. Dia akan sangat puas jika lagu-lagunya yang bertemakan kehidupan cinta itu didengarkan orang dan orang tersebut jadi merasakan apa yang ia rasakan. Mungkin Elda dan Adi akan sangat bangga kalau ada yang mengaku mendengarkan “Worth It” saat jatuh cinta, memutar “You were the Universe” untuk menemani menangis saat patah hati, dan “Man up on the Hill” untuk mengenang cerita yang telah lalu. Menurut mereka, melihat sekerumunan orang ikut bernyanyi dengan sepenuh hati saat mereka manggung adalah penghargaan yang luar biasa. “I saw their happy faces dan itu priceless.” kata Elda mengomentari penonton yang baru saja mereka hibur di kampus FISIP Atma malam itu. “Itu booster yang luar biasa. Bikin kita selalu semangat lagi.”kata Adi.

Baru-baru ini mereka merilis “Live at Deus” via The Rolling Stones. Lima lagu tersebut disebarkan secara unduh gratis karena “…kami kan bukan band yang tiap bulan bisa manggung. Jadi biar temen-temen di kota lain,yang belum sempat kita datangi, juga kebagian lah.”kata Adi berbaik hati. “Live at Deus” terdiri dari lima lagu yang mereka mainkan di Deus, Bali, di sebuah gigs mendadak yang diadakan ketika mereka mendatangi pulau itu dalam sebuah tour Maret lalu. Sebenarnya rekaman lima lagu tersebut adalah dokumentasi biasa yang selalu mereka ambil ketika manggung. Kebetulan Wendy dari The Rolling Stones menyukai konsep mereka dan akhirnya merilisnya lewat platform unduh gratis di website majalah tersebut.

Setelah merilis EP live ini, mereka masih merasa punya PR untuk diri sendiri, yaitu merilis album mereka yang pertama. “Pertanyaan kapan albumnya keluar itu udah ngalahin pertanyaan kapan nikah deh,”kata Adi sambil terkekeh. “Kami ingin segera merilis album ini, tapi nggak mau terburu-buru juga. Karena ini album kami yang pertama, kami ingin semuanya sesempurna mungkin.”kata Elda. Menurut Adi, Elda lumayan rewel dalam hal pemilihan additional player, padahal mereka ingin semua elemen dalam lagu mereka nanti rekaman sungguhan, bukan sekedar sampling.

Terkadang pemilihan additional player yang cocok dengan gaya bermusik Adi dan bisa membuat Elda nyaman mengharuskan mereka berkorespondensi dengan orang-orang dari luar kota. Hal ini menambah repot pola produksi mereka yang berlangsung di Jogja dan Jakarta. Memang, walau Adi sudah menetap di Jakarta, Elda lebih memilih mondar-mandir Jogja-Jakarta daripada tinggal lama-lama di sana. “Stress!”katanya menggambarkan kehidupan ibukota yang tak tertahankan baginya.

 “Semuanya dikerjakan di Jakarta, soalnya sarana dan prasarana yang mumpuni ada di sana.” Kata Elda. Didit dari Dagobah Studio, orang di belakang layar yang paling berpengaruh dalam produksi musik Stars and Rabbit juga tinggal di ibukota. “Didit itu dulu gitarisku di Evo,”tutur Elda. Menurutnya Didit membantunya dan Adi mengeksplorasi musik Stars and Rabbit, membantu mereka menerjemahkan inspirasi-inspirasi yang terkadang absurd, dan mengawal mereka menemukan variasi-variasi yang masih dalam batasan benang merah musik mereka.

Menurut Elda, album pertama Stars and Rabbit akan seperti sebuah buku yang merekam satu fase hidup. Lagu-lagunya bercerita tentang kehidupan pribadinya, dan album itu akan merangkum kisah-kisah itu seperti buku cerita kumpulan dongeng. “Buku ini harus ditutup dulu. Fase hidup yang itu sudah selesai. Makanya album ini harus dikeluarkan karena saya harus membuat lagu-lagu baru lagi dengan mood baru, dengan lirik-lirik baru…”kata Elda. Merekam jejak langkah sendiri dengan karya memang sudah seperti kewajiban untuk mereka. Mereka sudah ingin segera membuat karya yang baru, yang bercerita tentang fase hidup yang baru, sementara rangkuman kisah hidup yang lama masih harus dipoles, diselesaikan, dan dipersembahkan pada pendengar yang menunggu.

Akan ada 10-12 lagu dalam album pertama mereka. Rencananya, mereka menyelesaikan aransemen lagu di bulan Desember ini. Setelah itu mereka akan memulai pra-produksi di awal tahun depan. “Cari player… cari studio…”tutur Elda dan Adi, menghitung-hitung apa-apa saja yang harus mereka kerjakan. “Kami jalan pelan-pelan, sambil belajar manajemen lah, soalnya kami ngerjain semuanya sendiri.”

Elda Suryani melepaskan diri dari kemapanan major label yang ia jalani bersama Evo, sebuah band all star yang posisi vokalnya ia menangkan di ajang Revolution di Indosiar lama berselang. Februari 2011 ia bertemu dengan Adi Widodo, dengan siapa ia mulai membuat musik di pertengahan tahun yang sama. Sangat berbeda dengan Evo yang megah dengan attitude rock star, duo ini hanya mengandalkan genjrengan gitar akustik yang mengiringi suatu kisah cinta yang dinyanyikan. Ketika harus diberi nama, mereka menamai unit musik ini Stars and Rabbit. “Sebenarnya itu nama akun twitterku, akun nyampah, yang ngomongin rumput, langit, hutan, hehehe…”aku Elda yang berkicau lewat akun @starsandrabbit itu.

Semua lagu Stars and Rabbit tercipta saat mereka berdua sedang iseng nongkrong berdua. Inspirasi bisa datang dari mana-mana dan kapan saja. Diinterupsi inspirasi bertubi-tubi dari waktu ke waktu pasti melelahkan. Selain kisah hidup yang harus didokumentasikan lewat lagu, mereka juga menyerap berbagai inspirasi nada dari musisi-musisi favorit mereka. Karena terlalu terbuka terhadap influens, Adi merasa bahwa lagu-lagu mereka jadi berbeda satu dengan yang lain. Ia menyebutkan Rabbit Run yang berbeda dari Old Man Finger, Man up on the Hill yang berbeda dari Worth It. Namun mereka memang tidak mau terjebak konsep genre. “Orang-orang menyebut kami folk pop. Mungkin itu yang paling menggambarkan musik kami, walau tidak tepat juga sih.”kata Elda. “Orang boleh nyebut apa aja. Kami hanya ingin main musik.”

Elda dan Adi memang jarang merepotkan diri mencari alasan mengenai keluaran musiknya yang begini atau begitu. Kenaifan dalam bermusik, perasaan yang tidak malu-malu diungkapkan dalam lirik, dan dandanan menggemaskan seperti peri hutan yang cantik menjadi ciri khas yang selalu dinantikan penontonnya. Mungkin kualitas estetis Stars and Rabbit terletak pada kepolosan dan kejujurannya, seperti seekor kelinci yang terpesona memandang bintang-bintang di atas bukit berumput.



Kamis, 15 Agustus 2013

KANALTIGAPULUH

Di sini saya mau mengangkat profil yang saya tulis untuk KANALTIGAPULUH, sebuah media alternatif yang webzine dan radio online-nya telah memberikan ruang bagi saya mengembangkan ide-ide kreatif.

agen KTP Jogja: Agung - Ogi - Gisa - Rendenk

agen KTP Malang: Julia - Komang - Benk - Dias


KANALTIGAPULUH adalah sebuah media alternative yang bergerak di budaya populer terutama di skena musik. Bermula pada ketertarikan akan musik-musik sidestream dan keinginan untuk menyediakan ruang yang cair bagi kawan-kawan musisi, Bangga Wiratama, Komang Adhyatma, dan Eko Marjani memulai sebuah radio online yang saat ini dapat diakses lewat www.kanaltigapuluh.info . Radio online yang dinisiasi pada tahun 2011 ini memiliki beberapa program yang mengarus setiap hari selama beberapa jam dengan fokus mengudarakan musik-musik unik dari dalam dan luar negeri yang jarang mendapatkan ruang di radio fm atau pun media massa yang lain, sekaligus mempromosikan karya-karya band-band lokal yang masih mencoba melebarkan sayap mereka.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya orang-orang yang terlibat di dalamnya, radio online ini mulai aktif di skena musik Malang, Yogyakarta dan Jakarta. Model siaran “bergerilya”, hanya menggunakan mixer dan tower berupa software SAM Broadcaster, membuat para penyiar dapat dengan mudah mengudara di area mana saja yang terjamah sinyal internet. Wujud studio untuk siaran sangat beragam, mulai dari kamar tidur pribadi penyiar sampai kedai kopi paling laris di kota tersebut. Interaksi dengan audiens pun bisa diatur dengan mudah, dari sesederhana mention-mention di twitter sampai tatap muka yang intens di gigs yang panas.

Program-program interaktif KANALTIGAPULUH sebagai radio online antara lain adalah Kanal Gembira Lokal, Lelagu, dan live streaming bekerja sama dengan berbagai event musik lokal. Konsep dasar Kanal Gembira Lokal (KGL) adalah mengundang sebuah band lokal yang sedang naik daun untuk diwawancarai dan memainkan lagu-lagunya dalam format akustik. Di masa-masa awal, KGL diudarakan secara sederhana dari kamar kos yang dihuni Komang di Yogyakarta. Saat ini KGL diselenggarakan sebagai event musik terbuka di café-café yang laris dikunjungi anak-anak muda. Sementara itu, Lelagu adalah program pertunjukan hasil kerja sama KANALTIGAPULUH dengan Kedai Kebun Forum yang menampilkan musik akustik berkolaborasi dengan pertunjukkan seni visual. Kedua acara ini disiarkan secara langsung secara live streaming. Karena konsistensinya, KANALTIGAPULUH pun sering digandeng oleh komunitas-komunitas lokal ataupun event organizer professional untuk menyiarkan suatu acara musik secara live streaming supaya dapat diakses secara maya oleh audiens yang tidak hadir di venue. Salah satu pencapaian live streaming terbaik adalah ketika KANALTIGAPULUH menyiarkan Japanese Whispers #2, Maret 2013, yang diakses oleh puluhan device dari Jepang.

Persinggungan KANALTIGAPULUH di skena musik Malang, Yogyakarta, dan Jakarta menimbulkan perkembangan pesat di tubuh radio ini. Segera, KANALTIGAPULUH juga berkembang menjadi webzine yang memuat gig report, review rilisan, dan berita-berita terkini seputar musik dan kegiatan-kegiatan budaya yang bersinggungan dengan skena musik di Yogyakarta, Malang, Jakarta, bahkan Indonesia. Segera, anggota badan KANALTIGAPULUH tidak hanya terdiri dari music director dan penyiar saja, namun juga reporter, editor, dan fotografer. Webzine ini meliput berbagai macam acara, dari gigs komunitas yang dihadiri segelintir penonton sampai festival musik high profile seperti Java Rockin’land. Laman jejaring sosial KANALTIGAPULUH (twitter dan facebook) juga telah diakui menjadi portal sounding yang efektif untuk mempromosikan acara-acara musik. Selain itu, KANALTIGAPULUH juga berkembang menjadi netlabel yang secara reguler merilis kompilasi lagu-lagu mutakhir karya musisi lokal yang dinamai KLOUDT.


KEMBALI KE TAHUN 1998 BERSAMA SUGAR RAY DI HARI KEDUA JAVA ROCKIN’LAND 2013



Sugar_Ray01
Suasana nostalgia yang sangat terasa di panggung-panggung Java Rockin’land 2013 seperti mengental di hari kedua festival, Minggu (23/6). Tak terkecuali saat Sugar Ray naik pentas di Indosat Main Stage pukul 22.15, ribuan penonton yang berkerumun di depan panggung sudah siap dibawa naik mesin waktu menuju tahun 90an kembali.
Panggung masih black out tapi penonton yang tidak sabar sudah berkerumun ketika lagu “Indonesia Raya” diputar. Kemudian satu persatu personel Sugar Ray: si kembar Justin dan Jesse Bivona, Rodney Sheppard, dan sang vokalis Mark McGrath berloncatan ke atas panggung dan langsung membawakan “Speed Home California”. Mengenakan jas putih di atas kemeja hitam dan selempang batik, Mark McGrath dengan energik bernyanyi sambil berinteraksi dengan penonton. Setelah lagu berakhir, ia melepas jasnya yang sudah basah oleh keringat.
McGrath terlihat sangat gembira dan bahkan hampir terharu melihat antusiasme penonton yang dengan histeris menyambut mereka. “Seharusnya kami datang lima belas tahun yang lalu!”ucapnya, “Di sini seperti kembali ke tahun 1998.”
Setelahnya penonton langsung dihajar dengan “Someday”, salah satu lagu Sugar Ray yang paling terkenal, dilanjutkan dengan “Under the Sun”, “Answer the Phone” dan “Every Morning” yang praktis membuat ribuan orang ikut bernyanyi bersama mereka. Di jeda lagu banyolan dialog antara Mark McGrath dan Rodney Sheppard terus mengundang tawa penonton. Penonton masih panas ketika mereka melanjutkan dengan “Is She Really” dan “Iron Mike”. McGrath dan si pemain bass Bivona dengan lincah berlari-lari melintasi panggung. Kemeja hitam McGrath sudah terlihat kuyup oleh keringat.
Di jeda lagu, terdengar samar-samar gaung permainan band metal, Jasad, dari panggung Tebs yang terletak beberapa ratus meter dari Indosat Main Stage. McGrath terlihat kaget mendengar permainan mereka yang cepat. “What’s going on there? Is that… Is that Slayer?”ujarnya keheranan, “Hey, what’s up Slayer?!” serunya ke panggung Tebs yang langsung ditanggapi dengan tawa para penonton. “Hey, they play loud!”serunya sebelum memparodikan geraman seram ala vokalis grindcore.
Mereka melanjutkan pertunjukkan dengan “Falls Apart”, “Summertime’s Comin’”, dan “When It’s Over”. Sayangnya mereka sempat terhenti di tengah ketika memainkan “Blister in the Sun”, pasalnya Rodney Sheppard tiba-tiba tumbang dan muntah-muntah di belakang panggung karena tidak enak badan. Untungnya setelah beberapa saat ia kembali lagi ke panggung dan mereka melanjutkan lagu tersebut dengan Sheppard harus duduk di level panggung. Tak seberapa lama, sang gitaris terlihat sehat kembali, bangkit berdiri dan mereka memainkan “Meat Machine” yang dimedley dengan cover “Blitzkrieg Bop” dari The Ramones yang sangat ikonik. Teriakan “HEY HO LET’S GO!!!” dari ribuan mulut bergema di seluruh area venue.
Setelah itu, panggung kembali black out dan keempat personel Sugar Ray rehat ke belakang panggung sejenak sebelum kembali lagi untuk menyanyikan “RPM”. Di akhir lagu, McGrath mengundang dua orang yang beruntung dari penonton untuk naik ke atas panggung untuk pertunjukkan bernama “The Sugar Ray Free Style Karaoke”. Dua penonton tersebut, Marcel dan Dimas, harus tahan dikerjai McGrath yang iseng menyuruh mereka berdansa “Gangnam Style” ala Psy dan menyanyikan “I Gotta Feelin’” dari Black Eyed Peas. Beruntungnya, mereka berdua mendapatkan kenang-kenangan berupa T-Shirt official Sugar Ray langsung dari McGrath sendiri. Sugar Ray langsung melanjutkan pertunjukkan dengan lagu pamungkas “Fly”.
Pertunjukkan Sugar Ray, sebagai salah satu dari yang paling dinanti di antara pertunjukkan-pertunjukkan lainnya, berhasil memuaskan penonton Java Rockin’land 2013. Mereka sukses menjadi puncak paket nostalgia 90an yang ditawarkan Java Festival Production tahun ini.(Gis)
Photo by: Komang Adhyatma

Diterbitkan oleh KANALTIGAPULUH, 26 Juni 2013

TAMPILKAN BAND-BAND LAWAS, PENONTON DIPUASKAN MEMORI PADA JAVA ROCKIN’LAND 2013 HARI KEDUA


Sugar_Ray01
Setelah sukses dengan penyelenggaraannya di hari pertama, hari kedua Java Rockin’land 2013, Minggu (23/6) juga berjalan meriah. Seperti hari sebelumnya, headliners hari tersebut juga disesaki band-band yang berjaya di tahun 90an seperti Gigi, /rif, Pas Band, dan yang ditunggu-tunggu, Sugar Ray.
Open gate hari itu dibuka lebih awal, yaitu pada pukul 14.00 dengan penampilan Aftercoma di Dome Stage dan Sentiment Al Moods di Camden Juice MVRCK Stage. Konspirasi tampil di Tebs Stage pukul 15.30 dan Pas Band naik pentas pukul 16.00 di Rockin’land Stage. Setengah jam kemudian J-Rock mempesona penonton di Chevrolet Stage. Gigi tampil memuaskan di panggung terbesar, Indosat Main Stage pukul lima lewat. Jumlah penonton yang berkerumun di depan panggung utama saat itu cukup besar dan semuanya tampak antusias menikmati nomor-nomor lawas dari Gigi seperti “Janjiku”, “Nirwana”, “Kuingin”, “Damainya Cinta”, dan “Jomblo”. Penonton kembali digiring menuju tahun 90an saat /rif tampil di Rockin’land stage saat petang turun. Istimewanya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo turut hadir dan menonton di tengah kerumunan massa yang menikmati lagu-lagu hits /rif seperti “Jenny”, “Johnny Esmod”, “Radja”, dan cover dari Ikang Fauzi “Preman-Preman”.
Sementara itu jagoan-jagoan berbagai macam genre menghibur pendengarnya di beberapa panggung yang berbeda. Pentolan indie pop lawas Rumahsakit menghibur beberapa ratus pemirsanya dengan intens di panggung indoor Dome Stage, Roxx tampil di Tebs Stage yang terbuka dan panas, The Milo tampil di Propaganda Stage di dekat deretan foodcourt.
Menjelang pukul 8, band indie rock elektronik Gossip tampil memuaskan di Indosat Main Stage. Vokalis bertubuh tambun tapi cantik, Beth Ditto, menyapa penonton dengan gayanya yang manja namun tajam, menyanyi dengan enerjik dan menjelajahi panggung dengan bebas tanpa mengenakan sepatu. “I have to change my clothes, otherwise I will die!” katanya setelah setengah jam tampil, “Jakarta is killin’ me!”katanya tentang cuaca yang panas. Ia mengganti gaunnya yang berkilauan dengan dress putih yang lebih sederhana setelah bersimbah keringat. Tetap saja, ia melanjutkan aksi panggungnya yang penuh tenaga. Di lagu terakhir, ia bahkan turun dari panggung, memanjat barikade dan langsung terjun ke kerumunan penonton sambil mengajak mereka menyanyi dan berjingkrakan bersama.
Setelah aksi Gossip yang panas, giliran penggemar indie rock dan power pop dipuaskan dengan band Australia Last Dinosaurs di Rockin’land Stage. Mereka memainkan lagu-lagu mereka seperti “Time and Place”, “Sunday Nights”, dan “Alps”. Sementara itu penggemar grind core memadati Tebs Stage demi Dead Squad, dan penggemar folk memadati Propaganda Stage untuk menikmati Endah ‘n Rhesa. Go Chic, kuartet perempuan galak dari Taiwan mempesona pendengar-pendengar baru mereka di Chevrolet Stage. Mereka bahkan sempat menyiram air mineral pada gerombolan fotografer yang mengabadikan aksi mereka karena mereka berprinsip lebih baik aksi musik mereka didengarkan dan dinikmati daripada jadi objek pemotretan.
Sebagian besar massa tersedot ke panggung Indosat Main Stage pada pukul sepuluh malam saat Sugar Ray naik pentas. “Happy birthday Jakarta!” seru Mark McGrath mengawali set mereka malam itu. Dia terlihat sedikit terharu melihat antusiasme massa yang menyambut mereka malam itu. Dengan penuh energi, Mark McGrath, Rodney Sheppard, dan duo kembar Bivona menghibur massa dengan lagu-lagu mereka yang tenar di tahun 90-an seperti “Answer the Phone”, “Someday”, “Every Morning”, “Falls Apart”, dan “Is She Really”. Banyolan-banyolan khas Mark dan Rodney menambah lucunya penampilan mereka. Walau Rodney sempat turun panggung sebentar karena tidak enak badan, pertunjukkan terus berjalan dengan apik. Bahkan mereka sempat mengerjai dua orang penonton yang disuruh naik ke atas panggung untuk “The Sugar Ray Free Style Karaoke” di mana mereka harus secara spontan menari Gangnam Style dan menyanyikan “I Gotta Feelin’” dari Black Eyed Peas.
Sementara itu, band grindcore Jasad tetap asik sendiri menghibur para penggemarnya di Tebs Stage. McGrath sempat heran mendengarkan musik keras dan cepat dari Jasad yang gaungnya terdengar sampai ke panggung Indosat Main Stage. “Is that Slayer? What’s up, Slayer!”serunya sebelum memparodikan gaya bernyanyi ala band-band grindcore yang seram. Seperti tidak mempedulikan hebohnya Sugar Ray di panggung utama, Andra and The Backbone, Monkey to Millionaire, dan Superglad juga menghibur penontonnya di panggung masing-masing yang tersebar beberapa ratus meter dari panggung utama. Yang cukup unik adalah penampilan solo Kikan yang khusus membawakan hits-hits female fronted yang tenar di tahun 90an seperti Alanis Morisette dan Natalie Imburglia. Panggungnya yang berada di tengah taman tertutup Segarra membuat show itu menjadi intens dan hangat dengan sejumlah penonton yang duduk-duduk santai di rumput.
Pamungkas yang tepat untuk rangkaian pertunjukkan Java Rockin’land memang penampilan Steelheart. Unit slow rock gaek ini dengan energik memainkan nomor-nomor andalan mereka selama satu jam di atas panggung Rockin’land. Miljenko Matijevic dkk seakan mengabaikan usia mereka dan menghajar penonton dengan “I’ll Never Let You Go”, “Everybody Loves Eileen”, dan cover dari Led Zeppelin “Black Dog”. Walau sempat terkendala sound di lagu pembuka “Blood”, mereka tetap tampil maksimal. Puncak acara adalah “She’s Gone” yang menjadi encore. Vokalis Matijevic turun dari panggung, memanjat barikade dan bernyanyi di tengah kerumunan penonton dengan vokal melengkingnya yang tak lekang oleh zaman. Setelah lagu selesai, satu set pertunjukkan kembang api akhirnya secara resmi menutup rangkaian acara Java Rockin’land tahun ini.(Gis)
Photos by: Komang Adhyatma
Diterbitkan oleh KANALTIGAPULUH, 26 Juni 2013