Tampilkan postingan dengan label Auretté and The Polska Seeking Carnival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Auretté and The Polska Seeking Carnival. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Agustus 2013

EARTHERNITY FEST 2013: EARTH, PRAY, LOVE

Sebagai salah satu gig yang ditunggu-tunggu oleh penikmat musik Jogja di awal Juni ini, tidak banyak yang bisa diulas mengenai Earthernity Fest 2013 yang digelar Minggu malam (2/6). Festival tahunan Bengkel Kesenian Geografi UGM ini digelar di gedung ex-Purnabudaya UGM. Event ini memanggungkan Efek Rumah Kaca sebagai bintang utama, ditemani beberapa bintang tamu, band seleksi, dan penampil intern fakultas. Kabarnya sekitar seribu tiket presale dan on the spot ludes terjual demi pertunjukkan bertemakan “Earth, Pray, Love” tersebut.
Acara dibuka sekitar pukul delapan malam oleh penampilan Geovoice, kelompok paduan suara fakultas Geografi. Setelah itu ditampilkan dua band intern fakultas yang keduanya dinamai ERK: Efek Ra Tau Kuliah (efek tidak pernah kuliah) dan Efek Ra Duwe Konco (efek tidak punya teman). Parodi nama dari Efek Rumah Kaca ini cukup kocak, tapi kedua band tersebut ternyata bukan band parodi melainkan band top forty biasa. Setelah itu giliran band seleksi bergenre R ‘n B bernama Page Five disusul band seleksi kedua bernama Archi Blues yang naik pentas. Selama set penampilan itu para penonton yang mulai memadati gedung ex-Purnabudaya UGM hanya duduk di lantai gedung atau jajan di sekitar pintu masuk venue.
Titik jenuh penonton mulai memuncak malah ketika set bintang tamu dipanggungkan. Edelweiss gagal membangkitkan gairah penonton dengan cover version “We Are Young” milik Fun. Ketika giliran Wikan and the Avian Project memainkan beberapa lagunya seperti “Labirin” dan cover version “Viva La Vida” dari Coldplay, penonton hanya ikut bernyanyi lemah.
Penonton baru bangkit dan memadati bibir panggung ketika Aurette and the Polska Seeking Carnival naik pentas. Dua puluh lima ribu harga tiket masuk mulai terbayar impas ketika audiens ikut bertepuk tangan mengikuti nada intro “Seeking Carnival” milik Aurette yang dimedley dengan cover version “Postcards from Italy” milik Beirut. Belum berhenti penonton bertepuk tangan, Aurelle dan teman-teman mulai memainkan single mereka “I Love You More than a Pizza”. Terdengar beberapa penonton ikut menyanyikan bait-baitnya yang berbahasa Perancis disusul sing a long “So I love you more than a pizza…” di bagian refrain. Selanjutnya mereka memainkan “Lies in a Cup of Cappuccino” dan “Someday Sometime” sebelum memainkan cover version “You” dari Mocca.
“Sedikit curcol nih,”kata Tea sang vokalis yang waktu itu terlihat manis dengan dress biru, kalung salib kayu, dan bunga merah besar sebagai hair piece, “tahun 2010 lalu saya dan Aris (drummer) datang ke venue yang sama ini. Tidak di panggung, tapi sebagai penonton… di tempat teman-teman semua, menonton ERK juga. Makanya, senang sekali kali ini bisa sepanggung sama ERK.” Setelah itu mereka memungkasi penampilan mereka dengan “Wonderland” yang dimedley dengan “Nantes”. Penampilan mereka yang apik dan unik malam itu membayar kejenuhan audiens yang menanti pertunjukan yang sesungguhnya sejak awal malam yang hujan itu.
Tanpa banyak basa basi, Efek Rumah Kaca pun dipersilakan naik panggung. Cholil dkk mulai menyapa penonton dengan formasi Pandai Besi yang merekonstruksi beberapa lagu dari set list mereka. Dua penyanyi latar yang menimpali vokal Cholil sambil menari-nari trans menjadi pencuri fokus saat mereka membawakan “Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”, “Kenakalan Remaja di Era Informatika”, “Menjadi Indonesia”, “Jangan Bakar Buku”, “Laki Laki Pemalu”, “Debu-Debu Beterbangan”, “Melankolia”, dan “Sebelah Mata”. Formasi Pandai Besi muncul berganti-gantian dengan formasi konvensional Efek Rumah Kaca yang tampil maksimal dengan empat personel.
Total empat belas lagu digeber habis oleh Efek Rumah Kaca. Di setiap lagunya, vokal koor membahana penonton mengalahkan vokal Cholil sendiri, menunjukkan bahwa mereka yang menonton adalah para penggemar ERK. Pantas saja audiens bergeming dan cenderung bosan ketika disuguhi perunjukkan pop jazz dan top forty di depan tadi. Nyanyian bersama yang paling meriah terutama ketika mereka memainkan “Cinta Melulu” dan “Mosi Tidak Percaya” dengan liriknya yang kritis dan tajam.
Menyinggung kejadian Locstock minggu sebelumnya, Cholil mempersembahkan “Di Udara” untuk Bobby Yoga Kebo. Gedung pertunjukkan itu membahanakan koor audiens “..ku bisa dibuat menderita, ku bisa dibuat tak bernyawa, di kursi listrikkan atau pun ditikam… Tapi… aku.. tak pernah mati! Tak akan berhenti!” yang seakan memaklumkan abadinya nama Yoga Kebo di ranah musik Yogyakarta.
Mengabaikan teriakan penonton yang meminta “Desember” untuk dimainkan, ERK melempar “Balerina” dan “Efek Rumah Kaca” tanpa banyak kata. Baru ketika mengakhiri penampilannya mereka memainkan dua lagu melankolis jagoan mereka, “Lagu Kesepian” dan “Desember”. Penonton menanggapi kedua lagu tersebut dengan bernyanyi dengan keutuhan suara bulat, seakan-akan teriris tangis bersama-sama. Ada perasaan yang sangat unik ketika berada di antara penonton yang dengan bersemangat menyanyikan nada-nada aneh dan falseto ERK bersama-sama.
Terselamatkan oleh penampilan Aurette yang unik dan diberhasilkan oleh penampilan ERK yang menggetarkan, Earthernity Fest 2013 bisa menjadi pelajaran bahwa pengelompokan penonton menurut selera dengarnya memang penting demi suksesnya sebuah event. Terlebih lagi, acara musik dengan tiket yang dibanderol Rp 20.000 sampai Rp 25.000 bukan lah ruang untuk menguji coba band seleksi. Penonton berhak dipuaskan dengan pertunjukkan yang menarik dan terklasifikasi. Untungnya setelah pertunjukkan Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi malam itu, penonton bisa pulang di bawah hujan sambil masih tersenyum puas. (Gis)
Photos by: Randy Surya
Diterbitkan oleh KANALTIGAPULUH, 3 Juni 2013

GIG REVIEW:YOU AND ME LAWAN KORUPSI – TAMAN BERINGIN SOEKARNO, 16 MEI 2013

Kamis (16/5) adalah tengah minggu yang sibuk di kompleks paska-sarjana Universitas Sanata Dharma (USD). Hari itu serangkaian acara hasil kerjasama Indonesian Corruption Watch dan sekolah paska-sarjana Kajian Ilmu Religi dan Budaya USD sedang dilangsungkan. Acara-acara yang dimaksudkan untuk mendorong dan menggandeng anak-anak muda untuk terlibat aktif dalam pemberantasan korupsi ini terdiri dari pemutaran film, kuliah serta diskusi tentang isu-isu korupsi di Indonesia, dan diakhiri dengan konser musik di bawah pohon Beringin Soekarno yang ikonik. Acara-acara ini terselenggara dalam rangka Kampanye Hari Anti Korupsi selama 2011-2012 dan berlangsung di beberapa tempat di Indonesia, antara lain Jakarta, Bali, Pontianak, dan akhirnya Jogja.
Risky Summerbee, sebagai yang ditunjuk untuk mewujudkan rangkaian acara ini di Jogja, menyatakan bahwa ia memutuskan untuk menggandeng kampus IRB USD karena dipandang sebagai institusi pendidikan yang mumpuni dan “less dirty”, maka pantaslah jika diajak ramai-ramai mengusung tema anti korupsi. Bersama Romo Benny Hari Juliawan, seorang personel pengajar di IRB, Risky Summerbee dan timnya berhasil merangkaikan acara tersebut di bawah bendera besar “Berani Jujur, Hebat”. Tentang tema ini Risky menjelaskan, “Ini adalah tema Kampanye Hari Anti Korupsi kita selama dua tahun ini. Ide besarnya adalah menyadarkan kita bahwa berani jujur itu hebat. Jadi bukan hanya dengan tidak korupsi.”
“Selain itu IRB punya taman Beringin Soekarno ini.”lanjutnya mengimbuhi nilai plus dari sekolah paska-sarjana tersebut. Venue tersebut memang sangat unik, terdiri dari sebuah taman di tengah kompleks ruang kelas peninggalan zaman kolonial. Taman ini sangat teduh karena selain dikelilingi pohon-pohon, sebatang pohon beringin tua yang sangat besar dan rindang tumbuh di tengahnya. Pohon beringin raksasa yang ditanam oleh Bung Karno limapuluh tahun lalu itu terlihat ikonik terutama karena bentuknya yang berkeriapan dengan sulur-sulur dan akar-akar gantung yang saling melilit. Sayangnya venue yang menarik ini hampir asing bagi gig-goers Jogja karena biasanya tempat ini dikhususkan hanya untuk menghelat acara-acara internal kampus.
Tetap saja, sekitar pukul setengah delapan masa mulai memadati area depan beringin. Membayar tiket masuk sebesar Rp 20,000,- , audiens disuguhi musik dari Morfem, Risky Summerbee and the Honey Thief, Simponii, Iksan Skuter, Festivalist, dan Aurette and The Polska Seeking Carnival. Konser bertajuk “You and Me Lawan Korupsi” ini adalah perpanjangan tangan dari album kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus, album berisi lagu-lagu yang mengkampanyekan isu anti korupsi. Empat band yang disebutkan di depan adalah band-band yang tergabung dalam kompilasi tersebut, sementara Festivalist dan Aurette digandeng Risky Summerbee untuk ikut memeriahkan acara sebagai band tuan rumah.
Pukul delapan, Aurette membuka acara dengan suasana karnavalnya yang khas. Mereka membawakan beberapa lagu jagoan mereka seperti “I Love You More than Pizza” bersama beberapa lagu kover seperti “Postcard from Italy” milik Beirut dan “Siboh Kitak Nangis”-nya Zee Avi. Aurette mengakhiri sesi mereka dengan “Wonderland”. “Semoga Indonesia bisa menjadi Wonderland yang tanpa korupsi,”imbuh sang vokalis optimis.
Diiringi tepuk tangan meriah penggemarnya, Aurette memberikan panggung pada Simponii, sebuah band pop rock asal Jakarta yang lagu-lagunya sarat agenda propaganda tentang anti korupsi dan anti kekerasan terhadap perempuan. “Duabelas korban pemerkosaan sehari itu jumlah yang terlalu banyak. Saya punya saudara perempuan. Kamu punya saudara perempuan. Kita semua punya saudara perempuan. Kita wajib melindungi saudara-saudara perempuan kita dari kekerasan. Sudah saatnya kita mengajari para laki-laki untuk menghormati perempuan.”ujar sang vokalis.
Setelah itu giliran Iksan Skuter, pendekar bergitar asal Solo, yang menyanyikan nyanyian protesnya. Tiga lagu ia bawakan sambil berdialog asik dengan para penontonnya. Lagu yang paling memorable mungkin adalah “Partai Anjing” dengan lirik kuat yang menyindir habis para petinggi politik negeri ini. Setelah puas meneriakkan protes bersama Iksan, audiens dihajar musik garage Festivalist. Uniknya, penampilan Festivalis kali ini dibuka oleh seorang penyanyi jalanan yang mereka ajak berkolaborasi. “Barusan tadi kami culik dari jalan,”jelas Farid. Dalam pentasnya kali itu, Farid membuka suaranya dengan sepenggal syair tentang susah payahnya seseorang membangun pencitraan dan meraih ketenaran yang semu.
Setelahnya Festivalist memberikan panggung pada Risky Summerbee and the Honey Thief yang membawakan repertoire jagoan mereka, termasuk “Flight to Amsterdam” yang mereka persembahkan bagi kenangan akan Munir. RSTH juga mempersembahkan penampilan mereka pada kenangan akan Moses Gatotkaca, seorang mahasiswa yang gugur dalam kisruhnya kerusuhan menuju gerbang reformasi lima belas tahun yang lalu. Kebetulan nama Moses Gatotkaca diabadikan sebagai nama jalan di depan kampus Sanata Dharma.
Penonton yang tadinya duduk santai di pelataran taman akhirnya bangkit berdiri demi Morfem, dengan ikonnya Jimmy Multhazam yang melepaskan atribut disko warna-warninya. Jika band-band sebelumnya menitikberatkan kampanye antikorupsi dengan attitude yang serius, tajam, bahkan hitam, Morfem mengajak penontonnya untuk menyikapi korupsi dengan cara yang bengal tapi asik. “Kalau mereka bisa dapet cewe pakai duit, kita pikat cewe-cewe pakai pesona.”ujar Jimmy percaya diri. “Kalau band lain bisa dapet penggemar pakai skill, kita pakai pesona!”ujarnya lagi. Sesi Morfem sangat pecah, dibuktikan dengan merdunya para penonton sing along sambil stage diving di area yang dinaungi dahan-dahan pohon beringin itu. “Tapi Crowd Jogja memang Istimewa #RenunganMorfem” kicau @morfem_band tentang gig tersebut selepas acara.
Konser kecil besutan ICW dan IRB di tengah minggu itu memberi warna tersendiri dalam sibuknya Mei bagi para pemburu pertunjukan musik Jogja. Konser tersebut memperkenalkan Beringin Soekarno sebagai venue yang mumpuni dalam membangun atmosfer, sekaligus menyuguhkan agenda propaganda etika politik dalam bungkus musik pada anak-anak muda kota ini.
Text by: Gisela Swaragita 
Photos by: Komang Adhyatma | Yefta Gilbert
 Diterbitkan oleh KANALTIGAPULUH, 20 Mei 2013

Sabtu, 09 Maret 2013

Syarlothsita , Answer Sheet, dan Auretté and The Polska Seeking Carnival di Open House LIP, Sabtu 9 Maret 2013

Siang-siang, panas-panas, di hari Sabtu adalah waktu yang kurang tepat bagi seorang perempuan sendirian naik motor menuju sebuah gig. Tapi gig ini tidak mirip gig, melainkan sebuah panggung santai di teater mini tempat kursus bahasa Perancis yang asik banget, menampilkan tiga band pop paling manis di Jogja. Jadi saya datang dengan niatnya, dan bertemu beberapa teman di sana. Jam setengah empat pintu teater dibuka, dan kami mulai memadati tempat duduk yang disediakan. Saya duduk sama Matias dan Tata di tengah agak atas, salah satu tempat terbaik di teater itu.
Syarlothsita adalah band pop manis bentukan Kiki Tsalatsita dan suaminya Windo, di bantu seorang gadis kecil yang piawai memainkan gitar klasik. Kak Kiki, yang biasanya memainkan uke dan gitar, kali ini mengambil posisi yang agak terlalu multi-tasking: glockenspiel, harmonika, kerincing-kerincing di kaki, tamborin, triangle, piano kecil, dan entah apa lagi yang ia mainkan sambil bernyanyi. Walau agak repot, dia memilih porsi instrumen-instumen ini karena keadaannya yang habis operasi memustahilkannya untuk memainkan gitar, yang akhirnya dimainkan Windo.
Mereka memainkan empat, lima lagu yang lucu-lucu dengan judul-judul seperti 'Dearest John' dan 'Empty House'. Nada-nada dan dentingan instrumennya membuat saya jadi teringat pasar malam atau sirkus yang didatangi George, Julian, Anne, dan Dick di novel-novel Lima Sekawan. Sayang suara Kiki terdengar agak lemah, dan kelihatan agak kerepotan dengan banyaknya instrumen yang dia pegang. Anyway, mereka tampil bagus, dan saya pengen banget liat mereka main lagi.
Band kedua adalah Answer Sheet, band pop ukulele yang lagi hip banget di kalangan cewek-cewek SMA dan para maba. Ogi (uke 1), Karebet (uke 2), Abi (bass), dan seorang lagi di gitar elektrik, bisa menyuguhkan pertunjukan yang ooooookeeeeeee banget! Santai, adem, tapi sangat memuaskan. Kualitas bermain musik mereka sangat bagus, menurut saya, dan lagu-lagunya juga enak banget. Apalagi suaranya Karebet ganteng kayak boyband irlandia. Lagu-lagu kayak 'Stay Leave', 'Love beach, Sadranan', dan 'Riverside' bener-bener bisa bikin kita minta satu lagu lagi setelah mereka berpamitan. Di akhir pertunjukan, mereka memainkan satu lagu baru yang bagus banget tapi aku lupa judulnya :|
Yang terakhir main adalah Aurette. Mungkin band ini adalah yang paling banyak ditunggu sama penonton, terlihat dari antusiasnya dan hapalnya para hadirin dengan intro ala sirkus yang mereka mainkan. "Syalalalala..." sambil bertepuk tangan. Karena agak amazed sama beberapa instrumennya plus bentukan para personilnya yang unik banget, aku yang karena gak gaul baru sempet nonton Aurette sekarang, ikut-ikut aja tepuk tangan. Band ini emang unik, kayaknya belum ada yang kayak gini di Jogja. Kalo Syarlothsita tadi mengingatkan akan para anggota Lima Sekawan yang sedang menonton sirkus, Aurette mengingatkan saya akan rombongan sirkus karavan itu sendiri. Dengan bau-bau Eropa daratan tradisional, mungkin agak pantas kalau mereka menambahkan sepasang pantomim untuk lebih meramaikan pertunjukan lagi. Band ini anggotanya mungkin ada sekitar 10 orang, plus juru tepuk tangan dan suit-suitan yang menyaru jadi penonton. Sialan, oke bener band ini konsepnya. Vokalisnya perempuan, dengan kostum rok pendek, kemeja putih, stoking hitam, dan sepatu tinggi seksi, bisa bikin kita dumbstruck dengan suaranya yang Eropa banget dan kemampuannya memainkan akordeon, mandolin, dan gitar. Perempuan lain di dalam band adalah Aurelle, cewek cantik banget berkulit gelap, yang piawai memainkan uke dan keyboard. Personel lainnya adalah para laki-laki, ada pemain kajon yang jayus abis, pemain bass yang nyantai duduk di belakang, pemain perkusi yang mengawang-awang, dan pemain terompet yang oke banget. Lagu-lagunya yang paling memorable mungkin 'I Love You more than Pizza' yang berbahasa Perancis, dan something something 'Capucino'. 
Siang-siang ke LIP, sendirian, perempuan, jadi worthy untuk tiga band yang manis ini.
merchandise band yang laris manis, jualannya Mas Menus sama Dimas. Pengen beli kaos Last Kiss To Die of Visceroth tapi ga bawa duit :|
Syarlothsita
Answer Sheet
Aurette