Tampilkan postingan dengan label jalan pulang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan pulang. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Agustus 2013

Menyusuri Jalan Pulang: Musik Sastrawi yang Wigati





Empat belas Februari 2013, di sebuah kedai kopi yang laris di Jalan Kaliurang, Yogyakarta, ada sebuah acara pameran yang agak lucu:Pameran Patah Hati. Anak-anak muda memamerkan artefak patah hatinya seperti barang-barang peninggalan mantan pacar atau hadiah-hadiah tak tersampaikan untuk mantan gebetan. Saya menghadiri acara tersebut bersama teman-teman, mencari sedikit kekonyolan di sela-sela kisah sedih orang lain untuk menghibur diri di malam Valentine yang hujan itu.

Di acara pameran itu juga tampil beberapa grup pertunjukan. Salah satunya adalah sebuah band yang namanya yang agak ganjil buat saya, Jalan Pulang. Komposisi mereka adalah seperti ini: dua orang vokalis: perempuan pemain keyboard dan laki-laki pemain gitar plus harmonika di depan, di latar belakang ada seorang pemain gitar, seorang pemain bass yang juga main glockenspiel, dan seorang pemain perkusi. Satu dua lagu sedih dan puitis mereka mainkan untuk penonton yang berkerumun di sekeliling area panggung itu, penonton yang sedang atau sedang pura-pura patah hati. Tapi yang benar-benar bikin saya rontok adalah ketika mereka memainkan lagu berjudul “Apa Daya”, karena di puncak lagu itu kelima personel tersebut bersama-sama menyanyikan keluhan “Apa daya….? Apa daya…? Saujana…” dengan sepenuh hati.

Jarang sekali bisa bertemu dengan sebuah unit musik yang elemen-elemennya fasih bermusik dengan seimbang. Banyak band yang personel-personelnya asyik sendiri dengan instrumen masing-masing sehingga yang menyatukan mereka hanyalah bahwa mereka memainkan lagu yang sama di nada dasar yang sama. Saya percaya bernyanyi bersama membuat sebuah band menjadi satu unit musik yang orang-orangnya sama-sama memiliki lagu tersebut dengan porsi yang sama. Pemain instrumen bukan sekedar pengiring vokalis, tapi mereka menangis dan tertawa bersama di lagu yang sama.

“Semua personel Jalan Pulang memang diharuskan bisa menyanyi.”kata Irfan, vokalis dan gitaris, ketika saya wawancarai bersama Dico, pemain bass dan glockenspiel. Mereka bercerita tentang para personel yang satu persatu memasuki band ini. Di tahun 2010, saat Jalan Pulang masih berupa konsep, Irfan menggubah beberapa lagu berdasarkan syair puisi yang ia tulis sendiri. Dia bekerja sama dengan Margi, pacar abangnya yang adalah guru piano. Beberapa saat kemudian, Dico bergabung sebagai pemain bass, pemain glock, dan backing vocal disusul Damar sebagai pemain lead guitar dan backing vocal. Kuartet ini pun mulai berjalan sebagai grup akustik balada.

Akustik balada memang adalah konsep yang diusung Irfan ketika ia memulai band ini. Saat itu Soundcloud dan Youtube sedang booming dan kemudahannya membuat banyak orang jadi terkenal karena menggarap cover version lagu-lagu terkenal dengan musik akustik yang sederhana. “Saya ingin menunjukkan bahwa musik akustik bisa berdiri sendiri tanpa perlu jadi cover version lagu-lagu lainnya.”kata Irfan.

Baru September 2012 ini Agung bergabung. “Dia di sini bukan berperan sebagai drummer, melainkan sebagai pemain perkusi yang harus bisa memainkan banyak macam instrumen perkusi. Ketika Agung masuk kami menggarap ulang aransemen lagu-lagu ini sehingga tetap tidak kehilangan unsur akustik dan folk-nya.” jelas Dico.

Dengan konsep akustik itu, mereka merekam tiga buah lagu demo berjudul “Jalan Pulang”, “Lagu Berdua”, dan “Lelah” yang kemudian mereka unggah di soundcloud. Namun peruntungan mereka berubah setelah mereka menggarap lagu mereka yang paling sedih dan paling apik, “Percakapan Tangis”. Dengan aransemen yang sedikit etnik, lagu ini mereka sertakan di Festival Musik Tradisi dari Forum Musik Tembi dan akhirnya masuk 7 besar lagu-lagu terbaik. Sebagai hadiah, mereka bisa merekam ulang lagu ini di Kua Etnika, diproduseri oleh Mas Purwanto sendiri, dan tergabung dalam Album Kompilasi Musik Tradisi Baru 2012. “Salah satu hal paling berkesan yang kami dapat selama ngeband dengan Jalan Pulang,”kata Dico dan Irfan sepakat.

Selama dibimbing Mas Purwanto merekam lagu ini, mereka merasakan asyiknya memproduksi lagu di sebuah studio yang terfasilitasi lengkap. Namun, kerumitan lagu ini membuat mereka malas memainkannya secara live. “Di lagu ini kami tukar-tukaran posisi, Dico main gitar dan vokal, Irfan main bass, dan gitar Damar harus distem ulang karena setelannya berbeda. Di sini Damar memainkan gitarnya seperti kecapi.”jelas mereka. “Setiap kali latihan untuk panggung berikutnya dan saya umumkan kalau lagu ini masuk setlist, semuanya mengeluh karena lagu ini memang susah dan repot sekali dimainkan saat live.”kata Irfan. Tapi karena banyak teman dan penggemar yang meminta lagu ini dimainkan, akhirnya mereka merancang ulang lagu ini dan memainkannya secara live. “Di sini Dico bernyanyi sambil tetap memainkan bass, Irfan tetap main gitar, tapi Damar tetap harus merubah scale gitarnya sih.”jelas mereka. Lagu ini dibawakan dengan format baru untuk pertama kalinya di Societet, TBY, Mei lalu. “Sekarang setelah menemukan format live-nya, kami malah merasa sangat menikmati membawakan lagu ini secara live,”ujar Irfan.

Jika kita menyimak lagu-lagu Jalan Pulang, kita akan melihat bahwa departemen liriknya penuh kata-kata poetik. Irfan sebagai penanggungjawab penulisan lagu memang mengakui bahwa dia sangat menggemari dunia penulisan puisi. Ia gandrung dengan penyair-penyair kenamaan tanah air seperti Acep Zamzam Noor dan Joko Pinurbo. “Saya juga mengagumi lirik-lirik lagu era Chrisye. Banyak orang bilang lagu-lagu seperti itu bahasanya sok tinggi dan sombong. Tapi menurut saya yang seperti itu malah ganteng dan elegan! Misalnya lirik-liriknya Guruh yang pakai Sanskrit.”katanya. Dengan bangun dasar literatur seperti itu, Jalan Pulang menyuguhkan musik yang sastrawi bagi pendengarnya.

“Saya selalu suka lirik buatannya Irfan,”kata Dico waktu saya tanya pendapatnya tentang lirik-lirik puitis yang harus ikut ia nyanyikan itu. Menurut Dico, menulis lirik berbahasa Indonesia yang baik itu susah, tapi Irfan bisa menuliskannya dengan baik tanpa menjadi terlalu eksplisit.

Selain syair yang dianggit sendiri, Jalan Pulang juga melagukan puisi-puisi penyair kesukaan Irfan. Mereka menggarap puisi singkat berjudul “Lagu Berdua” milik Acep Zamzam Noor. “Setelah lagu ini jadi, saya sempat berkorespondensi lewat FB dengan Acep. Dia sangat mendukung, malah membantu promosiin lagu ini ke penggemarnya lewat FB.” kata Irfan. Lagu ini juga mereka mainkan di acara ulang tahun rumah arsip seni IVAA, sebuah acara yang juga memanggungkan Joko Pinurbo. “Jokpin mengapresiasi gubahan puisinya Acep itu. Dia bilang kalau mau pakai puisi dia, pakai saja, nggak usah bayar. Nggak usah bilang ke dia juga boleh!” kata Irfan. Dia lebih girang lagi saat Jokpin menyatakan bahwa beliau menyukai syair-syair yang ia nyanyikan. “Dia bilang, ‘Ini yang bikin syair kamu sendiri? Ini menarik ini!’ hehehe…”ujarnya. Saat ini Jalan Pulang sedang menggarap pelaguan Winternachten milik Jokpin.

Menurut Irfan, Jalan Pulang sudah menjadi wadahnya untuk mengapresiasi karya orang lain dengan karyanya sendiri. “Menurut saya, kita harus membicarakan karya dengan karya. Dalam hal ini kami membicarakan karya sastra menggunakan musik. Kami membuat suatu karya musik untuk membicarakan suatu karya sastra.”katanya.

Jelas, bagi Irfan band ini sudah mendapatkan porsi prioritas yang tinggi. Bagaimana dengan personel lain? Ternyata Dico juga memikirkan hal yang sama. Untuk Dico, Jalan Pulang juga sudah menjadi band yang ia “miliki” dan “hidupi”. “Jelas, ini band yang akan saya ‘pelihara’. Kalau dipikir-pikir, proses pencarian kami masing-masing sampai menemukan Jalan Pulang itu panjang sekali. Berkali-kali gagal ngeband.”kenangnya sambil tertawa. Dico memainkan gitar dan bass dengan sangat fasih, tapi belum pernah serius dengan satu band saja seperti sekarang di Jalan Pulang. “Dulu sempat tergabung lama sama band pop punk elektronik. Itu… jaman kaos-kaos distro gambar monster!”katanya terkekeh. Sedangkan Irfan, yang notabene adalah adik dari Wiman personel Spider’s Last Moment, sempat beberapa kali manggung sebagai vokalis band metal. “Iya saya dulu metal. Tapi bandnya yang sekali manggung terus bubar, gitu.”katanya sambil terkekeh. “Damar juga belum pernah punya band tetap. Mbak Margi guru les piano. Kalau Agung memang bandnya banyak.”kata mereka. Agung memang eksis sebagai drummer di berbagai band di Jogja, misalnya Amnesiac Syndrome, Musim Penghujan, dan Sophia Sovia Stolka.

Lalu, kenapa Agung yang terpilih untuk jadi pemain perkusi? “Ya… sekali lagi karena teman dan teman. Kecuali Mbak Margi, kami semua satu fakultas di FISIPOL UGM. Selain itu karena Agung adalah pemain perkusi yang juga bisa nyanyi.”kata Dico. Irfan adalah senior Dico di Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan, sementara Agung dan Damar satu angkatan di Jurusan Sosiologi. Jalan Pulang adalah salah satu dari band-band scenester Jogja yang berasal dari FISIPOL UGM. Fakultas ini punya banyak sekali mahasiswa anak band yang eksis di skena musik Jogja. “Menurut pengamatan saya, memang, kalau kita ke acara musik mana pun di Jogja, pasti ada anak FISIPOLnya!”kata Dico.

Saat ini Jalan Pulang baru saja merilis merchandise mereka yang pertama, sebuah T-Shirt berilustrasi ikan salmon karya ilustrator dan crafter Jogja, Ojantos. “Ikan salmon itu ikan yang lahir di air tawar, tumbuh dewasa di laut, lalu ketika tua kembali ke air tawar tempat ia dilahirkan. Jadi ikan salmon itu ikan yang selalu mencari jalan pulang.”jelas Irfan. Selain itu, band ini juga sedang menyelesaikan album pertama mereka. “Nanti isinya sembilan sampai sepuluh lagu. Sekarang sedang mixing dan produksi. Rencana rilis akhir tahun ini.”kata mereka. Kegiatan rekaman dan manggung mereka sekarang agak terkendala jarak Jogja-Purwokerto, kota asal Irfan dan Margi. Walau personel yang lain tinggal dan kuliah di Jogja, Margi harus tinggal di Purwokerto karena dia mengajar di sana. “Kemarin Mbak Margi merekam part pianonya di Purwokerto.”kata Irfan sambil memperlihatkan video sesi rekaman piano itu.

Mereka menyadari bahwa grafik prestasi mereka merambat naik perlahan-lahan. “Butuh tiga tahun untuk rilis merch pertama dan membuat album pertama. Itu sehat buat kami. Pencapaian kami bertahap, bukan yang sekali meledak lalu bubar.”kata Irfan. “Kami sekarang merasa punya keharusan untuk lebih bertanggungjawab dengan aransemen, lebih bertanggungjawab dengan kemampuan kami memainkan instrumen, dan lebih bertanggungjawab dengan lagu itu sendiri.”kata Dico.

Sebelum bisa menikmati album mereka akhir tahun nanti, teman-teman bisa menikmati musik Jalan Pulang lewat https://soundcloud.com/jalan-pulang . Mungkin, seperti halnya saya, kalian juga akan merasakan nyamannya dituntun pulang lewat nada-nada mendayu dan baris-baris syair mereka yang syahdu.


saat pertama kalinya membawakan "Percakapan Tangis" dengan format live yang baru
Stage of Architecture di Societet TBY
Formasi akustik balada berempat

Saat mereka pertama kali manggung dengan formasi lengkap berlima di Titik Nol KM.

Koor backing vokal saat manggung di Pameran Patah Hati, pertama kalinya saya menonton mereka


Gisela Swaragita untuk Nobody Zine (2013)
download PDFnya via dropbox di sini:

https://www.dropbox.com/s/rzp1g9z1kz0acp8/Nobody%20Zine%203%20Agustus%202013.pdf

Rabu, 14 Agustus 2013

STAGE OF ARCHITECTURE 2013: RETURN “ARSITEKTUR LUPA INGATAN”

Sabtu (11/5) lalu adalah malam minggu yang dingin dan hujan di Jogja. Tetap saja, cuaca buruk tidak pernah menghalangi anak-anak muda kota ini untuk menikmati sajian musik. Paling tidak ada tiga event musik yang digelar di Jogja saat itu, dan salah satunya adalah Stage of Architecture 2013 “Return” dalam tema “Arsitektur Lupa Ingatan” besutan para mahasiswa teknik arsitektur Atma Jaya Yogyakarta. Event musik ini adalah puncak acara Sepekan Arsitektur oleh himpunan mahasiswa jurusan tersebut. Acara yang diadakan di gedung Societet kompleks Taman Budaya Yogyakarta itu memanggungkan nama-nama besar seperti Melancholic Bitch, Fonticello, Individual Life, dan Keroncong LA. Tak ketinggalan, band pop balada yang sedang ramai diperbincangkan, Jalan Pulang, dan grup neo-keroncong yang terjangkit virus 48, SAKA, juga meramaikan acara tersebut.
Memasuki gedung Societet, penonton dimanjakan berbagai fasilitas pertunjukan musik kelas menengah, mengimpaskan Rp 15.000 rupiah yang mereka bayarkan untuk selembar tiket. Pertama-tama masing-masing penonton diberi sebuah zine yang merupakan sejenis booklet panduan acara versi cutting edge. Zine lucu berjudul “Back to the Future” ini laris dibaca-baca para penonton yang datang lama sebelum acara dimulai demi mengokupasi tempat duduk di gedung teater tersebut. Memang, dalam acara satu ini para penonton didudukkan di kursi empuk berbeludru merah gedung pertunjukan tua itu. Kedua, para penonton dilarang membawa makanan, minuman, dan rokok di dalam gedung.Mungkin alasannya adalah kebersihan dan kenyamanan bersama, namun peraturan nonton band-band-an yang agak ketat ini malah memberikan kesan martabat pada acara ini. Ketiga, tata panggungnya terlihat megah dan “niat”, memanjakan mata para penonton sekaligus memudahkan tugas para fotografer.
Acara dibuka dengan sedikit seremoni pemberian hadiah pada mereka pemenang lomba fotografi yang karya-karyanya dipajang di lobi Societet.Selanjutnya, ketika mikrofon MC diambil alih oleh Ican Harem dan Ahmad Oka, acara musik yang pecah tapi tetap mencoba formal pun dimulai.Band pertama yang dihadirkan adalah Rukmakala, band glam-rock milik jurusan arsitektur sendiri yang terbentuk tiga minggu sebelum acara ini.Dua lagu keras dari mereka cukup menaikkan tensi pertunjukkan.Selanjutnya ada SAKA yang memainkan komposisi cak-cuk-bass-biola-pianika plus sentuhan akapela yang menawan tapi kocak.Mereka melagukan versi neo-keroncong dari ‘Baby Baby Baby’ milik JKT 48 dan sebuah lagu keren gubahan mereka sendiri bertajuk “Cakrawala”. Band dengan vokalis kribo itu selanjutnya memberikan panggung pada grup keroncong senior Keroncong LA. Agak mengejutkan melihat grup keroncong tulen yang terdiri dari bapak-bapak itu manggung di acara anak muda seperti ini.Grup ini memainkan lima tembang lawas, dan disetiap lagunya mereka menampilkan vokalis yang berbeda. Saat Keroncong LA melagu, screen di latar belakang panggung mulai menampilkan video dokumenter hitam putih tentang masa awal perkeretaapian di Indonesia. Penonton seolah ditarik ke masa lalu dengan gabungan musik dan video yang hampir terlalu vintage itu.
Akhirnya kemudaan kembali merajai panggung ketika Jalan Pulang naik pentas. Penonton dibikin menahan napas ketika lampu panggung yang redup perlahan menyoroti Irfan sang vokalis saat intro
“Lagu Berdua” mulai dimainkan. Selain lagu itu, mereka juga memainkan berbagai repertoire jagoannya seperti “Apa Daya” dan “Jalan Pulang”. Yang menarik, mereka akhirnya menunaikan permintaan berbagai kawan mereka yang meminta “Percakapan Tangis” dibawakan. Dico sang basis mengambil alih stand mike utama dan mereka pun memainkan gubahan lagu yang biasanya tidak mereka mainkan live itu. Atmosfer balada pertunjukkan mereka makin hidup karena layar di belakang mereka memainkan film hitam putih “Stella Maris”.
Setelah Jalan Pulang, panggung diberikan kepada Melancholic Bitch. Disinyalir, band yang namanya dicetak paling besar di poster ini dipanggungkan di tengah-tengah pertunjukkan karena Ugoran Prasad harus mengejar kereta kembali ke ibu kota pukul sebelas malam. Ditambah lagi Ugo terlihat agak gelisah karena tidak bisa merokok selama pertunjukkan di dalam gedung itu. Walau demikian, Melbi tetap sukses membakar gedung teater peninggalan jaman kolonial tersebut. Mereka sanggup menarik para penonton dan personel panitia untuk meninggalkan bangku dan pos masing-masing, dan akhirnya duduk memadati lantai di antara panggung dan kursi barisan terdepan.
Pesona Melancholic Bitch adalah bahwa mereka sanggup mengajak penonton untuk ikut larut dalam pertunjukan sebagai pelaku panggung juga. Sebagian besar penonton ikut bernyanyi dan berteriak ketika lirik-lirik kritis “Mars Penyembah Berhala”, “The Street”, “7 Hari Menuju Semesta”, dan “Akhirnya! Masup TV” dibawakan. “Adalah hal yang paling mengerikan ketika… kamu bangun tidur dan mendapati bahwa kamu… akhirnya masuk tivi!”koar Ugo sebelum menyanyikan lagu itu. Ketika “Nasihat yang Baik” dibawakan, ia duduk di pinggir panggung dan kemudian malah turun ke antara penonton dan membelai beberapa pipi mereka yang beruntung sambil menyanyikan lagu yang mendayu itu.
“Mbak namanya siapa?”tanya Ugo sebelum bait terakhir dinyanyikan pada seorang personel panitia bernama Gea yang duduk terpesona di lantai di depan panggung. “Gea ingin tidur… Gea lelah bermain seharian…”nyanyi Ugo memungkasi lagu itu membuat gadis tersebut tersipu dan dihujani sorakan teman-temannya. Melbi mengakhiri set pertunjukkan mereka dengan “Menara” yang selalu brutal dan total.
Setelah Melancholic Bitch mengakhiri pertunjukan mereka, giliran pemuda-pemuda gondrong dari Fonticello yang menggeber Societet dengan irama metal. Tiga pemain cello gahar dan seorang drummer handal membuka set Fonticello dengan “Sing for Absolution” dari Muse. Setelah lagu intro itu, seorang vokalis yang agak terlalu metal mengambil alih transfer energi dari band ke penonton. Mereka memainkan “What You Deserve” dari Il Nino dan “Killing in the Name” dari RATM. Setelah dua lagu itu, sang vokalis rehat sejenak ke backstage dan para pemain cello duduk di kursi untuk memainkan sebuah gubahan balada mereka sendiri yang berjudul “Fake”. Setelah itu, sang vokalis kembali melompat ke dalam panggung dan memungkasi set pertunjukan mereka dengan “Redneck” milik Lamb of God dan “Grace” milik Apocalyptica.
Setelah cello-rock, giliran Individual Life yang dramatis yang mengambil alih perhatian penonton. Walau sedikit terkendala masalah teknis, band instrumental ini masih sukses menghipnotis para penonton dengan megahnya pertunjukkan mereka. Total ada enam lagu yang mereka mainkan, termasuk “Paripurna” dan “Lalulalang”. Kebanyakan penonton mengaku terkesima disuguhi permainan suara yang
apik ditimpali video Baraka yang diputar di layar sebagai latar belakang. Bayangkan saja bagaimana transnya Anda ketika Individual Life memainkan “Metropolis” ketika latar belakangnya adalah tarian primitif ribuan tangan dalam Kecak Bali. Individual Life sukses memungkasi Stage of Architecture dengan apik dan memuaskan.
Entah apa yang melintas di pikiran para panitia ketika mereka menetapkan “Arsitektur Lupa Ingatan” sebagai tema besar acara sepekan mereka ini. Yang jelas, event musik di Societet pada malam minggu yang hujan itu sangat pantas untuk diingat.(GS)

Diterbitkan oleh KANALTIGAPULUH, 14 Mei 2013


Rabu, 27 Maret 2013

SEPULUH LAGU BAGUS YANG SAYA DENGARKAN MINGGU INI


SEPULUH LAGU BAGUS YANG SAYA DENGARKAN MINGGU INI adalah sepuluh lagu bagus yang saya dengarkan minggu ini. Mungkin bukan hits, mungkin bukan lagu baru, mungkin lagu lama yang barusan saja saya ketahui, mungkin adalah lagu lama yang dari dulu saya dengarkan, dan mungkin juga adalah lagu yang sama sekali baru. 
Daftar lagu-lagu ini disusun secara random, bukan ranking. 

Minggu ketiga bulan Maret 2013
 








“In the early morning, underneath the autumn shade. I don’t need no more reminding of the day. Now the leaves are falling and the sun won’t be around. And the words I am singing to the clouds.”
Saya selalu suka lagu sendunya The Vines, dan kalau ga salah di setiap albumnya The Vines selalu menyuguhkan lagu sendu berjudul Autumn Shade. Autumn Shade 3 atau A.S III ini adalah lagu The Vines yang paling nggerus buat saya, dan, walau ga ada hubungannya, selalu mengingatkan akan masa-masa tahun 2008 ketika saya masih maba dan terpesona melihat daun-daun pepohonan besar di realino berguguran di pagi hari.








“Kemanapun aku kan pergi ku kan slalu pulang ke hatimu. Ke manapun aku kan berjalan ke pelukmu lah ku kan singgah… Kurindu segera menghampar padang hijau yang tanpa risau.”
Mengingatkan pada saa punya Mama.








“See the dove making her nest feel the love at its best. See the squirrels up in a tree, be gentle and look for me. Papapapapapapapapapapparapapa… I love you and you love me.”
Ketika dua orang yang barusan jadian piknik di taman berumput empuk yang dikelilingi pepohonan rindang. Lalu melihat dua ekor tupai berkejar-kejaran.










“Kubisa tenggelam di lautan. Aku bisa diracun di udara. Aku bisa dibunuh di trotoar jalan. Kubisa dibuat menderita. Aku pun bisa dibuang tak bernyawa. Dikursilistrikkan ataupun ditikam. Tapi aku tak pernah mati! Tak akan berhenti!”
You can kill me but you can’t destroy me! \m/






“Are you coming baby eyes? It takes two to do the ocean… It takes two to the sky.”


6. April March – Cet Air-La



"Il restera cet air-là... À jamais au fond de moi... Car pour toujours cet air-là... Parlera de toi et moi"





“Aku bisa terbang, melayang ke awan, menghilang… datang dan pergi sendiri…”










Band ini jadi bintangnya di Japanese Whispers #2 kemaren. Selain ganteng-ganteng, musik mereka juga asik banget! Cider-cider ini enak banget didengerin di siang-siang sepanas minggu ini, sambil mengenang gembiranya bergabung di Japanese Whispers.

9. Tripping Junkie – B.E.T.A





“Pergi berpetualang ke dalam lubang hitam! Mencari jawaban di pikiranmu. Semua manusia sudah tercuci otak, tujuh keajaiban pun selesai di bangun, pasukan siap untuk menyerang, menghancurkan semua yang damai. Semua jawaban di benda terbang aneh.”
Entah kenapa mengingatkan  saya pada theme song kartun-kartun Jepang yang diputar hari minggu pagi. Terutama ninja Hatori. B.E.T.A adalah Benda Terbang Aneh, terjemahan oke dari U.F.O, Unidentified Flying Object








“I was following the pack all swallowed in their coats with scarves of red tied around their throats to keep their little heads from falling in the snow and I turned ‘round and there you go! And Michael you would fall and turn the white snow red as strawberries in the summer time.”
Cover jenius dari Fleet Foxes. Terdiri dari dua kalimat yang menggambarkan kematian seorang saudara laki-laki yang terpeleset salju dan terantuk batu.