Tampilkan postingan dengan label TBY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TBY. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Agustus 2013

HANGATNYA MOCCA DALAM MALAM PUNCAK FISTFEST 2013

Untuk kedua kalinya di paruh pertama tahun ini Mocca mampir ke Jogja. Setelah sukses berdansa bersama para swingingfriends di Grand Pacific Hall April lalu, Minggu (19/5) Mocca kembali menyapa para penggemarnya di Jogja dalam gelaran Fistfest 2013 di Concert Hall TBY. Acara ini adalah besutan tahunan mahasiswa FISIP Atma Jaya Yogyakarta, dan merupakan puncak rangkaian acara Fistfest yang terdiri dari berbagai event seperti pemutaran film, diskusi, dan berbagai perlombaan.
Tak ayal, Minggu malam itu kompleks TBY dipenuhi para hadirin yang siap menyaksikan komposisi Arina, Toma, Indra, dan Riko. Kompleks kumpulan gedung kesenian itu terlihat makin padat dengan anak-anak muda karena di ruang bawah Concert Hall TBY pun sedang ada event pembukaan pameran tugas akhir SMSR. Beberapa hadirin Mocca terlihat menonton pertunjukkan di panggung milik SMSR sambil menunggu open gate. Baru ketika waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam, ruang Concert Hall yang dibagi menjadi tiga kelas: Festival, VIP, dan VVIP mulai dipenuhi penonton. Acara dibuka oleh MC Alit dan adiknya Baskoro dengan berbagai guyonan mereka yang khas. Berbagai suguhan penampilan dihadirkan di muka acara sebagai pembuka, antara lain penampilan teater, drum band Atma Jaya yang telah masyur prestasinya, pom pom boys yang kocak, dan penampilan band kampus Mustika Maya.
Pukul 9 malam baru Arina dan kawan-kawannya naik panggung. Menggunakan gaun pink yang lucu plus hair piece warna senada yang menambahkan kesan childishnya, Arina menyapa penonton dengan mendendangkan “On a Night Like This” yang langsung meredam sorak sorai penonton karena suasananya yang mendayu. “In the case like this there’s a thousand good reasons I want you to stay…” ribuan penonton ikut membisikkan lirik bait terakhir itu. Belum habis tepuk tangan penonton, Mocca langsung memainkan “Telephone”, yang juga sendu namun lebih up beat. Baru setelah lagu kedua Arina menyapa penontonnya yang masih duduk manis di bangku masing-masing. Melihat banyak di antara penonton yang sudah mendekap pasangannya masing-masing, Arina melempar lagu cinta “I Love You Anyway”, tentang seorang gadis yang tetap sayang pada pacarnya walau dia tidak pernah ganti baju. Berturut-turut mereka memainkan “You Don’t Even Know Me”, “I Think I’m in Love”, dan “My Only One”.
“Di antara kalian ada yang menyempatkan datang dari luar kota?”tanya Arina kembali menyapa para penonton. Ia pun menyebutkan berbagai daerah di Indonesia untuk melihat dari mana saja kumpulan penonton malam itu berasal. Ternyata ketika kota Solo disebutkan ada banyak sekali penonton yang bersorak. “Pasti banyak juga nih teman-teman dari luar kota yang menetap di Jogja, misalnya untuk studi. Nah lagu berikut ini untuk teman-teman yang rindu sama orang tua di kampung halaman.” Ucap Arina sebelum memainkan “Hanya Satu”. Lagu yang sedih itu langsung disambar “Butterflies in my Tummy”, kemudian “I Remember” yang ceria dan disambut gaung sing along di seluruh ruangan, sebelum dilanjutkan oleh “This Conversation”.
“Nah, kalau lagu yang satu ini sudah kami bawakan sejak awal berdirinya Mocca sekitar tahun 2000 an.” Ucap Arina sebelum membawakan “Secret Admirer”, lagu yang membuat banyak orang jatuh cinta pada
Mocca di tahun 2002. Setelah “Secret Admirer”, Mocca membawakan “How Wonderful Life Could Be” yang mengakhiri set pertama malam itu.
Setelah rehat sejenak beberapa menit di belakang panggung, Mocca kembali naik ke atas panggung dan langsung memainkan “Listen to Me” yang dimedley dengan “What If”. Di lagu “Let Me Go” mereka menyuguhkan nuansa jazz sedih yang membuat hadirin merasa seperti berada di sebuah cafĂ© kecil di New York. “Kalau lagu yang satu ini khusus di-request oleh seorang swingingfriend di twitter. Katanya kalau saya bawakan lagu ini saya mau dikasih bakpia. Ini mana ya orangnya?” ucap Arina menggemaskan sebelum membawakan “You” yang disambung “The Object of My Imagination”.
“Nah di antara kalian mana yang baru sekali ini nonton Mocca?”tanya Arina. Ternyata lumayan banyak tangan yang terangkat di antara penonton. “Nah kalau nonton Mocca, ada aturannya. Aturannya ada di lagu ini. Kalian tirukan ya.” ujarnya sebelum membawakan “Do What You Wanna Do”. Dengan interaktif ia mengajak penonton ikut bernyanyi “You’ve got to do what you wanna do, say what you wanna say, do what you wanna do, don’t be afraid!” Namun suasana yang ceria itu langsung diturunkan ketika mereka memainkan “Hyperballad”. Banyak teman yang mengaku merinding ketika menyaksikan Mocca memainkan kover dari Bjork itu. Setelah itu berturut-turut “Lucky Me”, “The Best Thing”, dan “Happy” dimainkan sebelum mereka memainkan satu lagu kover lagi dari The Beatles, “I Will” yang diubah dari bernuansa sedih ke nuansa yang lebih ceria.
“Me and My Boyfriend” menjadi lagu pamungkas dalam set tersebut. Seluruh penonton dalam ruangan tersebut ikut bernyanyi sebelum melepas Mocca kembali ke belakang panggung. Setelah lagu itu berakhir, para penonton langsung bangkit dari bangku mereka. Sebagian langsung menuju ke pintu keluar, tapi lebih banyak lagi yang tetap di tempat sambil meneriakkan “Encore! Encore!”
Keinginan audiens terjawab ketika drum kembali dipukul, dan para personel kembali ke spot masing-masing demi menyanyikan “Life Keeps on Turning”. Penonton berhamburan menuju area depan panggung sehingga sesi encore itu menjadi intim, hangat, dan pecah sekaligus meriah. Beberapa penonton yang beruntung dipersilakan Arina untuk naik ke atas panggung dan berdansa bersamanya dalam “Bundle of Joy” sambil kemudian berfoto-foto bersama. Di sesi tersebut Arina juga sempat menerima sekotak bakpia yang dijanjikan oleh penggemarnya di twitter. Akhirnya “Swing It Bob” benar-benar mengkahiri sesi konser tunggal tersebut.
Dalam penampilan malam itu, Mocca tampil maksimal selama kurang lebih dua jam. Total mereka memainkan duapuluh empat lagu dalam dua set pertunjukkan plus tiga lagu encore yang mampu memuaskan penggemar mereka di Jogja. Setelah ini Mocca akan menunaikan satu lagi konser di Medan, sebagai pungkasan rangkaian gig Mocca yang dipadatkan selama Arina masih di Indonesia.
Text by: Gisela Swaragita | Photos by: Randy Surya


Diterbitkan oleh KANALTIGAPULUH dan website resmi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 21 Mei 2013
http://fisip.uajy.ac.id/2013/05/23/hangatnya-mocca-dalam-malam-puncak-fistfest-2013/

STAGE OF ARCHITECTURE 2013: RETURN “ARSITEKTUR LUPA INGATAN”

Sabtu (11/5) lalu adalah malam minggu yang dingin dan hujan di Jogja. Tetap saja, cuaca buruk tidak pernah menghalangi anak-anak muda kota ini untuk menikmati sajian musik. Paling tidak ada tiga event musik yang digelar di Jogja saat itu, dan salah satunya adalah Stage of Architecture 2013 “Return” dalam tema “Arsitektur Lupa Ingatan” besutan para mahasiswa teknik arsitektur Atma Jaya Yogyakarta. Event musik ini adalah puncak acara Sepekan Arsitektur oleh himpunan mahasiswa jurusan tersebut. Acara yang diadakan di gedung Societet kompleks Taman Budaya Yogyakarta itu memanggungkan nama-nama besar seperti Melancholic Bitch, Fonticello, Individual Life, dan Keroncong LA. Tak ketinggalan, band pop balada yang sedang ramai diperbincangkan, Jalan Pulang, dan grup neo-keroncong yang terjangkit virus 48, SAKA, juga meramaikan acara tersebut.
Memasuki gedung Societet, penonton dimanjakan berbagai fasilitas pertunjukan musik kelas menengah, mengimpaskan Rp 15.000 rupiah yang mereka bayarkan untuk selembar tiket. Pertama-tama masing-masing penonton diberi sebuah zine yang merupakan sejenis booklet panduan acara versi cutting edge. Zine lucu berjudul “Back to the Future” ini laris dibaca-baca para penonton yang datang lama sebelum acara dimulai demi mengokupasi tempat duduk di gedung teater tersebut. Memang, dalam acara satu ini para penonton didudukkan di kursi empuk berbeludru merah gedung pertunjukan tua itu. Kedua, para penonton dilarang membawa makanan, minuman, dan rokok di dalam gedung.Mungkin alasannya adalah kebersihan dan kenyamanan bersama, namun peraturan nonton band-band-an yang agak ketat ini malah memberikan kesan martabat pada acara ini. Ketiga, tata panggungnya terlihat megah dan “niat”, memanjakan mata para penonton sekaligus memudahkan tugas para fotografer.
Acara dibuka dengan sedikit seremoni pemberian hadiah pada mereka pemenang lomba fotografi yang karya-karyanya dipajang di lobi Societet.Selanjutnya, ketika mikrofon MC diambil alih oleh Ican Harem dan Ahmad Oka, acara musik yang pecah tapi tetap mencoba formal pun dimulai.Band pertama yang dihadirkan adalah Rukmakala, band glam-rock milik jurusan arsitektur sendiri yang terbentuk tiga minggu sebelum acara ini.Dua lagu keras dari mereka cukup menaikkan tensi pertunjukkan.Selanjutnya ada SAKA yang memainkan komposisi cak-cuk-bass-biola-pianika plus sentuhan akapela yang menawan tapi kocak.Mereka melagukan versi neo-keroncong dari ‘Baby Baby Baby’ milik JKT 48 dan sebuah lagu keren gubahan mereka sendiri bertajuk “Cakrawala”. Band dengan vokalis kribo itu selanjutnya memberikan panggung pada grup keroncong senior Keroncong LA. Agak mengejutkan melihat grup keroncong tulen yang terdiri dari bapak-bapak itu manggung di acara anak muda seperti ini.Grup ini memainkan lima tembang lawas, dan disetiap lagunya mereka menampilkan vokalis yang berbeda. Saat Keroncong LA melagu, screen di latar belakang panggung mulai menampilkan video dokumenter hitam putih tentang masa awal perkeretaapian di Indonesia. Penonton seolah ditarik ke masa lalu dengan gabungan musik dan video yang hampir terlalu vintage itu.
Akhirnya kemudaan kembali merajai panggung ketika Jalan Pulang naik pentas. Penonton dibikin menahan napas ketika lampu panggung yang redup perlahan menyoroti Irfan sang vokalis saat intro
“Lagu Berdua” mulai dimainkan. Selain lagu itu, mereka juga memainkan berbagai repertoire jagoannya seperti “Apa Daya” dan “Jalan Pulang”. Yang menarik, mereka akhirnya menunaikan permintaan berbagai kawan mereka yang meminta “Percakapan Tangis” dibawakan. Dico sang basis mengambil alih stand mike utama dan mereka pun memainkan gubahan lagu yang biasanya tidak mereka mainkan live itu. Atmosfer balada pertunjukkan mereka makin hidup karena layar di belakang mereka memainkan film hitam putih “Stella Maris”.
Setelah Jalan Pulang, panggung diberikan kepada Melancholic Bitch. Disinyalir, band yang namanya dicetak paling besar di poster ini dipanggungkan di tengah-tengah pertunjukkan karena Ugoran Prasad harus mengejar kereta kembali ke ibu kota pukul sebelas malam. Ditambah lagi Ugo terlihat agak gelisah karena tidak bisa merokok selama pertunjukkan di dalam gedung itu. Walau demikian, Melbi tetap sukses membakar gedung teater peninggalan jaman kolonial tersebut. Mereka sanggup menarik para penonton dan personel panitia untuk meninggalkan bangku dan pos masing-masing, dan akhirnya duduk memadati lantai di antara panggung dan kursi barisan terdepan.
Pesona Melancholic Bitch adalah bahwa mereka sanggup mengajak penonton untuk ikut larut dalam pertunjukan sebagai pelaku panggung juga. Sebagian besar penonton ikut bernyanyi dan berteriak ketika lirik-lirik kritis “Mars Penyembah Berhala”, “The Street”, “7 Hari Menuju Semesta”, dan “Akhirnya! Masup TV” dibawakan. “Adalah hal yang paling mengerikan ketika… kamu bangun tidur dan mendapati bahwa kamu… akhirnya masuk tivi!”koar Ugo sebelum menyanyikan lagu itu. Ketika “Nasihat yang Baik” dibawakan, ia duduk di pinggir panggung dan kemudian malah turun ke antara penonton dan membelai beberapa pipi mereka yang beruntung sambil menyanyikan lagu yang mendayu itu.
“Mbak namanya siapa?”tanya Ugo sebelum bait terakhir dinyanyikan pada seorang personel panitia bernama Gea yang duduk terpesona di lantai di depan panggung. “Gea ingin tidur… Gea lelah bermain seharian…”nyanyi Ugo memungkasi lagu itu membuat gadis tersebut tersipu dan dihujani sorakan teman-temannya. Melbi mengakhiri set pertunjukkan mereka dengan “Menara” yang selalu brutal dan total.
Setelah Melancholic Bitch mengakhiri pertunjukan mereka, giliran pemuda-pemuda gondrong dari Fonticello yang menggeber Societet dengan irama metal. Tiga pemain cello gahar dan seorang drummer handal membuka set Fonticello dengan “Sing for Absolution” dari Muse. Setelah lagu intro itu, seorang vokalis yang agak terlalu metal mengambil alih transfer energi dari band ke penonton. Mereka memainkan “What You Deserve” dari Il Nino dan “Killing in the Name” dari RATM. Setelah dua lagu itu, sang vokalis rehat sejenak ke backstage dan para pemain cello duduk di kursi untuk memainkan sebuah gubahan balada mereka sendiri yang berjudul “Fake”. Setelah itu, sang vokalis kembali melompat ke dalam panggung dan memungkasi set pertunjukan mereka dengan “Redneck” milik Lamb of God dan “Grace” milik Apocalyptica.
Setelah cello-rock, giliran Individual Life yang dramatis yang mengambil alih perhatian penonton. Walau sedikit terkendala masalah teknis, band instrumental ini masih sukses menghipnotis para penonton dengan megahnya pertunjukkan mereka. Total ada enam lagu yang mereka mainkan, termasuk “Paripurna” dan “Lalulalang”. Kebanyakan penonton mengaku terkesima disuguhi permainan suara yang
apik ditimpali video Baraka yang diputar di layar sebagai latar belakang. Bayangkan saja bagaimana transnya Anda ketika Individual Life memainkan “Metropolis” ketika latar belakangnya adalah tarian primitif ribuan tangan dalam Kecak Bali. Individual Life sukses memungkasi Stage of Architecture dengan apik dan memuaskan.
Entah apa yang melintas di pikiran para panitia ketika mereka menetapkan “Arsitektur Lupa Ingatan” sebagai tema besar acara sepekan mereka ini. Yang jelas, event musik di Societet pada malam minggu yang hujan itu sangat pantas untuk diingat.(GS)

Diterbitkan oleh KANALTIGAPULUH, 14 Mei 2013