Tampilkan postingan dengan label art. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label art. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juni 2014

Si Pembaca Ulung: Tentang Yonaz Kristy Sanjaya dan “Between Media and Other Stories”




Saya tidak suka membaca koran. Saya sungguh ragu dengan kebenaran yang disarikan setelah melalui perjalanan panjang dari peristiwa ke wartawan, wartawan ke editor, editor ke percetakan, dan kemudian disebarkan ke masyarakat. Koran yang hadir setiap pagi di setiap sudut kota tidak semerta-merta ada di tangan pengasong. Selain itu sebuah artikel saja bisa dibentuk-bentuk seperti lempung, sesuai kepentingan berbagai pihak yang terlibat dalam politik pencitraan. Koran adalah teknologi penyampaian berita yang sangat murah: kertas, tinta, bahkan upah wartawan ditekan sepenyet-penyetnya, sehingga dengan biaya produksi sekecil-kecilnya oplah per-edisi bisa sebanyak-banyaknya dan bisa terbit sering-seringnya. Bayangkan, sebuah produk tulisan masal yang hadir setiap hari! Menawarkan satu versi kebenaran pada masyarakat dan menyebutnya berita! Dia adalah jendela dunia bagi pembacanya, namun bukan jendela yang semerta-merta terbuka, melainkan jendela dengan kaca warna-warni yang mengklaim dirinya sendiri bening. Membaca koran di pagi hari bisa bikin saya klaustrofobik dan pening. Saya bisa merasa dikepung terlalu banyak berita yang dibuat buruk supaya jadi menarik. Lebih baik saya nyekrol instagram saja sambil menyeruput kopi pagi saya.

Namun ternyata saya tidak berbagi pendapat dengan Yonaz Kristy Sanjaya. Mahasiswa DKV ISI angkatan 2010 yang juga bekerja di departemen desain DGTMB ini baru saja mengadakan pameran yang berbahan dasar koran. Tidak tanggung-tanggung, ia berambisi membuat pengunjung pamerannya merasa masuk ke dalam koran!

Pameran tunggal pertamanya ini berjudul “Between Media and Other Stories” yang dipamerkan di Lir Space sebagai rangkaian program Ex Lab bersama 3 perupa muda lainnya. Karya utamanya adalah sebuah buku berisi kliping berita-berita koran yang ia respon secara artistik. Buku tersebut diletakkan di sebuah podium di tengah ruang galeri dan disorot lampu. Kemudian di seluruh ruangan, Yonaz menempelkan berbagai artikel berita yang kemudian juga ia respon dengan drawing. Di dinding yang satu ia menempelkan berita-berita tentang kasus pedophilia di sekolah internasional. Di dinding yang lain ia menempelkan berita tentang hilangnya pesawat terbang Malaysia beberapa bulan yang lalu. Di dinding lainnya ia menampilkan penderitaan TKI di luar negeri.

Yonaz adalah satu-satunya teman saya yang mengaku dirinya hobi baca koran secara intensif. “Saya sering beli koran di lampu merah. Kalau lagi ga punya uang tapi pengen baca koran, saya ke (warung) burjo untuk baca koran. Esok harinya koran itu akan saya minta.”katanya. Berita-berita yang menurutnya menarik ia koleksi dalam sebuah kliping yang kemudian ia respon dengan drawing. Lucu sekali, karena di antara berbagai hobi yang tersedia untuk anak-anak muda, Yonaz memilih membaca koran dan membuat kliping. Bahkan mengkonsumsi berita dengan media yang sekonservatif koran bagi saya sudah nyentrik. Yonaz hanya sesekali membaca berita online dan sama sekali tidak tertarik dengan berita di televisi.

Tentang kebenaran koran yang tendensius, menurut Yonaz “…itu yang bikin seru. Koran adalah yang bisa bikin saya riuh.” Membaca koran memantik Yonaz untuk membaca buku-buku atau referensi yang lain untuk mengejar kebenaran suatu peristiwa. “Selain itu saya juga sering membandingkan satu berita di berbagai media.”imbuhnya. Menurutnya sudut pandang yang berbeda bisa membuat penalaran dan penulisan yang berbeda pula. Yonaz membaca koran-koran termurah di Jogja, yaitu Tribun dan Kedaulatan Rakyat. “Tapi untuk karya ini saya membaca Kompas Tempo dan Jawa Pos juga.”ujarnya. Yonaz mengumpulkan berita-berita di koran selama 30 hari di bulan April dan menyajikannya di galeri untuk memperlihatkan betapa satu peristiwa bisa saling berkejaran dan ketika dimasukkan dalam sebuah ruang bisa bertumpuk satu sama lain.

Koran, bagi Yonaz, bisa menjadi bibit karya yang sangat kaya. Typografi, fotografi, dan tata letak koran menurutnya adalah bank visual yang menarik untuk diutak-atik. Ide ini malah tercetus dalam sebuah kecelakaan. Dulu ia pernah membuat karya dari kayu. Oleh tukang kayunya, karyanya dibungkus koran dan ketika dibuka, teks dari koran itu menempel di permukaan karyanya. “Tukang kayunya udah bingung waktu itu. Padahal menurutku, malah (karyaku menjadi tambah) bagus!”katanya.

Selain itu tekstur kertas koran yang semakin lama semakin menguning juga menarik untuknya. Ia mengibaratkan perubahan tekstur koran seperti itu sama menariknya seperti aroma lembaran halaman buku baru yang mengundang untuk dicium-cium.

Sayangnya ketika masuk ke dalam galerinya, saya tidak merasa masuk ke dalam koran. Kesan klaustrofobik dan dikejar-kejar oleh berbagai peristiwa buruk di dunia yang terus berputar ini tidak menyergap saya. Saya hanya merasa masuk ke dalam ruangan yang dindingnya adalah kliping. Tapi kata Yonaz, “…kalau pengunjung memang orang yang suka sama koran, mereka akan berhenti dan membaca setiap artikel. Mereka tidak akan melihatnya sambil lalu.” Mungkin, sayang sekali, saya adalah orang yang tidak mengharapkan masuk ke galeri untuk membaca berita di koran yang ditempelkan ke dinding. Saya lebih mengharapkan simulasi ruang yang penuh, ramai, riuh, dan kuning temaram seperti selembar koran itu sendiri. Tapi, sekali lagi, interpretasi rasa kan bisa berbeda-beda. Rasa yang saya alami dalam pengalaman membaca koran mungkin berbeda dengan orang lain.

Namun di luar saling silang kami tentang koran, saya merasa berbagi banyak kesamaan dengan Yonaz dalam kesukaan kami akan teks. Saya yakin, seperti halnya saya, Yonaz adalah orang yang tidak bisa tidak membaca. Dia orang yang menganggap penting lirik lagu, dia pengepul kutipan orang-orang ternama, dia juga belajar seni visual dari banyak membaca. Ia adalah pembaca ulung: ia membaca lalu merespon apa yang ia baca dengan membuat karya lain. Kata-kata dan maknanya adalah bagian dari karya seni rupanya. Belakangan ia membuat satu seri  berjudul Hidmessage. Dengan teknik Xerox transfer image dan ecoline di atas kertas ia menulis serta merespon lirik-lirik lagu favoritnya. Saya suka sekali seri ini karena saya juga orang yang agak terlalu menganggap penting lirik lagu.

Tentu saja Yonaz juga suka membaca buku. Buku favoritnya adalah Atheis karya Archiat Karta Mihardja, sebuah roman terbitan akhir 1940an yang pada masanya sempat menimbulkan ketegangan dari kelompok kiri Indonesia. Namun buku yang mendorongnya untuk terus belajar lewat membaca adalah sebuah buku tipis bersampul hitam yang sudah ia lupakan judul dan pengarangnya. “Sebuah buku tentang graffiti di Belanda yang saya baca waktu kelas 1 SMP.”ungkapnya. Buku itu sekarang sudah jadi mouse pad di rumahnya di Magelang, tapi buat dia buku itu menjadi awal mata rantai bacaan-bacaan lain yang lebih berat, yang membuatnya tersadar bahwa membaca dan belajar itu menyenangkan.

Efek samping dari gemar membaca adalah menulis. Walau tidak digeluti seserius membuat karya visual, Yonaz telah menulis zine sejak 2007. Berdalih bahwa menulis zine hanya kedok baginya untuk berkenalan dan mengobrol dengan orang-orang yang ia anggap keren, nyatanya selebrasi RARfunzine cukup ramai di komunitasnya.

Perkenalan Yonaz dengan jurnalistik adalah ekstrakurikuler mading yang ia ikuti saat SMA di Magelang. Menarik bahwa dari ekskul itu ia malah belajar banyak hal tentang visual. Dari situ ia belajar tata letak artikel yang ramah pembaca dan jenis font yang menarik untuk dibaca. Kemudian baru ia mengenal media alternatif bernama zine dari kakaknya yang juga seniman. Setelah kuliah di Jogja dan bekerja di DGTMB ia tertarik dengan fenomena komik fotokopi.

Jujur saja saya tidak terlalu suka dengan seni visual yang tekstual. Bagi saya terlalu banyak kata-kata di antara gambar membuat senimannya terkesan insecure dengan karyanya sendiri, seakan takut pesannya tidak disampaikan dengan baik jika tidak dengan kata-kata yang gamblang. Tapi Yonaz, menurut saya, adalah satu di antara sedikit mereka yang bisa membuat kata-kata dalam karya visualnya menjadi perlu. Bentuk dan susunan huruf beserta makna yang dihantarkannya adalah bagian penting dari karyanya, bukan sekedar catatan kaki. Dia adalah pembaca ulung, yang sedang berjalan untuk menjadi perupa yang baik.




Gisela Swaragita
untuk dimuat di RARFunzine edisi Juni 2014

Sabtu, 28 Desember 2013

Residensi Dina Danish: Perjumpaan yang Meninggalkan Jejak



Sepanjangtahun 2013 ada beberapa orang asing yang saya dampingi bekerja di Yogyakarta. Ada yang berasal dari Australia, Filipina, dan Mesir. Di antara mereka, Dina Danish dari Mesir adalah yang paling berkesan. Dina Danish adalah seniman konseptual dari Kairo yang telah tinggal selama 6 tahun di Amsterdam bersama tunangannya yang orang Perancis.Atas undangan Sarah Rifky, ko-kurator Biennale Jogja XII dari Kairo, Dina datang ke Jogja bersama Jean-Baptiste, tunangannya. Mereka tinggal di LAF selama 6 minggu. 

Keberadaan Dina dan JB (saya dan teman-teman lebih mudah memanggilnya JB daripada Jean-Baptiste) membuat saya menyadari betapa besar efek sebuah program residensi bagi seorang seniman dan orang-orang di sekitarnya.“Pada dasarnya saya membiarkan diri saya bereaksi terhadap lingkungan sekitar, dan membiarkan lingkungan sekitar bereaksi terhadap saya.”tutur Dina pada suatu sesi wawancara dengan Rony dari tim PMPSK. Dina sudah berkali-kali melakukan residensi di beberapa tempat di dunia, dan menurutnya yang paling baik adalah membiarkan segalanya spontan terjadi. “Sebelum berangkat saya tentu saja mencari informasi tentang vaksin dan imigrasi. Tapi saya tidak mencaritahu tentang hal-hal spesifik seperti sejarah politik dan keadaan budaya.Saya tidak ingin kesan saya terhadap kota ini terbentuk oleh apa yang saya baca. Saya lebih suka datang dan mengalaminya sendiri.”lanjutnya.

Setelah enam minggu berproses di sini, ia merasa Jogja seperti dunia pararel yang terpisah dari tempat asalnya. “Jogja adalah tempat yang sangat jauh.Saya tidak bisa menyamakannya dengan tempat lain di dunia.”katanya. Dina pernah tinggal di San Francisco untukbelajar, dan jarak kota itu ke Kairo sama jauhnya dengan jarak Kairo ke Jogja. “Tapi berada di Jogja sangat aneh. Berada di udara tropis, melihat orang-orang hidupdengan cara yang sangat berbeda dari cara kami, merasakan makanannya, segalanya… semuanya terlihat sangat normal bagi kalian, namun tidakbagi kami. Semuanya yang hanya kami lihat di film sedang kami alami sendiri.”katanya.

Satu hal yang menurutnya aneh sementara bagi kita normal adalah bahwa kita percaya pada pawang hujan. Kebetulan hari-hari pertama ia tiba di Jogja adalah ketika Keraton mengadakan upacara pernikahan agung putri Sultan. “Saya mengeluh tentang cuaca yang terlalu panas dan aneh. Kemudian Gisa mengatakan bahwa mungkin itu karena Sultan sedang mengadakan pesta pernikahan untuk putrinya. Menurutku itu sangat aneh karena hujan dan pesta pernikahan kan tidak ada hubungannya. Lalu Gisa mulai bercerita tentang pawang hujan.Semua orang di sini percaya bahwa pawang hujan dapat memindahkan hujan! BahkanAgung (Jennong, kurator Biennale), seorang yang sangat terpelajar dan memiliki akal sehat, percaya akan hal itu! Dan lebih anehnya lagi, it works! Hujan tidak turun selama pesta pernikahan agung dan setelahnya hujan turun lebat sekali.”

Dina mengaku, masalah pawang hujan ini membuatnya makin berpikiran terbuka. “It’s nice to stop being so narrow minded, to stop thinking reasonably and scientifically. Hal ini membuat saya belajar untuk tidak sinis tentang hal-hal baru. Bahkan jika ada cabang filsafat tentang magical thinking, saya akan menjadikannya minat baru.”ungkapnya. 

Tapimenurutsaya, Dina Danish dan JB memang sudah sangat berpikiran terbuka dari sononya. Sebagai sepasang seniman, mereka sudah seperti tim yang saling membahu dalam menyelesaikan proyek seni, mengeksplor daerah sekitar, dan bersenang-senang. Mereka sangat suka mencoba makanan baru, dari yang kelas atas sampai yang pinggir jalan. Mereka bisa naik bus umum ke Prambanansendiri tanpa saya (bahkan saya sendiri males kalau disuruh naik kendaraan umumnya Jogja ke Prambanan). Dengan google map di tangan, mereka mengarahkan sopir taksi ke Sarang Building ketika saya dan Pak Sopir gagal membaca Art Map keluaran tahun ini. Mereka bisa merencanakan liburan ke Bali selama tiga hari sendiri. Dengan sedikit arahan dari saya mereka bisa pergi ke Amplaz dan Jogja Tronik sendiri, bahkan berjalan-jalan di daerah Jalan Cenderawasih untuk melihat-lihat distro dan mengalami “Jogja Utara”.

Namun yang membuat Dina dan JB berkesan bagi saya adalah kemampuan mereka untuk berteman. Beberapa seniman asing bisa sangat menyebalkan dan arogan, sementara Dina dan JB, walau rewel dan perfeksionis masalah logistik karya, sangat ramah dan terbuka. Tidak hanya dengan saya, mereka bisa berteman dengan sahabat-sahabat saya di Biennale seperti Cecep, Vito, Indra, Irine, Mala, dan Alif. Kami hanya serombongan mahasiswa, masih di tengah early 20s crisis, coffee break lebih menarikbagi kami ketimbang diskusi kuratorial, tapi Dina dan JB bisa nyambung dengan kami dengan menyenangkan. Teman-teman saya ini bahkan dengan senang hati membantu saya mendampingi Dina dan JB walau mereka punya job-desk sendiri-sendiri di Biennale.

Seperti kebanyakan orang asing yang pernah tinggal beberapa minggu di Jogja, Dina merasakan betapa luar biasanya keramahan orang Jogja.“Semua orang di sini baik dan sopan.Salah satu hal yang paling saya nikmati di sini adalah interaksi dengan orang-orang.”katanya.

Menjalani sebuah program residensi di tempat yang begitu asing dan berbeda dari tempat asal adalah pengalaman yang memperkaya seseorang dengan cara yang begitu unik. Dina memberi contoh penampilan Tisna Sanjaya di upacara pembukaan Biennale Joga XII. Pak Tisna naik kora-kora yang diinstal di halaman JNM. Di haluan kora-kora ia membaca puisi sambil melempari penonton dengan bola plastik. Di buritan kora-kora seorang ustadz memberikan ceramah ala shalat Jumat. Sementara, kora-kora berayun dengan ganas, di bawahnya sekelompok kosidahan tradisional menari sambil menembangkan aji-ajian dari Al-Qur’an, dan hujan gerimis turun mengguyur semuanya.

“Kehebatan pertunjukan ini tidak bisa diceritakan atau ditonton lewat video.Kamu harus berada di sana untuk mengalaminya sendiri.”kata Dina. “Ada hal-hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata lisan, ada perasaan yang tidak dapat ditransfer lewat rekaman film.Kamu harus berada di sana dan merasakannya.”

Karya-karya batik yang ia pajang di LAF pun merupakan hasil residensinya. “Secara fisik, panitia Biennale telah memindahkan saya dari rumah ke sini. Jika saya tidak berada di sini, saya tidak akan menghasilkan batik-batik tersebut.”katanya. Menurutnya Lined Papers, karyanya di LAF, adalah hasil dari perpindahannya dari rumah di Amsterdam ke Jogja.

Selain itu, perpindahan dari rumah di Amsterdam, menetap di rumah sementara di LAF, dan perjumpaan dengan hal-hal baru yang aneh di kota asing ini membawa perubahan pada hati dan jiwa Dina. “Something in me has changed. Kota ini telah meninggalkan sesuatu bagi saya. Hal ini membekas di hati saya dan akan selamanya ada. Siapa yang tahu jejak apa yang saya tinggalkan di sini?”tuturnya.

Dina Danish dan seniman-seniman lain yang mengunjungi kota saya untuk residensi membuat saya iri. Project based trip adalah cara bepergian paling keren. Sebuah perjalanan bisa menjadi begitu kaya ketika kamu bisa meninggalkan jejak karya di tempat yang begitu jauh dari tempat asalmu, atau ketika karyamu membawamu keliling dunia, atau ketika menjadi asing di suatu tempat membuatmu menghasilkan suatu karya yang begitu unik. Tentu saja, yang memperkaya sebuah perjalanan bukan hanya apa yang dihasilkan, namun juga apa yang dilihat, dirasakan, dialami, dan dijumpai selama itu. Segalanya itu tidak dapat dialami sambil duduk di rumah dan membaca buku.



berdiskusi dengan Agung Jennong, kurator Biennale di Sarang Building

Menikmati pemandangan dari Studio Biru

Welcoming Dinner di LAF

Kamis, 19 Desember 2013

Dina Danish dan Keseleo Lidah: Kekonyolan yang Dipikirkan




Pada suatu sore di ruang kerjanya di LAF, Dina Danish, seniman Mesir yang sedang residensi dalam rangka Biennale Jogja XII, duduk dan berbicara dengan tiga orang dalam tiga bahasa yang berbeda: ia mengobrol dengan saya, asistennya, dalam bahasa Inggris; membalas sapaan Magdi Mostafa, seniman Mesir yang berbagi ruang residensi dengannya, dalam bahasa Arab; dan mendiskusikan sesuatu dengan tunangannya Jean-Baptiste Maitre dalam bahasa Perancis.

Dina Danish memang sangat internasional. “Saya menguasai 3,5 bahasa,”katanya, “Inggris, Jerman, dan Arab. Perancis yang setengahnya. Well, kalau kita anggap Arab Mesir dan Arab Klasik dua bahasa yang berbeda berarti saya bisa 4,5 bahasa.”katanya sambil tertawa.

Perempuan 32 tahun ini berkebangsaan Mesir, lahir di Paris, tinggal di Amsterdam, akan menikah dengan orang Perancis, dan mengenyam pendidikan Amerika serta Jerman. Minatnya terhadap bahasa terbentuk sejak SMA di mana ia belajar di sekolah berkurikulum Jerman di Mesir. “Di sekolah itu saya harus belajar dengan bahasa Jerman seakan-akan itu bahasa ibu saya.”kenangnya. Bagaimana manusia mempelajari dan menyikapi bahasa yang lain dari bahasa ibunya sendiri adalah sesuatu yang menarik untuk Dina Danish. “Bahasa adalah sarana komunikasi yang paling penting bagi manusia. Selain itu saya juga senang menulis.”tuturnya. Dina sekarang sedang menggarap sebuah buku tentang lelucon dari seluruh dunia. 

Perjalanannya ke berbagai tempat di dunia juga membawanya mengumpulkan berbagai produk bahasa dari kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Lelucon, takhayul, salah tafsir, pokoknya segalanya yang berhubungan dengan permainan kata-kata dan cerita menggugah rasa ingin tahunya. Semua itu kerap kali ia dekonstruksi dalam berbagai bentuk karya seni, entah itu lukisan, video, penampilan,fotografi,  atau instalasi. Bentuk seninya terkadang bisa jadi sangat lucu tapi membingungkan. Menurut Buku Panduan Biennale XII, ciri khas Dina Danish adalah memadukan seni konseptual dengan bahasa. Ia tidak membatasi jenis medianya untuk berkarya. 

“Saya selalu senang mempelajari media-media yang baru. Saya tidak pernah merasa satu media lebih penting dari yang lain,”katanya. “Gisa, keahlianmu adalah bahasa bukan? Untuk jadi ahli bahasa kamu harus terus belajar kosa kata baru. Nah bagi saya media seni adalah kosa kata, yang jumlahnya ada banyak dan harus terus saya pelajari.”jelasnya. Memang, saya menyadari bahwa saya tidak bisa menjawab ketika beberapa teman saya bertanya Dina itu seniman apa. “Lukisan? Foto? Video?”tanya mereka. Saya harus menjawab dia melakukan semuanya. 

Walau demikian, Dina memulai berkesenian dengan mempelajari lukisan di The American University in Cairo. Ia mendapatkan gelar S2 di San Francisco dalam bidang lukisan dan drawing. “Tapi selama kuliah S2 saya jarang sekali melukis,”katanya. “Everyone who made any painting is usually problematic.”ujarnya sambil tertawa. Menurutnya lulus kuliah seni dengan karya lukis itu sangat susah. “Saya membuat segalanya kecuali lukisan untuk lulus kuliah,”katanya. 

Maka, daripada membatasi diri pada media berkesenian, Dina Danish memilih mencirikan diri pada sebuah metode kerja yang unik. “Saya selalu mulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Saking sederhananya mungkin orang akan mengira itu suatu kekonyolan, kebodohan, atau kebanalan. Saya memberi perhatian pada sesuatu yang sangat sederhana, lalu mengeksplorasinya sejauh mungkin.” 

 Salah satu yang menjadi minat besarnya adalah tongue twisters, rangkaian kata-kata yang harus diucapkan dengan cepat sampai kita keseleo lidah. Pada hari-hari pertama ia bekerja di Jogja, saya memasang status di laman Facebook saya bahwa kami sedang mengumpulkan tongue twisters dari Indonesia. Responsnya luar biasa. Teman-teman mengirimkan tongue twisters yang mereka tahu dari bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Dari yang biasa saja sampai yang sulit, dari yang lucu sampai yang saru. Dina terutama tertarik pada “Kuku kaki kakek kaku-kaku”, “Satu tongkol, dua tongkol, tiga tongkol… sepuluh tongkol”, “Satu sate tujuh tusuk”, dan “Laler lare rolas”

“Kita bisa membuat banyak hal dari sini,”jelasnya dengan bersemangat siang itu di LAF. “Misalnya ‘tongkol’ ini. Kita bisa membuat sebuah lukisan ikan tongkol, satu di baris paling atas, dua di baris bawahnya, tiga di baris bawahnya lagi, sampai sepuluh tongkol di baris paling akhir.”

“Kuku kaki kakek kaku-kaku” terpatri dalam pikirannya karena bunyinya yang lucu, sedangkan bayangan visual “Satu sate tujuh tusuk,” menurutnya sangat menggelitik. Setelah mengumpulkan materi dan memikirkannya, Dina memutuskan akan membuat sebuah karya video dari “Satu sate tujuh tusuk” dan “Laler lare rolas”. Dalam video itu, sebuah kelompok koor akan menyanyikan “Sweet Child of Mine” yang liriknya diganti seluruhnya dengan “Satu sate tujuh tusuk” dan “I Dreamed a Dream” yang liriknya diganti dengan “Laler lare rolas”. Sebagai native speaker, saya disuruh mencoba menyanyikan gubahan kami itu. Saya benar-benar merasa konyol dan bodoh, terutama saat menyanyikan nada-nada sedih “I Dreamed a Dream” dengan “laler lare rolas”, namun Dina dan Jean-Baptiste memandang saya menyanyi dengan mata berbinar-binar seperti melihat gunung emas.

“Perfect,”katanya. “Kedua lagu tersebut sama-sama lagu yang familiar bagi orang-orang di seluruh dunia, maka ketika kamu menyanyikannya dengan lirik dari bahasa lain, keanehannya sangat terasa.”

Sayangnya proyek tongue twisters ini harus dibatalkan. Waktunya terlalu sempit dan biayanya mahal, sementara kami harus menyewa dan melatih sekelompok koor, mencari partitur dua lagu dan menggubah liriknya, menyewa studio untuk rekaman, menyewa tim film-maker, memproduksi setting, dan macam-macam lagi. “Tidak masalah. Kami tetap bisa menggunakan tongue twisters ini untuk hal-hal lain.”kata Dina. Sebagai gantinya, ia memamerkan video “The Sailor’s Shirt” yang ia buat di Amsterdam pada tahun 2011.

"The Sailor's Shirt" di Lantai 3 JNM, Biennale Jogja XII
Salah satu respons Dina terhadap tongue twisters. Bukannya mengucapkannya dengan cepat, Dina menuliskannya dengan cepat, lalu mengkoreksinya dengan warna yang berbeda.



Walau demikian, ide tongue twisters ini sangat unik dan menarik. Tongue twisters memenuhi kriteria “sederhana”, “konyol”, dan “banal”. Menurut Dina, kalimat-kalimat tongue twisters di seluruh dunia tidak memiliki konten yang penting. Arti dari kalimat “kuku kaki kakek kaku-kaku” memang sangat banal, tidak penting, dan bahkan konyol. Ketika ia meminta saya menerjemahkannya, saya bilang, “Grandfather’s toe nails are stiff.” yang tentu saja tidak jelas, tidak penting, konyol, dan bodoh. 

Menurut Dina, yang penting dari tongue twisters adalah trik pengucapan dan bunyi kata-katanya. Buat saya, “kuku kaki kakek kaku-kaku” konyol karena saya paham artinya, tapi untuk Dina, bunyinya sangat menarik. “Kukukakikaku… you know, just the sound of things. Nothing at all.” ujarnya. Bunyi bahasa yang menarik itu yang membuat tongue twisters susah diucapkan. Tongue twisters diciptakan supaya kita salah berucap. “They are meant to be failed at. Dalam bahasa apa pun. Mau itu bahasa ibumu, mau itu bahasa asing yang sudah sangat kamu kuasai, kamu akan selalu gagal mengucapkan tongue twisters. Seperti ‘laler lare rolas’. Kalimat ini sama susahnya buat kita berdua.”ujarnya. “The sound is bound to failure. The content is meaningless.” cukup banal dan konyol bukan?

“Jadi menurut saya, okay, kita memang ditakdirkan untuk gagal mengucapkan tongue twisters. Kenapa susah payah melakukannya?” tuturnya. Maka Dina Danish berupaya mencari alternatif pengganti pengucapan oral yang selalu gagal itu, supaya kita bisa berhasil dengan tongue twisters.

Dina menunjukkan salah satu video performance yang ia buat berdasarkan tongue twisters dalam bahasa Inggris “Yellow butter, purple jelly, red jam, black bread. Spread it thick, say it quick”. Dalam performance itu ada tiga atau empat aktor yang duduk di depan meja, mengolesi roti hitam dengan mentega, selai blueberry, dan selai strawberry, lalu memakannya dengan cepat. Aksi itu diulangi beberapa kali dengan tempo yang makin lama makin cepat. Lalu setelah selesai mereka langsung meninggalkan meja.

 “Give the meaninglessness a form.” Katanya ketika menguraikan inti dari proyeknya. Memberi bentuk kepada ketiadaan arti, entah dalam bentuk performance, lukisan, patung, nyanyian, dan lain sebagainya. Dengan memberi bentuk yang berarti pada kebanalan makna, Dina Danish merasa telah mengatasi kegagalan pengucapan oral. Selain itu, terciptalah suatu karya seni yang bisa berdiri sendiri pula.

Pengucapan oral dan bunyi suatu bahasa adalah salah satu unsur bahasa yang menarik bagi Dina Danish. “Sebelum kamu menguasai suatu bahasa, kamu harus membiasakan dirimu dengan bunyi dari bahasa tersebut.”ucapnya. Ia mengambil contoh seorang anak kecil yang baru belajar berbicara. Anak kecil tersebut akan memulai belajar bahasa dengan mendengarkan dan meniru suara. Setelah itu baru ia menggunakan bentuk-bentuk suara itu untuk menyampaikan makna, misalnya minta makan atau minum. “Yang menarik dari bunyi bahasa adalah cara pengucapannya. Pronunciation. Bagaimana kamu menggerakkan mulut dan lidahmu untuk mengucapkan kata-kata itu dengan benar. Pronunciation bisa menjadi sangat menarik ketika kamu sedang mempelajari bahasa baru. Ketika kamu benar-benar bisa menguasai bahasa tersebut, kamu bisa berbicara menggunakan bahasa tersebut tanpa aksen. Itu benar-benar sulit.”katanya. 

Masih terkait dengan bahasa, Dina Danish juga tertarik dengan bentuk tulisan dari kata-kata tersebut. “Bagaimana jika bentuk-bentuk huruf itu tidak bermakna? Hanya garis-garis dan bentuk, bukan? Hanya bentuk-bentuk yang saling terkait satu sama lain.” Katanya. Selain itu Dina juga tertarik dengan ragam bentuk wadah bahasa. Maka ia punya kebiasaan mengumpulkan kertas dari tempat-tempat residensinya di seluruh dunia. Kertas bergaris adalah bentuk wadah kosong yang menunggu untuk diisi produk bahasa. Karya batiknya, Lined Paper, yang dipajang di LAF pun juga merespon bentuk kertas dari buku-buku tulis yang ia beli di Jogja. 

Walau sangat tertarik dengan bahasa, Dina tidak belajar linguistik secara khusus. Ia mengambil kuliah wajib linguistik selama kuliah master, senang membaca dan menghadiri seminar tentang linguistik, namun tidak pernah mendalaminya. Karya seninya yang merespon bahasa lebih berakar pada pengalaman personal ketika ia terekspos suatu bahasa asing atau produk bahasa yang tidak biasa. Reaksi personalnya membuatnya lebih mudah dalam mendekonstruksi teks menjadi bentuk visual. “Bentuk teks dan visual saling mendukung. Tidak ada yang lebih penting dari yang lain.”tuturnya.

Bagaimana dengan tanggapan audiens karya seninya? Ketika mereka melihat hal-hal yang lumrah dan bahkan cenderung konyol dari kehidupan sehari-hari didekonstruksi dalam bentuk karya seni? “Kebanyakan tertawa,”kata Dina. Video-video performance-nya ganjil tapi menggelitik. Menurutnya, memang bentuk karya seninya berhubungan dengan bagaimana membuat orang tertawa. 

Bekerja dengan Dina Danish selama enam minggu merupakan pengalaman baru yang sangat berharga bagi saya. Saya, yang sama sekali bukan anak seni, jadi tahu bahwa seniman tidak hanya bisa mengkhususkan diri pada suatu media, namun bisa juga mengkhususkan diri pada konsep dan metode berkarya. Dina memberi perhatian khusus pada hal-hal konyol dan bodoh yang kita lakukan sehari-hari lalu mengeksplorasinya sejauh mungkin. Hal-hal tersebut ia ubah menjadi berbagai bentuk karya seni yang bisa membuat orang mengerutkan kening karena kebingungan atau mendengus tertawa karena kekonyolan yang ia tonjolkan.